Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Respons Tajam Ayatullah Khamenei Soal ‘Omong Kosong’ AS: Hak Sah dan Kedaulatan Iran dalam Pengayaan Uranium Tak Perlu Restu Kekuatan Mana pun

Ayatullah Khamenei: Haji adalah Kewajiban Politik Sepenuhnya

POROS PERLAWANAN – Republik Islam Iran kembali menegaskan pendiriannya yang tegas dan tak tergoyahkan terkait haknya dalam pengayaan uranium. Menyikapi pernyataan terbaru dari pejabat tinggi Amerika Serikat yang kembali mempertanyakan legitimasi program nuklir Iran, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tampil langsung di hadapan publik pada Selasa 20 Mei untuk memberikan tanggapan yang tajam: “Amerika harus berhenti mengucapkan omong kosong.”

Pernyataan keras tersebut merupakan reaksi atas komentar Utusan Khusus Presiden AS dan negosiator utama Washington dalam pembicaraan nuklir, Steve Witkoff, yang menyatakan bahwa Amerika “tidak bisa membiarkan bahkan 1% kemampuan pengayaan uranium” ada di Iran. Sebuah sikap yang dipandang Teheran sebagai bentuk arogansi politik dan pelecehan terhadap kedaulatan nasional.

Ayatullah Khamenei dengan tegas menyatakan bahwa pengayaan uranium adalah hak sah Republik Islam dan tidak memerlukan restu dari kekuatan mana pun.

“Mengatakan bahwa ‘kami tidak akan mengizinkan Iran memperkaya uranium’ adalah kekeliruan besar,” tegas beliau. “Tidak ada yang menunggu izin dari siapa pun. Republik Islam memiliki kebijakan, metode, dan agendanya sendiri, dan kami akan terus menjalankannya.”

Skeptisisme terhadap Niat AS

Empat putaran perundingan tidak langsung antara Teheran dan Washington telah berlangsung sejak awal April, bertujuan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir JCPOA yang ditandatangani pada 2015, perjanjian yang ditinggalkan secara sepihak oleh Donald Trump pada 2018. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Ayatullah Khamenei, perundingan itu hingga kini belum menunjukkan hasil yang berarti.

“Pada masa Syahid Raisi, telah dilakukan pembicaraan tidak langsung. Namun, tidak membuahkan hasil. Sekarang pun, kami tidak yakin akan ada hasil, dan kami tidak tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya dengan nada skeptis.

Sikap AS yang terus-menerus menuntut penghentian pengayaan uranium Iran tanpa memberikan jaminan konkret atas pencabutan sanksi dan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dinilai hanya akan memperkeruh situasi.

The Tehran Times melaporkan bahwa pernyataan-pernyataan pejabat AS, termasuk Witkoff telah menimbulkan ketidakpercayaan yang semakin dalam di kalangan elite politik Iran. Kecurigaan terhadap motif AS bukanlah hal baru, namun kali ini diperkuat oleh retorika yang dinilai ofensif dan tidak berdasar.

Iran: Siap Berdialog, Tapi Tidak untuk Menyerah

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, juga menanggapi komentar dari Washington melalui platform X pada Selasa. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan eksternal dalam hal pengayaan uranium.

“Jika AS benar-benar ingin memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir, maka kesepakatan dapat dicapai. Kami siap berdialog secara serius untuk solusi yang menjamin hasil itu secara permanen. Akan tetapi, pengayaan akan tetap berlangsung, dengan atau tanpa kesepakatan”, tulis Araghchi.

Putaran kelima perundingan sejauh ini belum dijadwalkan. Meski tanggal dan lokasi telah diajukan, Teheran belum memberikan konfirmasi resmi. Juga belum jelas apakah penundaan ini berkaitan langsung dengan pernyataan terakhir dari Witkoff.

Kedaulatan Tidak untuk Dinegosiasikan

Pernyataan Ayatullah Khamenei mengirimkan pesan yang jelas: Republik Islam Iran tidak akan tunduk pada intimidasi politik, tekanan diplomatik, atau retorika hegemonik. Pengayaan uranium, yang menjadi bagian integral dari kemandirian teknologi dan energi Iran, adalah simbol dari kedaulatan nasional—bukan sekadar isu teknis yang bisa dikompromikan di meja perundingan.

Dalam dunia yang penuh standar ganda dan dominasi geopolitik, suara tegas seperti milik Ayatullah Khamenei menjadi pengingat bahwa kekuasaan tidak boleh menjadi alat untuk menentukan hak dasar suatu bangsa. Dunia mungkin terbiasa melihat negara-negara berkembang tunduk pada tekanan kekuatan besar, tetapi Iran, sebagaimana ditegaskan berkali-kali, bukan bangsa yang bisa diperintah dengan ancaman.

Oleh: Mona Hojat Ansari (Tehran Times)
Editor: Redaksi POROS PERLAWANAN

Tags: