Qalibaf: Alasan Mengapa Israel Mengusulkan Gencatan Senjata (7)
POROS PERLAWANAN — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menjelaskan alasan sebenarnya di balik keputusan Israel mengusulkan gencatan senjata, setelah perang yang mereka paksakan terhadap Republik Islam Iran berlangsung selama 12 hari.
“Alasan Israel mengusulkan gencatan senjata, kemudian ditindak lanjuti oleh Amerika Serikat, dan penerimaannya oleh Iran pada akhirnya sangat layak dipertanyakan. Israel memulai perang yang, meskipun jelas telah diperhitungkan sebelumnya, akhirnya terpaksa mengusulkan gencatan senjata setelah 12 hari.
“Di satu sisi, keberhasilan kamilah yang menyebabkan Israel gagal mencapai tujuannya. Di sisi lain, dominasi kami atas wilayah darat dan udara mereka sangat menentukan. Mereka mengeklaim telah menghancurkan 70 persen rudal dan drone sebelum mencapai wilayah Israel, tetapi Anda bisa melihat bagaimana kami bertindak setelah 12 hari perang. Selama Operasi Janji Sejati 1 dan 2, kami hanya menembakkan rudal satu atau dua kali dalam semalam, yang berarti itu bukan perang penuh, melainkan sekadar respons terbatas. Sementara itu, dalam Janji Sejati 3, kami benar-benar berada dalam kondisi perang nyata: rudal diluncurkan satu demi satu dari wilayah kami, dan kami memperoleh pengalaman tempur secara langsung. Kami mengoptimalkan dan memperbarui sistem setiap hari serta menjalankan operasi berdasarkan rencana. Pada hari-hari terakhir, kami mencapai tingkat akurasi di mana lebih dari 90 persen rudal kami mengenai sasaran.
“Kami mampu melanjutkan operasi militer sambil melumpuhkan sistem pertahanan di pusat-pusat militer rezim Zionis. Bahkan lembaga penelitian mereka akhirnya mengumumkan jumlah korban luka mencapai 3.520 orang. Sementara itu, para pemimpin mereka menyatakan jumlah korban tewas hanya 28 orang, sebuah kebohongan. Anda bisa bertanya kepada komunitas statistik atau militer mana pun: ada standar ilmiah bahwa rasio kematian dari total korban luka biasanya sekitar 6 hingga 7 persen. Artinya, dari 3.520 korban luka, kemungkinan besar terdapat sedikitnya 500 korban jiwa.
“Sebagai perbandingan, ketika terjadi kecelakaan bus dengan 100 korban luka, maka setidaknya 10 di antaranya biasanya meninggal dunia. Ini adalah standar yang sepenuhnya ilmiah dan valid. Dengan demikian, rezim Zionis mengalami kerusakan di segala lini: mereka terhambat dalam hal pembangunan dan pertumbuhan, serta gagal dalam aspek taktik dan teknik. Pada akhirnya, seluruh tujuan strategis mereka pun tidak tercapai.”
Ketika ditanya apakah Iran dan Israel sama-sama menimbulkan kerusakan dan korban jiwa selama perang. Namun, Iran juga berhasil mengirimkan pesan strategis dan simbolik kepada Israel, yang dinilai sebagai pencapaian dalam diplomasi publik dan diskursus regional, bidang yang selama bertahun-tahun telah coba dikuasai oleh Israel. Bagaimana Anda menilai hal ini, dan apa dampaknya terhadap citra Israel di mata dunia?
“Salah satu pencapaian penting yang diraih oleh negara ini adalah terbentuknya kohesi nasional yang kuat. Saat ini, inti Republik Islam Iran terdiri dari 90 juta penduduk, dan inilah yang menjadi fokus utama kami. Dengan kata lain, kesalahan perhitungan musuh justru berubah menjadi faktor penguat bagi kami, insya Allah. Ketulusan, semangat juang, serta keteguhan rakyat Iran dalam menghadapi tekanan, dipadukan dengan kewibawaan dan cinta mereka terhadap Tanah Air, telah menciptakan sebuah momen besar yang terjadi hampir dalam semalam.
“Ini adalah manifestasi nyata dari firman Allah Swt: ‘Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka’. (QS. Ath-Thalaq: 2-3). Allah telah membolak-balikkan hati manusia, dan seluruh bangsa bersatu secara emosional dan spiritual. Ini adalah aset besar, bukan hanya bagi masyarakat Iran, melainkan juga bagi dunia Islam, bahkan bagi seluruh umat manusia.
