Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Riyadh ‘Si Penyelamat Lebanon’ (Katanya)

POROS PERLAWANAN – Siapa sangka, di tengah panasnya gurun dan mewahnya istana-istana berlapis emas, Arab Saudi ternyata sedang sibuk menyelamatkan Lebanon. Bukan, bukan dari krisis ekonomi, kehancuran infrastruktur, atau eksodus kaum mudanya yang putus asa. Namun dari ancaman eksistensial yang katanya sangat mengerikan, yaitu Hizbullah dan senjatanya.

Begitulah. Rezim yang lebih dikenal karena hobinya membeli lukisan ratusan juta Dolar dan menggelar konser demi konser untuk membangun citra “modern”, kini justru semakin nyaring menabuh genderang perang politik di Beirut. Dengan semangat, yang sejujurnya lebih layak diarahkan untuk membangun rumah sakit di Yaman yang dihancurkan oleh bom mereka sendiri, Saudi kini tampil percaya diri seolah sebagai “pemimpin regional” yang konon peduli pada stabilitas.

Laporan terbaru dari Al-Akhbar pada 12 September menyebut bahwa Riyadh tidak hanya sibuk memprovokasi opini publik Lebanon agar membenci Hizbullah, tetapi juga berusaha menyingkirkan Nabih Berri dari jabatannya sebagai Ketua Parlemen. Karena, tentu saja, tidak ada yang lebih demokratis daripada intervensi asing yang mencoba mencopot pemimpin parlemen negara lain.

Lebih lucunya lagi, perubahan struktur pejabat Saudi yang menangani urusan Lebanon pun bukan semata pergantian nama. Tokoh yang sekarang bertugas, Yazid bin Farhan, tampaknya dipilih bukan karena keahlian diplomatik atau pemahaman terhadap dinamika Lebanon, melainkan karena… dendam pribadi terhadap Hizbullah. Sebuah diplomasi berbasis dendam pribadi, sungguh strategi geopolitik yang sangat matang.

Namun jangan salah, bukan cuma motif pribadi yang berperan. Tel Aviv pun disebut-sebut menggandeng tangan Riyadh dengan mesra, sebuah kisah cinta segitiga antara Saudi, Amerika, dan Israel semua bersatu demi “menyelamatkan” Lebanon dari Kelompok Perlawanan yang satu ini. Komunikasi antara Farhan dan pihak Zionis kabarnya mengalir lancar, lebih lancar daripada listrik di Beirut.

Tentu saja, semua ini tidak gratis. Saudi telah menggelontorkan dana besar (karena apa gunanya kekayaan minyak jika bukan untuk menyusun konspirasi di negeri lain?). Akan tetapi, jangan khawatir, mereka berjanji hanya akan membayar pihak-pihak yang bisa menunjukkan “jasa nyata”. Sebuah bentuk kapitalisme politik yang sungguh transparan, ketika dukungan dibayar tunai, asal bisa menghantam Hizbullah.

Menariknya, Riyadh juga telah menunjuk Perdana Menteri Nawaf Salam sebagai pion resmi dalam skema ini. Meski mereka sendiri kabarnya tidak terlalu suka kepadanya, tetapi ya… siapa lagi? Bahkan para tokoh Sunni yang sebelumnya enggan menyebut nama Salam kini “dianjurkan” (baca: ditekan) untuk mengakui dia sebagai satu-satunya representasi politik mereka. Demokrasi ala gurun memang punya cara unik untuk bekerja.

Kini, Saudi tak puas hanya bermain di gedung parlemen. Mereka diduga mendorong kelompok-kelompok di Lebanon untuk “menghadapi Hizbullah” bahkan di jalanan. Karena tidak ada yang lebih stabil daripada menyalakan api konflik sektarian di negara yang sudah nyaris bangkrut.

Mungkin suatu hari nanti, kita akan menyaksikan film dokumenter berjudul “Arab Saudi: Dari Pembom ke Pembebas”. Sebuah kisah epik tentang Kerajaan yang memulai perang di Yaman, menindas perbedaan di dalam negerinya sendiri, lalu berusaha “menata ulang” politik Lebanon demi stabilitas yang hanya mereka sendiri yang paham definisinya.

Sementara itu, rakyat Lebanon yang kekurangan listrik, air bersih, dan harapan, diminta percaya bahwa tangan Riyadh adalah tangan penyelamat. Sungguh, betapa sulit untuk tidak melihat ironi di balik retorika ini.

Tags: