Sejumlah Kelompok Politik dan Perlawanan Irak Nyatakan Siap Perang Dukung Iran Meski Diancam AS
POROS PERLAWANAN — Sejumlah kelompok politik dan bersenjata di Irak menyatakan kesiapan memberikan dukungan militer penuh kepada Iran jika Amerika Serikat melancarkan serangan. Pernyataan tersebut disampaikan meski Washington sebelumnya melontarkan ancaman sanksi ekonomi terhadap Baghdad.
Mengutip laporan Press TV pada Selasa 27 Januari, kelompok-kelompok politik Irak menegaskan kesiapan menghadapi potensi konflik dengan Amerika Serikat. Washington dilaporkan mengancam akan memblokir pendapatan minyak Irak jika faksi-faksi pro-Iran dilibatkan dalam pemerintahan baru negara tersebut.
Dalam pernyataan terpisah, kelompok Kataib Hizbullah menyatakan kesiapan menghadapi “perang komprehensif” sebagai bentuk dukungan dan solidaritas kepada Republik Islam Iran. Sekretaris Jenderalnya, Abu Hussein al-Hamidawi menyerukan kesiapsiagaan para pejuang menghadapi berbagai kemungkinan eskalasi.
Sikap serupa disampaikan Organisasi Badr, partai politik berpengaruh dengan basis dukungan kuat di kalangan komunitas Syiah Irak. Kelompok ini menyatakan kesiapan menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “kesombongan Amerika–Israel” jika Iran menjadi sasaran serangan militer.
Sementara itu, Harakat al-Nujaba menyatakan akan bergabung dalam setiap respons atas serangan terhadap Iran. Anggota Biro Politik kelompok tersebut, Firas al-Yasser memperingatkan bahwa konflik semacam itu berpotensi menyeret seluruh Kawasan, termasuk negara-negara Arab Teluk dan Irak ke dalam perang yang lebih luas.
Al-Yasser menilai serangan terhadap Iran dapat memicu respons balasan yang lebih luas, mencakup target-target terkait Amerika Serikat di berbagai wilayah, tidak terbatas pada negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Ia juga menilai upaya melemahkan Iran merupakan bagian dari fase awal untuk menargetkan Irak di masa depan, seraya menekankan peran penting Kelompok Perlawanan Irak dalam menjaga stabilitas Kawasan.
Pernyataan keras tersebut muncul beberapa hari setelah Washington menyampaikan peringatan kemungkinan pembatasan akses Irak terhadap pendapatan minyak yang disimpan di Federal Reserve Bank of New York, apabila partai-partai pro-Iran dilibatkan dalam Pemerintahan Irak selanjutnya.
Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir juga berupaya membatasi hubungan ekonomi dan energi antara Baghdad dan Teheran, termasuk dengan membekukan pendapatan ekspor gas Iran di bank-bank Irak serta menghambat peningkatan impor energi dari negara tetangganya tersebut.
Kelompok-kelompok Irak yang bersimpati pada Iran menegaskan kembali komitmen mereka mendukung Teheran dan menentang keberadaan militer asing di kawasan Timur Tengah.