“Selama perang ini, gelombang solidaritas global pun muncul. Tokoh-tokoh seperti Syekh Al-Azhar menyatakan dukungan terhadap Iran. Imam Masjidil Haram pun, dengan sikap terbuka, menunjukkan pembelaannya. Ikhwanul Muslimin di Mesir mendukung Iran, dan para otoritas keagamaan Syiah di Iran, Irak, dan negara-negara lain, serta para ulama Sunni, ikut serta menyuarakan dukungan. Bahkan, situasi ini menyerupai momen bersejarah seperti fatwa larangan tembakau, mencerminkan perlawanan besar terhadap kezaliman.
“Fenomena kultural dan media juga menunjukkan dampaknya. Lagu ‘Boom Boom; Tel Aviv’ ditonton hingga satu miliar kali—sesuatu yang bahkan belum bisa dicapai oleh media dan diplomasi publik Iran sebelumnya. Di tengah perang ini, banyak warga Iran di luar negeri—di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa—turun ke jalan membawa bendera Iran, membela negara mereka, dan menghadapi para pengkhianat yang jumlahnya minoritas. Bahkan seniman yang menyuarakan penentangan terhadap tentara Israel mengalami pembatasan akses ke negara-negara Barat, menunjukkan betapa besar tekanan yang mereka hadapi karena berdiri di pihak yang benar.
“Iran tidak sendiri. Dukungan terhadapnya kini meluas dan menjadi aset nasional, regional, sekaligus global. Saat ini, siapa pun yang menolak kebiadaban rezim Zionis tampil ke depan, dan ini menjadi salah satu kemenangan besar, abadi, dan bernilai spiritual bagi bangsa kita.”
Saat ini, perdebatan yang berkembang di tengah masyarakat adalah apakah Iran sebaiknya bernegosiasi dengan Amerika Serikat atau tidak. Apa pandangan Anda terkait hal ini?
“Saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya para pemuda, untuk memperhatikan isu ini dengan cermat. Pertanyaan yang sering muncul adalah: Mengapa Anda tidak bernegosiasi dengan Amerika? Kita telah menyaksikan bahwa perjanjian JCPOA diratifikasi, terlepas dari penilaian apakah itu perjanjian yang kuat atau lemah, memiliki kelebihan atau kekurangan. Namun, pada tahun 2016, ketika Trump naik ke tampuk kekuasaan, ia dengan mudah menghancurkan kesepakatan tersebut.
“Kini, di tahun ini, kita kembali memasuki jalur perundingan secara tidak langsung, bahkan telah ditentukan waktu pelaksanaan putaran keenam. Namun, di tengah proses tersebut, Israel melancarkan serangan terhadap kita. Amerika tidak dapat berkilah seolah-olah mereka tidak terlibat, karena sudah jelas bahwa Israel tidak akan bertindak tanpa izin dan koordinasi dari Amerika Serikat. Bahkan pada akhirnya, Israel terlibat langsung dalam perang dan kemudian memintanya dihentikan.
“Ketika kami berbicara tentang ‘kejujuran Amerika’, inilah yang kami maksud. Namun, hal ini bukan berarti kita menolak untuk berbicara. Kami percaya bahwa diplomasi, seperti halnya rudal, adalah salah satu metode perjuangan. Kita sadar bahwa kita sedang berhadapan dengan musuh, dan mempercayai mereka adalah keliru. Namun bukan berarti komunikasi dan dialog harus ditutup sepenuhnya.
“Kita telah bernegosiasi dalam kerangka JCPOA, dan lihat hasilnya: perjanjian itu dengan mudah dihancurkan oleh pihak yang sama yang menandatanganinya. Maka, jika hari ini ada wacana soal dialog, kita perlu memahami satu hal: sama seperti kita menolak perang yang dipaksakan, kita juga menolak perdamaian yang dipaksakan.
“Dunia kini menyaksikan bahwa rakyat Iran bersatu dan bangkit. Dukungan global terhadap Iran tidak lepas dari kesadaran bahwa jika kita berbicara, maka kita berbicara dengan suara sendiri, bukan sebagai pengikut. Bagi Amerika, ‘negosiasi’ berarti tunduk sepenuhnya pada kehendak mereka. Inilah bentuk unilateralisme yang tidak kita terima.
“Beberapa tahun lalu, saya pernah menyampaikan bahwa kami pun memandang negosiasi sebagai bagian dari strategi perjuangan, bukan sebagai tanda kelemahan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika tidak pernah benar-benar menginginkan perdamaian atau dialog yang adil. Mereka hanya bersedia berunding jika hasilnya menguntungkan mereka secara sepihak. Amerika tidak menghormati hukum internasional, tidak menjunjung nilai-nilai kemanusiaan atau kehormatan. Mereka hanya mengakui tuntutan mereka sendiri atas seluruh dunia.”
Bersambung…
