Raksasa Pelayaran Jerman Sebut Rencana Tarif Trump di Selat Hormuz Keliru
POROS PERLAWANAN — Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd, salah satu perusahaan pelayaran terbesar di dunia, menilai rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap muatan kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai langkah yang keliru dan bertentangan dengan prinsip kebebasan pelayaran internasional, lapor Islamic Republic News Agency (IRNA), pada Selasa 14 Juli.
Sebelumnya, Trump menyatakan Amerika Serikat akan kembali memberlakukan blokade maritim terhadap Iran dan memberikan perlindungan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Washington berencana memungut tarif terhadap muatan kapal yang melewati jalur strategis tersebut.
Kepada Reuters, Hapag-Lloyd yang termasuk lima perusahaan pelayaran terbesar di dunia berdasarkan kapasitas angkut menyatakan masih belum dapat memperkirakan secara pasti dampak finansial meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia terhadap operasional perusahaan. Meski demikian, perusahaan itu menilai rencana pengenaan tarif oleh Amerika Serikat merupakan langkah yang keliru.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga menolak pengenaan tarif terhadap kapal yang melintasi selat-selat internasional. Menurut Organisasi tersebut, kebijakan semacam itu bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi di perairan internasional.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan energi global melewati perairan ini sehingga setiap gangguan terhadap arus pelayaran berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan dan pasar energi dunia.
Kawasan Selat Hormuz kembali menjadi sorotan menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah Iran menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz semestinya dijaga dan dikelola oleh negara-negara Kawasan, bukan oleh kekuatan dari luar Kawasan.
