Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sayyid Hasan Nasrallah: Saat ini, Hanya Bicara Bela Palestina Saja, Ada Harganya

Sayyid Hasan Nasrallah: Saat ini, Hanya Bicara Bela Palestina Saja, Ada Harganya

POROS PERLAWANAN – Sekjen Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrallah dalam wawancara dengan al-Mayadeen bicara soal kemungkinan tindakan yang akan diambil Donald Trump di hari-hari mendatang.

Ia mengatakan, semua kemungkinan terkait hal ini bisa saja terjadi, apalagi dengan melihat karakteristik gila pada diri Trump. Namun, menurutnya, semua pernyataan dan tindakan itu tak lebih dari psy war AS-Israel terhadap Poros Perlawanan.

Meski menegaskan pentingnya menjaga kewaspadaan di hari-hari terakhir kekuasaan Trump, namun Sayyid Nasrallah menilai bahwa kegaduhan media yang dilakukan Zionis justru menunjukkan bahwa tak ada langkah nyata di balik semua hiruk-pikuk media ini.

Terkait Syahid Qassem Soleimani, Sekjen Hizbullah menyebutnya sebagai figur kharismatik yang mampu memengaruhi orang-orang yang bahkan belum mengenalnya.

“Saya merindukannya. Saya merasakan kehadirannya di sisi saya di banyak tempat, hari-hari berat, dan di saat-saat suka atau duka. Saya sangat mencemaskan dirinya sebelum ia gugur, dan kerap memberinya peringatan,” tutur Sayyid Nasrullah, seperti dilansir Fars.

Ia menyebut Syahid Abu Mahdi al-Muhandis sebagai orang yang sangat dekat dengan Syahid Soleimani. Ia mengatakan, andai Syahid Soleimani gugur sendirian, maka Syahid Abu Mahdi adalah orang yang paling berduka lantaran eratnya hubungan mereka.

“Abu Mahdi adalah salah satu orang yang pernah dicalonkan untuk menjadi PM Irak. Namun ia lebih memilih untuk berjuang di lapangan,” kata Sayyid Nasrallah.

Dalam wawancara tersebut, Sayyid Nasrallah menjelaskan bagaimana Hizbullah bisa memiliki rudal Kornet Rusia untuk digunakan dalam perang versus Israel. Ia menjelaskan, Kemenhan Suriah membeli rudal-rudal itu dengan uangnya, lalu memberikannya kepada Hizbullah.

Menurutnya, Syahid Soleimani adalah salah satu orang yang menghendaki agar rudal-rudal Kornet diserahkan kepada Poros Perlawanan di Gaza, karena ia tidak pernah berhenti mendukung perjuangan Palestina.

Presiden Bashar Assad, kata Sayyid Nasrallah, secara pribadi menyetujui pembelian dan pengiriman rudal buatan Rusia itu untuk Hamas dan Jihad Islami di Gaza.

Sekjen Hizbullah menyatakan, negara-negara Arab menjustfikasi normalisasi dengan mengaku “untuk membendung pengaruh Iran di Kawasan”. Padahal, menurutnya, negara-negara Arab ini menganggap Palestina sebagai beban yang memberati pundak mereka, sehingga mereka ingin terbebas darinya.

“Dahulu, AS dan Israel mempersilakan sebagian rezim Arab untuk berbicara apa saja sesuka hati (dalam membela Palestina dan mengecam Israel). Namun situasi hari ini sudah berubah. Hanya sekadar berbicara untuk membela Palestina pun memiliki konsekuensi tersendiri,” tandasnya.

Tags: