Loading

Ketik untuk mencari

Analisa Opini

Push… Push! Hush… Hush!

Petinggi Israel Ungkap Obsesi Trump Jalin Kesepakatan dengan Iran

POROS PERLAWANAN — Inspektur Vijay mengenal bunyi itu sebagai bahasa kekuasaan yang telah kehilangan konteks. Bunyi pendek, mekanis, dan sarat keyakinan yang tak lagi disangga kenyataan. Bunyi yang muncul ketika argumen telah habis, tetapi refleks dominasi masih berdenyut, seperti saraf mati yang terus mengirim sinyal pada tubuh yang sudah dingin.

Bunyi itu tidak datang dari arena hiburan, melainkan dari pusat kekuasaan yang masih mengira dunia bereaksi terhadap perintah sederhana. Dunia, dalam imajinasi lama itu, tetaplah ruang gema.

Dalam sebuah artikel Foreign Affairs yang ditulis oleh dua mantan pejabat Amerika, Robert E. Kelly dan Paul Poast, berjudul “How Much Abuse Can America’s Allies Take? Longtime Partners Will Soon Start to Drift Away”, Inspektur Vijay mencatat kesimpulan yang tak lagi kontroversial, hanya telanjang: tidak ada satu pun negara di dunia, termasuk sekutu-sekutu yang dibentuk, dipelihara, dan diikat oleh sejarah kepentingan, yang masih benar-benar mempercayai Amerika. Era ketergantungan telah berakhir. Payung keamanan itu kini lebih menyerupai artefak imperial: berat, berisik, dan hanya dibuka ketika simbol lebih penting daripada perlindungan.

Vijay mengingat tulisan Fareed Zakaria di Foreign Policy. Seorang analis yang lama berperan sebagai penerjemah kewarasan Amerika kepada dunia kini menyampaikan sesuatu yang lebih dingin daripada kritik: diagnosis. Pendekatan Trump terhadap Venezuela dan Amerika Latin bukanlah strategi, melainkan gejala. Gejala dari negara yang lama memposisikan diri sebagai Hansip dunia, masih berbicara keras bukan karena kuat, melainkan karena takut pada keheningan. Keheningan yang akan mengungkap betapa sedikit yang masih mendengarkan.

Trump tidak mundur. Trump tidak menyesuaikan diri. Trump menaikkan volume. Kepada Eropa dan sekutu-sekutu lain yang mulai berpikir tanpa izin, Amerika tidak menawarkan dialog atau koreksi diri. Amerika menuntut kepatuhan linguistik: belajar berbicara dengannya. Bukan agar dipahami, melainkan agar tetap berada dalam posisi diatur. Ini bukan diplomasi. Ini kebiasaan lama yang menolak pensiun.

Di titik ini, Inspektur Vijay tidak melihat peristiwa baru. Ia melihat pola lama. Setiap imperium pada akhirnya salah membaca perubahan. Mereka selalu mengira dunia masih takut, padahal dunia sudah lelah. Ketakutan melahirkan kepatuhan; kelelahan melahirkan jarak. Amerika, pikir Vijay, telah melewati fase ditakuti dan memasuki fase yang lebih berbahaya bagi kekuasaan: diabaikan dengan perhitungan.

Analogi itu muncul tanpa perlu dipaksakan. Dalam domestik manusia, anjing diatur dengan teriakan “Enyah!”, kucing dengan desakan “Push… push!”, burung dengan bisikan “Hush… hush!”. Semua makhluk dianggap patuh jika bunyi yang tepat ditekan pada waktu yang tepat. Amerika masih mempraktikkan logika pelatihan ini dalam politik global, seolah negara-negara lain hanyalah organisme refleks yang belum mengenal suara baru.

Masalahnya bukan ideologis. Masalahnya evolusioner. Dunia telah berubah spesies. Negara-negara lain membaca laporan, bukan slogan. Mereka menghitung biaya, bukan janji moral. Mereka menyimpan memori penghinaan, bukan melupakannya. Dan yang paling merusak bagi imperium tua: mereka belajar tanpa meminta legitimasi.

“Push… push” kini tidak lagi terdengar sebagai perintah. Bunyi itu terdengar sebagai kebiasaan lisan yang diulang oleh institusi yang lupa bahwa kekuasaan tidak runtuh ketika diserang, melainkan ketika berhenti dianggap relevan. Di telinga Inspektur Vijay, bunyi itu adalah suara penjaga lama yang masih berpatroli di gedung kosong, yakin bahwa dunia belum sadar ia sudah tidak lagi memegang kunci.

Amerika, Vijay menyimpulkan, tidak sedang menuju kejatuhan heroik. Tidak ada tragedi. Tidak ada klimaks. Apa yang terjadi jauh lebih sunyi dan lebih mematikan: pembusukan struktural yang disaksikan bersama, ketika dunia tidak lagi marah, tidak lagi melawan, dan bahkan tidak lagi perlu menoleh.

Kekuasaan mati paling cepat bukan saat ditantang, melainkan saat terus berbicara kepada dunia seolah dunia masih hewan jinak, sementara dunia, tanpa suara dan tanpa aba-aba, telah lama belajar berjalan pergi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *