Sekongkol Jahat Erdogan-Netanyahu Hancurkan Kedaulatan Suriah
POROS PERLAWANAN – Laporan terbaru dari Suriah pada Selasa 10 Desember, menunjukkan bahwa pernyataan Turki yang mengecam kemajuan militer Israel di selatan Suriah sejalan dengan pola deklarasi seremonial yang telah disampaikan selama lebih dari 400 hari terakhir untuk mengecam genosida di Gaza.
Menurut analis terkenal Lebanon dan pemimpin redaksi harian Al-Binaa, Nasser Qandil, Suriah saat ini menghadapi kehancuran sistematis akibat ulah Israel. Selama dua hari terakhir, serangan udara besar-besaran Israel telah menghancurkan aset ekonomi dan militer utama Suriah, termasuk fasilitas penelitian, pabrik, bandara, radar pertahanan udara, dan kapal perang. Semua ini, yang sebelumnya dibangun dengan keahlian para ilmuwan Suriah, menjadi target serangan tanpa perlawanan berarti dari kelompok pemberontak yang menguasai Damaskus atau dari para pendukung mereka.
Media global pun dianggap ikut serta dalam mengalihkan perhatian publik. Saat Israel melancarkan serangan brutal terhadap Suriah, fokus utama pemberitaan justru diarahkan pada isu penjara-penjara di Suriah seperti penjara Saydnaya yang terkenal.
Israel dan Strategi Ekspansi di Selatan Suriah
Seiring dengan kemajuan tank-tank Israel yang telah memasuki wilayah Quneitra dan Dataran Tinggi Golan, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menegaskan bahwa penguasaan penuh atas wilayah ini adalah final. Qandil menyatakan bahwa Israel tampaknya bertujuan menciptakan koridor keamanan di selatan Suriah, yang menghubungkan basis AS di Al-Tanf (dekat perbatasan Suriah-Irak-Yordania) dengan wilayah yang dikuasai milisi Kurdi di timur laut Suriah.
Dataran Tinggi Golan, yang telah diduduki Israel sejak Perang Enam Hari tahun 1967, adalah kawasan strategis dengan sumber daya alam penting seperti air dan tanah subur. Wilayah ini juga memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian dan pariwisata. Dengan memanfaatkan sumber daya ini, Israel berharap dapat memenuhi kebutuhan air mereka yang semakin kritis.
Turki dan Ambisi Ekonomi di Utara Suriah
Sementara itu, Turki, yang telah lama mendukung kelompok pemberontak di utara Suriah, tampak memusatkan upayanya untuk mengontrol kawasan-kawasan kaya minyak di utara Suriah, khususnya Aleppo. Sejak 2020, Turki telah memperkuat pengaruh ekonominya di kawasan tersebut dengan membangun infrastruktur, memperkenalkan Lira Turki sebagai alat tukar, dan meningkatkan ketergantungan ekonomi wilayah itu pada Turki.
Namun, dengan ekonomi domestik yang dilanda inflasi tinggi, depresiasi Lira, dan utang luar negeri yang signifikan, kemampuan Turki untuk membiayai proyek jangka panjang di Suriah sangat terbatas. Meski demikian, ada kemungkinan Turki akan mengandalkan dukungan internasional atau investasi sektor swasta untuk mempertahankan pengaruhnya.
Tantangan untuk Kedaulatan Suriah
Nasser Qandil memperingatkan bahwa strategi Israel dan Turki ini, yang tampaknya bekerja sama dalam menghancurkan kedaulatan Suriah, dapat membawa negara ini menuju perpecahan. Israel kemungkinan besar akan terus memperluas kendali di wilayah selatan Suriah, termasuk Quneitra dan Sweida, dengan membentuk zona otonom berbasis sektarian, seperti negara kecil Druze di Sweida.
Di sisi lain, Turki diperkirakan akan terus memperkuat pengaruhnya di utara untuk mencegah pembentukan wilayah otonom Kurdi, yang dapat memicu separatisme di dalam negeri Turki.
Ketergantungan pada AS dan Potensi Konflik Baru
Amerika Serikat, yang menguasai lebih dari 90% ladang minyak Suriah, tetap mempertahankan kehadirannya dengan alasan mencegah kebangkitan ISIS. Produksi minyak Suriah, yang sebelum perang mencapai 400 ribu barel per hari, kini hanya tersisa 15 ribu barel per hari.
Masih belum jelas bagaimana Turki akan menyikapi kehadiran AS di Suriah, terutama terkait penguasaan sumber daya minyak. Konflik sporadis yang baru-baru ini terjadi antara pasukan bayaran Turki dan milisi Kurdi di utara Suriah dapat menjadi tanda awal eskalasi yang lebih besar di wilayah timur, termasuk Hassakeh, Raqqa, dan Deir ez-Zor.
Suriah berada dalam persimpangan yang menentukan. Di satu sisi, ada upaya perlawanan terhadap intervensi asing yang berujung pada kehancuran. Di sisi lain, kelompok pemberontak Takfiri yang berkuasa di Damaskus tampaknya berada di bawah tekanan kuat untuk menerima syarat-syarat AS dan Israel demi keluar dari daftar teroris dan mengakhiri sanksi internasional. Jika tidak, nasib mereka mungkin tak jauh berbeda dari Pemerintahan Abd-Rabbu Mansour Hadi di Yaman.
