Sanaa: Poros Perlawanan Bakal Balikkan Keadaan di Suriah
POROS PERLAWANAN – PM Yaman, Ahmad Ghalib al-Rahwi pada Sabtu malam 7 Desember menegaskan, AS-Inggris-Israel sama sekali tidak ingin kawasan Timteng merasakan kedamaian.
Dilansir Fars, al-Rahwi menyatakan, AS-Inggris-Israel baru akan hengkang dari Kawasan dengan satu syarat. Yaitu ketika Muslimin bangun dari tidur mereka dan membaca dengan tepat realita masalah serta konspirasi musuh.
“Dalam beberapa hari lalu, kita menyaksikan berhentinya serangan (Rezim Zionis) ke Lebanon. Namun setelah itu, perang terhadap Suriah sebagai negara Perlawanan telah dimulai,” kata al-Rahwi.
PM Yaman meyakini, tujuan perang tersebut adalah memutus pengiriman bantuan timbal balik antara Hizbullah dan Suriah. Namun, tegas al-Rahwi, musuh tidak akan berhasil, sebab Poros Perlawanan akan terjun ke lapangan dan membalikkan keadaan, sehingga merugikan para agresor.
Ia menyatakan, berlanjutnya larangan terbang berbagai maskapai dari bandara internasional Sanaa, yang diberlakukan oleh aliansi AS-Saudi-UEA atas Yaman, adalah pelanggaran nyata hukum dan perjanjian internasional.
Al-Rahwi juga menyoroti serangan berkelanjutan Koalisi Saudi ke bandara Sanaa. Ia menegaskan, Koalisi Saudi harus mencabut larangan yang mengharuskan penerbangan dari bandara Sanaa hanya ke satu destinasi saja.
“Kondisi saat ini sangat berbeda dengan masa lalu. Yaman telah menjadi begitu kuat sehingga bisa mendapatkan hak-hak sahnya kembali,” tandas al-Rahwi.
Situasi Suriah
Dalam 3 hari terakhir, kelompok-kelompok teroris tidak mendapatkan kemajuan. Sebab itu, mereka mulai menyebarkan hoaks dan isu. Sebuah sumber militer Suriah pada hari Sabtu kemarin menyatakan, kabar mundurnya Militer Suriah dari sekitar Damaskus adalah hoaks.
Menurutnya, propaganda media kelompok-kelompok teroris di medsis dan sejumlah kanal berita bertujuan untuk menebar ketakutan di tengah warga sipil Damaskus.
Panglima Besar Angkatan Bersenjata Suriah pada Sabtu pagi mengumumkan,”Pasukan aktif kita di Daraa dan Suwaida telah ditempatkan kembali dan mengubah posisi. Mereka membuat sebuah tembok pertahanan-keamanan kuat dan kompak di koridor tersebut. Ini dilakukan setelah anasir teroris menyerang ke pos-pos pemeriksaan dan lokasi penempatan Militer.”
