Perpecahan Baru di Uni Eropa: Ketegangan Meningkat antara Ursula von der Leyen dan Kaja Kallas
POROS PERLAWANAN — Media Amerika menilai lembaga-lembaga Uni Eropa tengah memasuki fase krisis baru setelah mencuatnya kasus korupsi terbaru yang menyeret mantan pejabat tinggi Brussels. Skandal ini disebut berpotensi membuka kembali luka lama birokrasi Eropa dan memicu konflik internal di level kepemimpinan.
Menurut laporan IRNA pada Rabu 3 Desember, yang mengutip Politico, penangkapan mantan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, dalam kasus korupsi menimbulkan guncangan besar di tubuh Uni Eropa. Politico menulis bahwa Uni Eropa kini menghadapi “salah satu krisis paling serius dalam dua dekade terakhir”.
Krisis Kredibilitas di Tengah Masa Jabatan Ursula von der Leyen
Skandal ini muncul baru satu tahun setelah Ursula von der Leyen memasuki masa jabatan kedua sebagai Presiden Komisi Eropa, periode yang sebelumnya sudah dipenuhi kritik mengenai transparansi, manajemen internal, dan pengambilan keputusan yang dianggap terlalu tersentralisasi.
Beberapa anggota Parlemen Eropa bahkan menilai skandal terbaru ini sebagai ancaman langsung terhadap kredibilitas lembaga-lembaga Uni Eropa dan kembali mengangkat wacana mosi tidak percaya terhadap Ursula von der Leyen.
Ketegangan Baru: Ursula von der Leyen vs. Kallas
Menurut Politico, kasus ini berpotensi memperburuk hubungan antara Ursula von der Leyen dan Kaja Kallas, pejabat yang kini mengepalai European External Action Service (EEAS).
Ketegangan antara Komisi Eropa dan EEAS sebenarnya bukan fenomena baru. Namun skandal Mogherini yang pernah memimpin lembaga yang kini dipimpin Kallas, memberi dimensi politik baru. Situasinya rumit karena:
1. Pengawasan atas kebijakan luar negeri UE sering diperebutkan antara Komisi dan EEAS,
2. Kallas dipandang sebagai figur yang lebih independen dari Ursula von der Leyen,
3. Skandal ini dapat menimbulkan persepsi bahwa kedua lembaga saling menyalahkan dalam isu integritas.
Dalam konteks inilah Politico menilai potensi friksi antara dua tokoh kunci itu dapat semakin melemahkan kohesi internal Uni Eropa.
Momentum bagi Partai-Partai Euroskeptik
Investigasi baru ini muncul di saat yang tidak menguntungkan bagi Brussels. Partai sayap kanan dan kelompok Euroskeptik di berbagai negara anggota kini memanfaatkan ketidakpuasan publik terhadap korupsi dan disfungsi birokrasi Eropa.
Bagi mereka, skandal Mogherini adalah amunisi politik yang membuka peluang memperluas narasi bahwa Uni Eropa:
– tidak transparan,
– tidak akuntabel,
– tidak lagi mewakili kepentingan rakyat Eropa.
Dengan meningkatnya dukungan bagi blok-blok populis di Eropa tengah dan timur, skandal ini berpotensi memperdalam polarisasi internal.
Bayang-Bayang Komisi Santer 1999
Politico menegaskan bahwa jika tuduhan terhadap Mogherini terbukti, skandal ini dapat menjadi “krisis terbesar di Brussels sejak pengunduran diri massal Komisi Santer pada 1999”.
Komisi Santer yang dipimpin Jacques Santer dari Luxemburg, terpaksa mengundurkan diri secara kolektif setelah rangkaian tuduhan korupsi, penipuan, dan salah urus terbukti mengguncang seluruh institusi. Peristiwa tersebut masih dianggap sebagai krisis kelembagaan paling besar dalam sejarah Uni Eropa dan meninggalkan noda permanen dalam memori politik Brussels.
Munculnya kasus Mogherini membuat banyak pihak khawatir bahwa Uni Eropa tengah memasuki siklus krisis serupa: perpaduan antara skandal, hilangnya kepercayaan publik, dan pertarungan kekuasaan di antara pejabat tingkat tinggi.
