Perkembangan Terkini di Selatan Suriah: Israel Usir Penduduk dan Duduki Wilayah Strategis
POROS PERLAWANAN – Rezim Zionis Israel terus memperluas cengkeramannya di selatan Suriah melalui operasi pengosongan desa-desa dan kota-kota di sekitar Quneitra, serta menduduki wilayah strategis, termasuk situs bersejarah dan jalur penghubung antara Damaskus dan Beirut.
Menurut laporan dari sumber lokal pada Kamis 19 Desember, pasukan Israel terlihat bebas bergerak di provinsi Quneitra dan Daraa. Sejak jatuhnya Damaskus pada 8 Desember, Militer Israel dilaporkan telah menduduki sekitar 500 kilometer persegi wilayah Suriah.
Pengusiran Penduduk Secara Paksa
Saluran televisi Al-Arabi melaporkan bahwa pasukan Israel telah memaksa penduduk di pinggiran Quneitra untuk meninggalkan rumah mereka dan kemudian melarang mereka kembali.
Contohnya, beberapa hari lalu, Militer Israel memasuki desa Rasem Al-Rawazi di wilayah Quneitra dan memerintahkan warga untuk mengosongkan rumah mereka hanya dalam waktu satu jam. Penduduk yang terusir kemudian bergerak ke kota Quneitra. Namun, meskipun telah terjadi negosiasi antara warga dan pasukan Pendudukan, Israel tetap tidak mengizinkan mereka kembali.
Di wilayah selatan Quneitra, desa Saida Al-Golan dan Saida Al-Hanout juga menjadi sasaran. Pasukan Israel melakukan pencarian rumah ke rumah dan menekan warga untuk pergi, tetapi mereka menolak meninggalkan rumah mereka. Kini, penduduk kedua desa berada dalam kondisi pengepungan.
Blokade dan Penjarahan Situs Bersejarah
Pasukan Israel juga menyerbu desa-desa di utara Quneitra, termasuk desa Al-Hamidiya, yang saat ini dalam blokade ketat. Bantuan kemanusiaan dari Palang Merah Suriah telah berulang kali dicegah masuk oleh Israel, membuat kondisi penduduk semakin memburuk.
Jaringan Al Jazeera melaporkan bahwa desa-desa seperti Saida, Abidin, dan Maaraba juga telah berada di bawah kendali pasukan Israel. Selain itu, pasukan Zionis kembali memasuki kawasan Tel Aqasha di Dataran Tinggi Golan dan bergerak menuju desa kuno Breqa di wilayah Quneitra.
Ekskavasi dan Ancaman Terhadap Situs Bersejarah
Sumber lokal menyebutkan kekhawatiran yang meningkat atas upaya Israel untuk menjarah situs-situs bersejarah di wilayah tersebut. Sejumlah arkeolog, yang mengenakan seragam Militer Israel, terlihat melakukan aktivitas ekskavasi di lokasi-lokasi penting.
Pasukan Israel juga dilaporkan semakin mendekati jalan internasional yang menghubungkan Damaskus dengan Beirut, hanya berjarak 12 kilometer dari jalur tersebut.
Instruksi Netanyahu
Radio Militer Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benyamin Netanyahu telah menginstruksikan pasukan Pendudukan untuk tetap berada di wilayah Jabal Al-Sheikh dan zona penyangga Suriah hingga akhir 2025.
Langkah agresif ini meningkatkan ketegangan di wilayah yang sudah lama berada dalam konflik dan menimbulkan kekhawatiran besar di antara penduduk setempat. Penjarahan situs sejarah, pengusiran paksa, serta blokade bantuan kemanusiaan semakin menambah kompleksitas krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
