Sampaikan Belasungkawa, Ayatullah Sistani Sebut Paus Fransiskus ‘Sosok Perdamaian dan Pembela Kaum Tertindas’
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Tertinggi Spiritual Syiah yang bermukim di Irak, Ayatullah Sayyid Ali al-Husaini as-Sistani menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Umat Katolik, Paus Fransiskus. Ucapan duka tersebut disampaikan melalui surat resmi yang ditujukan kepada Sekretaris Negara Takhta Suci Vatikan, Kardinal Pietro Parolin.
Dalam surat tersebut, Ayatullah Sistani menggambarkan Paus Fransiskus sebagai sosok spiritual agung yang dihormati secara luas di berbagai belahan dunia karena komitmennya terhadap perdamaian, toleransi, serta pembelaan terhadap kaum tertindas dan mereka yang mengalami penderitaan.
“Beliau merupakan sosok yang menempati kedudukan spiritual yang agung di hati banyak bangsa di seluruh dunia, dan senantiasa dihormati oleh berbagai kalangan atas peran mulianya dalam mengupayakan perdamaian, mempromosikan toleransi, serta membela kaum tertindas”, tulis Ayatullah Sistani.
Ayatullah Sistani juga menyinggung pertemuan bersejarah antara dirinya dan Paus Fransiskus di kota suci Najaf al-Asyraf pada Maret 2021; sebuah momen yang menurutnya mengandung pesan universal tentang pentingnya iman, nilai moral, dan dialog lintas agama.
Pertemuan tersebut, lanjut pernyataan, mengukuhkan sejumlah prinsip bersama, di antaranya:
– Sentralitas iman kepada Tuhan Yang Mahatinggi
– Komitmen terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan
– Penolakan terhadap kekerasan dan kebencian
– Dukungan terhadap budaya hidup berdampingan secara damai
– Peneguhan prinsip persaudaraan insani dan penghormatan lintas agama.
Melalui surat itu pula, Marjaiyah Agung menyampaikan simpati mendalam kepada umat Katolik di seluruh dunia atas kehilangan besar ini, seraya memanjatkan doa agar mereka dianugerahi ketabahan dan penghiburan. Ayatullah juga mendoakan agar Allah Swt mencurahkan kebaikan, keberkahan, dan perdamaian kepada seluruh umat manusia.
Ungkapan belasungkawa dari Najaf ini mempertegas pentingnya solidaritas lintas keyakinan di tengah dunia yang terus dilanda konflik, kekerasan, dan ketidakadilan.
