Putaran Negosiasi Nuklir Iran di Jenewa Masuki Tahap Perumusan Teks Perjanjian
POROS PERLAWANAN — Putaran kedua perundingan nuklir Iran di Jenewa berakhir setelah 48 jam konsultasi intensif. Para pihak mencapai kesepakatan umum terkait prinsip panduan dan arah proses lanjutan, sekaligus membuka tahap perumusan teks kemungkinan perjanjian.
Laporan kantor berita IRNA pada Rabu 18 Februari, menyebut pertemuan berlangsung konstruktif dengan sejumlah gagasan dibahas secara mendalam. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa proses perundingan menunjukkan kemajuan pada kerangka kerja negosiasi.
“Berbagai gagasan diangkat dan dibahas secara serius dalam pertemuan ini. Kami mencapai kesepakatan umum terkait serangkaian prinsip panduan,” ujar Araghchi di Jenewa.
Araghchi menegaskan bahwa proses lanjutan akan mengikuti prinsip tersebut. Para pihak mulai mendekatkan posisi untuk merumuskan teks kesepakatan yang berpotensi menjadi dasar perjanjian.
Perkembangan ini menandai pergeseran dari tahap penjajakan menuju penyusunan substansi. Proses masih memerlukan waktu karena sejumlah isu strategis menunggu pembahasan dan keputusan politik.
Dalam Konferensi Internasional Pelucutan Senjata di Jenewa, Araghchi menilai peluang baru terbuka bagi jalur diplomasi.
“Kami berharap negosiasi ini mengarah pada solusi berkelanjutan berbasis dialog yang melayani kepentingan semua pihak dan Kawasan,” kata Araghchi.
Araghchi juga menegaskan kesiapan Iran terlibat dalam negosiasi yang berorientasi hasil.
“Setiap perjanjian yang langgeng harus mengakui hak sah Iran, memberikan manfaat nyata, serta terlindung dari tindakan sepihak yang merusak kepercayaan,” ujarnya.
Salah satu isu penting dalam putaran ini berkaitan dengan peran teknis Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi hadir di Jenewa dan melakukan konsultasi dengan berbagai pihak, termasuk delegasi Iran dan Amerika Serikat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei menilai kehadiran IAEA relevan bagi proses lanjutan.
“Kehadiran Direktur Jenderal Badan tersebut penting dan dapat dianggap bermanfaat,” kata Baghaei.
Baghaei menambahkan bahwa setiap kesepakatan yang tercapai akan melibatkan peran teknis IAEA sebagai lembaga internasional di bidang non-proliferasi.
“Kriteria utama bagi Iran tetap kepentingan dan hak sah bangsa Iran, dan kerangka kerja dalam hal ini sudah jelas,” ujarnya.
Sinyal kemajuan juga muncul dari mediator. Pemerintah Oman menyebut perundingan menunjukkan perkembangan nyata dan berpotensi membuka jalan bagi kelanjutan dialog dalam waktu dekat.
Dari pihak Amerika Serikat, Wakil Presiden J.D. Vance menyatakan pembicaraan berjalan positif dalam sejumlah aspek.
“Pembicaraan dengan Iran berjalan baik dalam beberapa aspek,” kata Vance.
Menteri Luar Negeri Swiss menilai proses dialog berlangsung konstruktif dan mendukung kelanjutan negosiasi sebagai langkah penting untuk meredakan ketegangan.
Putaran kedua perundingan memperlihatkan arah baru menuju penyusunan teks perjanjian. Jalan menuju kesepakatan akhir masih memerlukan keputusan politik dan penyelesaian sejumlah isu yang tersisa. Kelanjutan proses akan sangat ditentukan oleh konsistensi komitmen diplomatik serta kesiapan para pihak menjaga kepercayaan.
