Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Perubahan Doktrin Nuklir Rusia Picu Kepanikan di Kubu Barat

Perubahan Doktrin Nuklir Rusia Picu Kepanikan di Kubu Barat

POROS PERLAWANAN– Dilansir Mehr, Presiden Vladimir Putin telah menginstruksikan perubahan doktrin nuklir Rusia. Ini adalah tindakan penting yang membawa kekuatan prevensi dan prinsip pertahanan yang telah di-update ke fase baru.

Setelah keputusan ini diambil Rusia, AS menjadi khawatir dan segera menutup Kedubesnya di Kiev. Washington meminta dari para pegawai Kedubes AS untuk berlindung di tempat yang aman.

Para analis politik mengatakan, kita telah sampai ke titik yang bisa disebut sebagai salah satu titik eskalasi tertinggi antara Rusia dan Barat dalam 50 tahun terakhir. Tindakan Rusia ini diambil di saat AS dan para sekutunya sedang mencari konflik lain di hari-hari terakhir kekuasaan Joe Biden. Dengan memprovokasi dan mempersenjatai Ukraina, AS dan sekutunya telah menempatkan negara yang sudah terpuruk itu dalam situasi terberat.

Untuk kali pertama, Biden mengizinkan Ukraina menggunakan rudal-rudal jarak jauh untuk menyerang Rusia. Ini adalah tindakan yang bisa menyulut perang dunia besar. Terlebih di saat Rusia, tanpa sedikit pun basa-basi, memamerkan kekuatannya dengan cara mengubah doktrin nuklirnya.

Kini bisa dikatakan bahwa NATO, yang dipimpin para penasihat pecundang Biden, telah menghadapkan dunia dengan ancaman-ancaman baru. Di sisi lain, Rusia juga menunjukkan bahwa di hadapan pergerakan Barat, mereka bukan hanya tidak berniat untuk mengalah atau berkompromi, tapi bahkan bisa membela diri dengan kekuatan lebih dari sebelumnya.

Mungkin saat Jubir Kremlin, Dmytri Peskov bicara soal kemungkinan perubahan doktrin nuklir Rusia, Dunia Barat tidak menyangka bahwa keputusan itu akan dieksekusi secepat ini. Sebelum ini Peskov mengatakan,”Dalam pandangan Rusia, senjata nuklir selalu merupakan sarana preventif. Kami berusaha memikirkan senjata ini hanya sebagai solusi darurat terakhir.”

Apa yang Berubah?

Doktrin nuklir lama Rusia disahkan di tahun 2020 silam. Kini, setelah 4 tahun, Putin merasa harus menunjukkan bahwa dirinya memiliki pandangan strategis khusus terhadap serangan rudal Ukraina dan Barat, yaitu dengan cara menggulirkan doktrin nuklir baru dan membuat sejumlah perubahan.

Dalam doktrin tersebut, untuk pertama kalinya frasa “musuh potensial” digunakan. Doktrin tersebut menegaskan bahwa Moskow berhak menggunakan senjata jenis ini (nuklir).

Jika kita ingin menyinggung prinsip terpenting dalam doktrin pertahanan Rusia, kita harus mencermati kalimat berikut:”Agresi terhadap Rusia dan para sekutunya akan ditanggapi dengan hukuman dan balasan yang tak terhindarkan.” Meski jelas bahwa yang dimaksud Rusia secara khusus dengan kata “sekutu” adalah Belarusia, namun bisa saja meliputi negara-negara lain.

Berita dan laporan yang disampaikan Sputnik serta media-media Rusia lain menunjukkan, Kremlin selain mengumumkan perubahan doktrin nuklirnya, juga memberi penekanan khusus kepada kalimat berikut:”Kebijakan Rusia dalam hal prevensi nuklir memiliki substansi defensif.”

Selain menjaga keamanan dan keutuhan wilayah Rusia, Moskow juga menekankan pembelaan untuk para sekutunya. Ada dua tujuan penting yang merupakan elemen vital doktrin nuklir Rusia”

Pertama, prevensi nuklir dalam konfrontasi militer.

Kedua, tindakan militer hanya dihentikan jika ada garansi bahwa kondisi pascaperang bisa diterima oleh Rusia dan menjamin kepentingan nasionalnya.

Tampaknya, penekanan Rusia pada “kondisi yang bisa diterima” berarti bahwa Moskow tidak akan menerima kesepakatan apa pun yang mengembalikan situasi Ukraina ke periode sebelum perang dan menjamin keanggotaan Kiev di NATO.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *