Festival Belgia Batalkan Konser Filharmonik Munich karena Konduktornya Pro-Israel
POROS PERLAWANAN — Dialnsir Al Mayadeen, Festival Flanders di Ghent, Belgia, mengambil langkah berani dengan membatalkan konser Orkestra Filharmonik Munich setelah mencuat kekhawatiran terkait konduktor Israel, Lahav Shani, yang diketahui memiliki keterikatan langsung dengan rezim Pendudukan di Tel Aviv. Keputusan yang diumumkan pada Rabu 10 September lalu itu menyalakan perdebatan sengit di Eropa tentang boikot budaya yang kian meluas akibat perang genosida Zionis di Gaza.
Dalam pernyataannya, pihak Festival menegaskan bahwa pembatalan ini bukan sekadar keputusan teknis, melainkan lahir dari prinsip moral mendasar. “Musik seharusnya menjadi jembatan persatuan dan rekonsiliasi, bukan alat legitimasi bagi penjajahan,” demikian keterangan penyelenggara. Mereka mengakui bahwa Shani kerap berbicara soal “perdamaian”, namun perannya sebagai konduktor utama Orkestra Filharmonik Israel tidak bisa dipisahkan dari simbol keterlibatan budaya dalam menutupi wajah penjajahan.
Festival Flanders menambahkan bahwa langkah itu konsisten dengan seruan sektor budaya Belgia agar tidak memberikan ruang kepada institusi atau figur yang enggan menjauhkan diri dari rezim Zionis yang kini menghadapi tuduhan genosida.
Reaksi Jerman dan Belgia
Keputusan ini segera memicu amarah Berlin. Pejabat Budaya dan Media Jerman, Wolfram Weimer menyebut langkah Festival sebagai “aib bagi Eropa” dan menudingnya sebagai bentuk “antisemitisme nyata”. Direktur Artistik Orkestra Filharmonik Munich, Florian Wiegand, bahkan menyebut keputusan tersebut “tak terbayangkan” di jantung Uni Eropa.
Namun, di Belgia sendiri, tanggapan lebih beragam. Menteri Luar Negeri, Maxime Prévot menganggap langkah itu “berlebihan”, meski ia tidak menampik hak penyelenggara festival untuk menentukan sikap moral mereka.
Posisi Lahav Shani
Lahav Shani, 36 tahun, dijadwalkan memimpin Orkestra Filharmonik Munich mulai tahun depan. Dalam wawancara sebelumnya, ia secara terbuka menyatakan kebanggaannya mewakili “budaya” Israel di kancah internasional, bahkan menyebut dirinya sebagai duta negara Pendudukan. Ia juga mendukung agresi Militer Zionis di Gaza, meski di sisi lain mengkritik reformasi hukum Perdana Menteri Benyamin Netanyahu. Kritik tersebut baginya tidak berarti menolak rezim, melainkan hanya mempertanyakan arah politik internal Israel.
Perselisihan ini mengingatkan publik pada kasus maestro Rusia, Valery Gergiev yang dipecat pada 2022 karena menolak mengecam perang Rusia di Ukraina. Namun, bagi banyak kalangan, perbedaan konteksnya jelas: dukungan terhadap perang kolonial Israel bukan sekadar posisi politik, melainkan keterlibatan dalam proyek penindasan yang telah menelan ribuan nyawa Palestina.
Orkestra Filharmonik Munich memang menyandang sejarah besar dalam musik klasik Eropa. Namun, keputusan Festival Flanders mengirim pesan tegas: dunia budaya tidak bisa menjadi ruang netral ketika musik dijadikan selubung untuk menormalkan penjajahan dan genosida.
