Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Sambil Teriak ‘Allahu Akbar’ Yahudi Haredi Melawan Netanyahu di Tel Aviv

POROS PERLAWANAN – Puluhan Yahudi Haredi turun ke jalan di Tel Aviv pada Selasa malam 24 Desember, memprotes undang-undang wajib militer yang diterapkan pada komunitas mereka. Dalam aksi tersebut, salah satu demonstran dengan lantang meneriakkan, “Allahu Akbar!” sambil menyatakan, “Kami akan mati, tetapi tidak akan pernah bertugas di Militer Israel.”

Protes Meluas ke Bnei Brak

Menurut laporan Al Jazeera, sejumlah Yahudi Haredi di kota Bnei Brak, dekat Tel Aviv, memblokir salah satu jalan utama sebagai bentuk protes terhadap panggilan wajib militer. Demonstrasi ini menargetkan kebijakan Kabinet Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, yang berupaya merekrut mereka ke dalam Angkatan Bersenjata Israel.

Salah satu surat kabar terkemuka Israel, Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa puluhan demonstran memblokir Jalan Jabotinsky, yang menghubungkan kota Bnei Brak dengan Ramat Gan dan Petah Tikva. Sebelumnya, mereka menyebarkan pengumuman menyesatkan bahwa jalan raya utama lainnya, Jalan No. 4, akan ditutup, sehingga polisi awalnya dikerahkan ke lokasi yang salah.

Slogan-Slogan Kontroversial

Dalam protes tersebut, demonstran melakukan aksi duduk di jalan dan mengganggu lalu lintas sambil meneriakkan slogan-slogan seperti, “Allahu Akbar, kami akan mati, tetapi tidak akan menjadi tentara”, dan “Wajib militer adalah kehancuran bagi kami”. Ketika polisi mencoba membuka jalan secara paksa, para demonstran melontarkan seruan seperti, “Kalian adalah orang Arab” dan “Kalian adalah Nazi”.

Tindakan Kepolisian

Polisi Israel menyatakan aksi ini ilegal. Dalam sebuah pernyataan, mereka menegaskan bahwa meskipun hak untuk berdemonstrasi adalah bagian dari demokrasi, gangguan terhadap ketertiban umum tidak akan ditoleransi. Polisi mengalihkan lalu lintas ke rute alternatif dan membubarkan massa dengan paksa.

Pemimpin dan Statistik Penolakan

Kelompok demonstran ini dilaporkan berada di bawah pimpinan seorang tokoh Yahudi Haredi yang dikenal dengan pandangan ekstremnya, Rabbi Tzvi Friedman.

Data terbaru menunjukkan bahwa dari 3.000 pemuda Haredi yang dipanggil wajib militer sejak Juli lalu, hanya 330 yang melapor ke kantor perekrutan, dan hanya 59 yang benar-benar bergabung dengan Militer. Sebanyak 1.600 lainnya dilaporkan melarikan diri dari kewajiban ini, dan beberapa di antaranya telah mendapatkan surat perintah penangkapan.

Latar Belakang Hukum

Pada Juni lalu, Mahkamah Agung Israel mengeluarkan putusan yang mewajibkan Haredi untuk ikut wajib militer. Selain itu, pengadilan melarang pemberian bantuan keuangan kepada institusi keagamaan yang menampung siswa yang menolak wajib militer.

Komunitas Haredi, yang mencakup sekitar 13 persen dari populasi Israel, menentang kebijakan ini dengan alasan bahwa mereka mengabdikan hidup mereka hanya untuk mempelajari Taurat. Mereka juga percaya bahwa integrasi dengan masyarakat sekuler akan mengancam identitas religius dan kelangsungan komunitas mereka.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *