Perkembangan Terkini Suriah: Pasukan Jolani Luncurkan Serangan Besar di Latakia dan Tartus
POROS PERLAWANAN – Perkembangan di Provinsi Latakia, Suriah, berlangsung dengan cepat. Seiring dengan pengumuman pembentukan “Dewan Militer untuk Pembebasan Suriah”, sejumlah peralatan dan bala bantuan telah dikirim ke Latakia dan Tartus untuk mendukung elemen-elemen yang berafiliasi dengan kelompok Jolani.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews pada Jumat 7 Maret, Provinsi Latakia di Suriah barat menjadi medan pertempuran sengit antara pasukan yang berafiliasi dengan Jolani, Haiat Tahrir al-Sham (HTS), dan kelompok penentang Pemerintahan baru Suriah. Ledakan besar dilaporkan terjadi di kota pesisir Jableh, sementara pertempuran terus berkecamuk tanpa henti. Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa penentang Pemerintahan baru berhasil merebut beberapa desa dan kota di Latakia utara, sementara HTS berupaya mempertahankan posisinya.
Pada saat yang sama, beberapa laporan menyebutkan terputusnya komunikasi antara pusat komando Damaskus dan unit keamanannya di wilayah pesisir yang dikuasai oleh HTS. Selain itu, ada indikasi bahwa pasukan Militer Turki telah memasuki wilayah utara Suriah, sementara Jolani dikabarkan meminta dukungan militer dari mereka.
Jam Malam di Provinsi Latakia
Menyusul meningkatnya ketegangan, pasukan keamanan yang berafiliasi dengan Pemerintahan baru Suriah mengumumkan pemberlakuan jam malam di Provinsi Latakia hingga pukul 10 pagi. Laporan juga menyebutkan bahwa HTS menyerang apotek-apotek di kota tersebut dan menjarah obat-obatan yang mereka perlukan untuk merawat korban luka.
Eskalasi Pertempuran di Suriah
Pertempuran terus meningkat, dengan laporan mengenai penembakan membabi buta ke rumah-rumah warga sipil. Sumber-sumber lokal mengonfirmasi bahwa konvoi pasukan Tentara Suriah Baru (yang berafiliasi dengan Pemerintahan Jolani) dan kelompok bersenjata dari berbagai wilayah, termasuk Homs, Idlib, dan Jisr al-Shughour, telah bergerak menuju Latakia.
Menyusul eskalasi pertempuran di Latakia, Kementerian Pertahanan Pemerintahan baru Suriah meluncurkan operasi keamanan skala besar di wilayah perdesaan provinsi tersebut. Langkah ini diambil setelah HTS melancarkan serangan terhadap konvoi keamanan di dekat kota Jableh.
Menurut Kantor Berita Resmi Suriah (SANA), kelompok yang menyebut diri mereka “sisa-sisa pasukan Pemerintahan sebelumnya” menargetkan konvoi Kementerian Pertahanan di dekat desa Beit Aana, Latakia, yang mengakibatkan seorang petugas keamanan tewas dan beberapa lainnya terluka.
Sebagai tanggapan, Kementerian Pertahanan Pemerintahan baru Suriah mengirimkan bala bantuan ke wilayah tersebut. Sumber keamanan yang berafiliasi dengan Pemerintahan Jolani mengeklaim bahwa kelompok penentang Pemerintahan baru secara langsung menargetkan posisi pasukan keamanan setelah mereka berkumpul di desa Beit Aana.
Pengiriman Peralatan Militer ke Tartus
Kementerian Pertahanan Pemerintahan transisi Suriah telah mengirimkan sejumlah besar peralatan militer ke Tartus untuk mendukung pasukan keamanan di bawah komando Pemerintah sementara, dengan tujuan menghadapi dan menekan oposisi al-Jolani, yang disebut sebagai penyintas rezim sebelumnya.
Perpanjangan Jam Malam di Tartus
Kantor Berita Suriah mengutip pernyataan Gubernur Tartus yang menyatakan bahwa jam malam di kota tersebut diperpanjang hingga Sabtu pukul 10 pagi, dengan pengecualian bagi mereka yang akan melaksanakan salat Jumat.
Perpanjangan jam malam ini terjadi setelah bentrokan antara pasukan yang berafiliasi dengan Jolani (HTS) dan kelompok penentang Pemerintahan baru Suriah.
Pengerahan Pasukan di Kota Banias
Pasukan yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Pemerintahan Jolani dikerahkan secara luas di kota pesisir Banias, yang terletak di utara Tartus, untuk menghadapi dan menekan oposisi.
Pembatalan Ujian di Universitas Tartus
Akibat bentrokan yang terjadi antara elemen Jolani dan oposisi, Universitas Tartus mengumumkan pembatalan seluruh ujian yang dijadwalkan pada Sabtu dan menundanya hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Helikopter Militer Terlihat di Zona Konflik
Sementara itu, laporan mengenai kehadiran helikopter Militer di zona konflik mulai bermunculan. Gambar yang diunggah di media sosial menunjukkan helikopter menembakkan rudal ke posisi oposisi.
Di tengah ketegangan ini, “Dewan Islam Alawi Suriah” yang baru didirikan mengeklaim sebagai perwakilan komunitas Alawi di Suriah dan menyerukan protes damai terhadap operasi keamanan di wilayah pesisir.
Dalam pernyataannya, Dewan tersebut mengungkapkan bahwa sejak jatuhnya Pemerintahan sebelumnya, mereka telah berusaha mencapai kesepakatan melalui negosiasi dan dialog. Namun, tuntutan mereka terkait daftar orang yang dicari serta kemungkinan partisipasi para tetua dalam proses pemeriksaan telah diabaikan.
Pernyataan tersebut juga menuduh pasukan keamanan Pemerintahan Jolani melakukan tindakan kekerasan, menjarah properti warga, dan meneriakkan slogan-slogan sektarian. Dewan Islam Alawi menyerukan kepada masyarakat di wilayah pesisir untuk berkumpul di alun-alun dan menggelar demonstrasi dengan cara yang damai dan tertib. Mereka juga menekankan agar pengunjuk rasa tidak merusak properti publik dan hanya meneriakkan slogan-slogan nasional.
Unjuk Rasa dan Mobilisasi Pasukan
Sementara ketegangan terus berlanjut di Latakia, situasi keamanan di wilayah tersebut tampaknya semakin memburuk dengan intensitas bentrokan yang terus meningkat.
Di sisi lain, aksi unjuk rasa untuk mendukung Pemerintahan baru juga berlangsung di berbagai provinsi Suriah, termasuk Damaskus, Deir Ezzor, Aleppo, Idlib, Hama, dan Homs.
Kelompok oposisi bersenjata juga mengumumkan mobilisasi umum guna mendukung operasi Pemerintahan baru di wilayah pesisir.
Pembentukan Formasi Militer Baru
Dalam eskalasi terbaru, sebuah pernyataan yang dikaitkan dengan mantan Komandan Militer Suriah, Ghiyath Suleiman Della, muncul di media sosial. Meskipun keasliannya belum dikonfirmasi, pernyataan itu menyebutkan bahwa ia bersama sekelompok mantan perwira militer telah membentuk Dewan Militer dengan tujuan “membebaskan Suriah” dan menggulingkan Pemerintahan baru.
Selain itu, beredar rekaman audio yang dikaitkan dengan Komandan salah satu kelompok bersenjata lokal, Miqdad Fatiha, berupa seruan kepada pasukannya untuk bersiap menghadapi pasukan keamanan Pemerintahan Jolani.
