Rakyat Gaza Dibantai dengan Instrumen Pembunuh berupa Kelaparan: Dunia Islam Wajib Patahkan Pengepungan
POROS PERLAWANAN — Surat Kabar Kayhan, dalam laporan analitisnya pada Senin 21 Juli menyoroti tragedi kemanusiaan terbesar abad ini: genosida perlahan atas rakyat Gaza melalui senjata kelaparan.
Gambar-gambar memilukan terus bermunculan, termasuk potret seorang lelaki tua yang meregang nyawa dalam antrean bantuan pangan. Semua ini berlangsung di hadapan dua miliar umat Muslim, dalam diam dan kelumpuhan moral para pemimpin dunia Islam.
Kelaparan kini menjadi instrumen pembunuh yang sistematis di tangan rezim Zionis, setelah sebelumnya membunuh hampir 100.000 warga Palestina dengan bom dan peluru dalam dua tahun terakhir. Beberapa bulan terakhir, berbagai laporan menyebutkan penembakan terhadap warga yang mengantre bantuan makanan, merenggut lebih dari seribu nyawa. Kini, peluru tak lagi diperlukan; kelaparan itu sendiri telah menjadi mesin pembantai.
Tragedi ini yang seharusnya mengguncang nurani siapa pun, berlangsung tanpa perlawanan berarti dari negara-negara Islam. Apakah dunia Islam akan terus berdiam, sementara 2,4 juta warga Gaza dikurung dalam pengepungan penjajah yang keji?
Sudah saatnya dunia Islam, setidaknya secara regional, mematahkan blokade ini secara terorganisasi. Mengapa kapal-kapal bantuan tidak lagi menembus Jalur Gaza sebagaimana pernah dilakukan? Apakah Zionis yang panik dan kekanak-kanakan itu mampu menghentikan gelombang armada bantuan dari seluruh dunia jika bergerak serentak?
Kemarin, diumumkan bahwa 90% warga Gaza mengalami kelaparan ekstrem. Ini bukan sekadar angka, melainkan seruan kemanusiaan. Orang-orang, tua dan muda, meninggal secara perlahan dan mengerikan, sementara dunia menyaksikan dalam bungkam.
Genosida Terbesar dalam Sejarah Modern
Kantor Informasi Pemerintah Gaza pada Minggu 20 Juli memperingatkan akan bencana kemanusiaan tak tertandingi yang kini membayangi lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza. Penutupan total jalur distribusi bantuan, pemblokiran obat-obatan, makanan, dan bahan bakar selama 144 hari pengepungan, menjadikan kelaparan sebagai senjata pemusnah massal.
Menurut laporan Shahab News Agency, pernyataan resmi Kantor tersebut menyebut “Gaza kini bergerak menuju fase kematian massal. Kebutuhan dasar telah lenyap. Kelaparan sistematis terhadap penduduk sipil terus dijalankan sebagai kebijakan resmi penjajah.”
Korban yang paling terdampak adalah 1,1 juta anak-anak, sementara infrastruktur kesehatan dan bantuan kemanusiaan nyaris ambruk total. Komunitas internasional tampak lebih tertarik menjadi penonton sejarah daripada penyelamat kemanusiaan.
Dalam laporan terkini, 71 anak meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi. Gaza kekurangan bahan bakar untuk mengoperasikan rumah sakit, toko roti, dan stasiun air. Pemerintah Gaza menyerukan kepada masyarakat dunia dan organisasi kemanusiaan untuk segera bertindak, bukan sekadar prihatin.
Laporan Menggugah dari Al Jazeera
Jurnalis Al Jazeera, Anas Al-Sharif menerbitkan laporan lapangan yang mengguncang. Saat merekam situasi antrean makanan, kameranya menangkap kematian seorang perempuan lansia secara langsung. Ia tak kuasa menahan tangis, suaranya bergetar, dan ia hanya mampu berkata: “Gambar-gambar ini telah bicara… Gaza sedang dibantai dengan berbagai cara… Jika orang dewasa tak sanggup menahan lapar, bagaimana dengan anak-anak dan orang tua? Ini Gaza, mereka mati kelaparan, dan dunia hanya menyaksikan.”
Salah satu gambar yang viral menunjukkan seorang lelaki tua yang roboh sesaat setelah menyerahkan wadah makanan kosong, sebuah simbol tragis dari kehancuran martabat manusia. Jurnalis Palestina menulis di platform X bahwa mereka bahkan terlalu lapar untuk mengangkat kamera.
Kepedihan Gaza, Panggilan untuk Mesir
Mesir menjadi satu-satunya negara dengan jalur darat langsung ke Gaza. Namun, blokade tetap diberlakukan. Seorang pengguna Palestina menulis di media sosial: “Wahai rakyat Mesir, demi hak tetangga… Selamatkan kami. Kami sekarat karena kelaparan. Anggaplah makanan kalian sebagai utang untuk kami.”
Sebuah video juga beredar, seorang perempuan, lemah dan nyaris tak mampu berdiri, berkata dengan suara lirih: “Saya tak punya siapa-siapa… Sudah lima hari saya tidak makan… Saya tidak bisa berjalan jauh… Saya hanya lapar… Pinjamkan kami makanan.”
Api Perlawanan Masih Menyala
Sebagai tanggapan atas kebiadaban ini, pejuang Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, melancarkan serangan mortir ke markas komando tentara Zionis di utara Khan Yunis. Meski detail serangan tidak diungkap demi keamanan, serangan ini adalah pesan: perlawanan tidak pernah padam.
Dua Belas Negara Bersatu: Langkah Nyata Melawan Zionisme
Di tengah kelumpuhan banyak negara besar, dua belas negara dari belahan bumi selatan telah mengambil langkah nyata. Dalam Konferensi Kelompok Den Haag untuk Mendukung Palestina, negara-negara seperti Bolivia, Indonesia, Irak, Malaysia, Libya, dan Afrika Selatan mengumumkan sanksi terhadap Israel.
Langkah ini mencakup:
1. Penghentian ekspor senjata ke Israel
2. Pelarangan kapal senjata berlabuh di pelabuhan mereka
3. Peninjauan kontrak pemerintah yang berpotensi mendukung pendudukan Israel.
Ini bukan hanya deklarasi, melainkan adalah bentuk pembalasan terhadap kekebalan panjang rezim apartheid Zionis. Langkah kecil menuju tanggung jawab besar.
Tanggung Jawab Umat
Gaza bukan sekadar medan konflik; ia adalah cermin nurani umat manusia. Pengepungan ini bukan hanya strategi militer, melainkan adalah kejahatan terstruktur. Saat tubuh-tubuh kurus dan suara lemah dari Gaza memanggil dunia, pertanyaannya adalah:
Apakah kita akan menjawab? Atau terus bersembunyi di balik diplomasi kosong dan retorika aman?
