Qalibaf: Israel Bukan Sekadar ‘Negara’, Tapi Mesin Teror Militer (5)
POROS PERLAWANAN — Menanggapi pertanyaan mengenai apakah Iran terkejut dengan serangan Israel, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menjelaskan: “Faktanya, Israel bukan sekadar negara—mereka adalah entitas militer teror. Begitulah cara mereka memulai operasi. Hal yang mengejutkan bukanlah pecahnya konflik itu sendiri, tetapi metode operasional mereka yang sangat agresif dan tidak konvensional.”
Ia mengungkap bahwa serangan dimulai pada pukul 03.00 dini hari, langsung menyasar komando tertinggi Iran.
“Pada menit-menit pertama, mereka menargetkan para komandan utama kami: Kepala Staf, Komandan Pangkalan Khatam, Komandan Pasukan Dirgantara, Komandan Garda Revolusi, dan jajaran ilmuwan strategis. Ini bukan kebetulan. Ini adalah serangan yang dirancang untuk menghancurkan ‘otak komando’ kami, sebab merekalah yang merancang, memimpin, dan mengatur sistem pertahanan nasional.”
Serangan Presisi: Menyerang “Otak” dan “Mata” Iran
Setelah menyerang pusat komando, Israel melanjutkan ke fase berikutnya.
“Setelah menargetkan otak strategis kami, mereka menyerang sistem radar, yakni ‘mata’ kami, untuk membutakan kemampuan deteksi awal. Mereka menggunakan armada F-35, F-15, dan F-16, serta meluncurkan rudal balistik dan jelajah dari udara. Serangan ini dijalankan dengan dukungan intelijen dari satelit, sistem intersepsi, dan, yang paling menyakitkan, infiltrasi oleh elemen-elemen penyusup.”
Qalibaf secara jujur mengakui: “Jenis operasi ini berbasis kejutan presisi tinggi, memang berhasil mengejutkan kami.. dan bukan hanya kami, seluruh sistem militer regional pun terkejut.”
Kepemimpinan Tertinggi: Pemulihan Komando dalam Hitungan Jam
Meski mengalami guncangan, Qalibaf menyoroti ketegasan dan kecepatan respons dari Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
“Dalam waktu kurang dari 4 jam, semua jabatan strategis yang kosong karena syahidnya para komandan segera diisi. Penunjukan itu bukan prosedural. Pemimpin Tertinggi secara langsung memimpin dari Pusat Komando. Ini bukan hanya sekadar pembacaan perintah lewat radio; Beliau benar-benar berada di garis kendali, seperti saat Perang Pertahanan Suci di Ahvaz mengarahkan operasi secara nyata.”
Respons Balasan: 150 Rudal dan 350 Drone dalam 18 Jam
Terlepas dari serangan mendadak, sistem pertahanan Iran berhasil menstabilkan diri dan melancarkan serangan balasan dalam waktu yang sangat singkat.
“Komandan-komandan pengganti, dari generasi dan pelatihan yang sama, langsung turun ke lapangan. Dalam waktu 17 hingga 18 jam setelah serangan, tepatnya Jumat malam, kami meluncurkan hampir 150 rudal dan 350 drone ke arah target musuh. Ini bukan gertakan. Ini adalah respons militer nyata yang menunjukkan kesiapan struktur pertahanan kami meskipun mengalami kerugian awal.”
Qalibaf menyimpulkan: “Kekuatan strategis Iran bukan hanya terletak pada persenjataan atau teknologi, melainkan juga pada kedalaman struktur komando, daya pulih, dan kohesi nasional di bawah Kepemimpinan Satu Titik Pusat.”
Bersambung…
