Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Petinggi Ansharullah: Nasib Qarun dan Firaun Menanti Saudi

POROS PERLAWANAN – Bersamaan dengan operasi terhadap kapal-kapal Saudi, seorang anggota senior Ansharullah, Muhammad al-Farah memperingatkan Riyadh bahwa Yaman adalah “suapan yang lebih besar dari mulut Rezim Saudi.”

Diberitakan Fars, anggota Biro Politik Ansharullah Yaman itu menegaskan bahwa apa yang dilakukan Pemerintah Sanaa saat ini, tanpa terkecuali, adalah untuk kepentingan setiap warga Yaman.

“Arab Saudi adalah musuh bagi semua pihak. Kebijakannya sejak era Abdulaziz al-Saud didasarkan pada pelemahan Yaman, membuat Yaman berlutut, dan upaya untuk menguasai negara ini,” kata al-Farah.

“Demi Allah yang meninggikan langit tanpa tiang, jika bukan karena mereka yang kalian sebut sebagai ‘Houthi’ bersama rekan-rekan mereka dari suku-suku Yaman, Militer Yaman, dan rakyatnya yang merdeka, Arab Saudi akan menelan seluruh Yaman, menguasai antek-anteknya, dan memperlakukan siapa pun dari suku atau partai yang bangkit melawan mereka sebagaimana mereka memperlakukan antek Dewan Transisi. Di saat itu, penyesalan tidak akan berguna lagi. Dalam kondisi ini, siapa yang berani menentang kebijakan Dinasti Saud di Yaman? Arab Saudi melakukan hal seperti ini terhadap Yaman di era Pemerintahan sebelumnya.”

“Mari kita semua bersatu dan menceritakan ketertindasan besar kita di hadapan musuh Saudi. Kita warga Yaman akan mencapai kesepakatan satu sama lain. Kekayaan Yaman akan cukup untuk kita semua serta akan membuat kita lebih kaya daripada semua negara di dunia, tanpa perlu mengemis kepada antek-antek di Ibu Kota negara-negara Teluk [Persia] dan Barat. Siapa pun yang ingin mencari nafkah melalui menjadi antek dan bekerja sama dengan pihak luar, pergilah kepada tuan-tuan Yahudi kalian tanpa perlu kembali. Siapa pun yang mengerti, [tahu bahwa] Yaman cukup untuk menampung semua orang.”

Menanggapi kengototan Saudi dan desakan mereka untuk melanjutkan blokade serta agresi 11 tahun terhadap Yaman, al-Farah menekankan bahwa ketentuan ilahi mengenai orang-orang yang zalim tidak dapat diubah. Menurutnya, bersikeras pada kezaliman serta kesombongan tidak akan membuahkan apa pun selain kerugian dan kekalahan bagi mereka.

Al-Farah menyatakan statemen ini melalui sebuah postingan di X, bersamaan dengan pengumuman Angkatan Bersenjata Yaman mengenai penerapan larangan lalu lintas bagi pelayaran Saudi dalam kerangka formula “blokade dibalas blokade”, serta pengumuman pelaksanaan operasi militer terhadap dua kapal Saudi karena melanggar peraturan larangan Yaman.

“Ketika Allah berkehendak untuk membinasakan dan menenggelamkan orang yang zalim, Dia membiarkannya dalam keras kepala dan pembangkangan. Firaun melihat laut terbelah untuk Musa; sebuah mukjizat yang cukup untuk menghentikannya dari mengejar mereka setelah membunuh anak-anak [Bani Israil]. Tetapi dia tidak puas dengan kejahatannya dan bersikeras mengejar mereka, lalu dia menenggelamkan dirinya sendiri dan baru beriman ketika hal itu tidak lagi berguna. Inilah nasib yang kita lihat menanti Saudi saat ini,” cuitnya.

“Saudi bisa saja membatalkan larangan dan mengakhiri blokade hanya dengan satu keputusan, mengembalikan kekayaan Yaman yang tidak ada apa-apanya dibandingkan minyak Saudi kepada rakyat kita, menghentikan agresi mereka, menarik pasukan mereka, mengganti kerugian bagi mereka yang gajinya terputus atau rumahnya hancur, menghargai diri sendiri, dan membiarkan urusan negara kita sendiri tanpa perlu melibatkan diri dalam masalah yang tidak perlu.”

“Saudi memiliki cukup minyak, tanah yang luas, laut dan pantai yang panjang, serta ambisi ekonomi dan pembangunan yang besar. Mereka bisa saja bersaing dengan Tiongkok dan Jepang atau menciptakan gerakan [ekonomi] tanpa perlu mencampuri urusan orang lain.”

“Saudi tidak perlu menjebak diri dalam rawa Yaman, tidak perlu mengikat diri dengan sekelompok koruptor yang telah diusir oleh rakyat di utara dan selatan Yaman. Tidak perlu melakukan kejahatan berdarah dan kemungkaran tak termaafkan yang tidak bisa dimaafkan, baik di dunia maupun di akhirat.”

Di akhir cuitan, dengan menekankan bahwa kezaliman tidak akan bertahan dan akhir bagi orang zalim adalah kekalahan, al-Farah menulis: “Tuhan yang telah menelan Qarun beserta kekayaan dan perdagangannya ke dalam Bumi, Dia jugalah yang kita andalkan saat ini dan kita mintai pertolongan. Kita memohon kepada-Nya untuk menelan Qarun era sekarang ke dalam Bumi, karena hukum ilahi tidak akan berubah dalam menghadapi orang-orang yang zalim.”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *