Selat Hormuz Memanas, Media Israel Akui Dominasi Iran dan Abaikan Istilah ‘Selat Trump’
POROS PERLAWANAN — Perkembangan terbaru di Selat Hormuz menunjukkan pergeseran narasi yang signifikan. Dalam beberapa hari terakhir, media berbahasa Ibrani secara luas menyoroti pesan Pemimpin Tertinggi Iran terkait pengelolaan Selat tersebut. Sementara itu, upaya Presiden AS, Donald Trump untuk mengganti nama jalur strategis itu menjadi “Selat Trump” justru tidak mendapat respons serius, bahkan dari sekutu terdekatnya.
Menurut laporan Fars News Agency pada Selasa 5 Mei, situasi di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman tidak hanya berkembang di lapangan, tetapi juga menjadi arena pertarungan psikologis dan media. Di tengah klaim operasi “Proyek Kebebasan” yang disebut-sebut membuat dinamika militer semakin intens, Washington dinilai masih berupaya meraih keunggulan di ranah opini publik.
Pekan lalu, Trump kembali memicu polemik dengan menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” melalui unggahan di platform media sosialnya. Langkah itu dipandang sebagai upaya mengalihkan perhatian dari realitas strategis di lapangan.
Sebaliknya, pesan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Mujtaba Khamenei, dalam peringatan Hari Nasional Teluk Persia berhasil mengalihkan fokus global ke Teheran. Bahkan media Israel yang selama ini kritis terhadap Iran cenderung mengakui narasi Iran tentang kontrol atas jalur vital tersebut.
Jaringan Channel 14 Israel, yang dikenal dekat dengan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, dalam laporannya menyebut bahwa pesan Ayatullah Mujtaba menegaskan Amerika Serikat tidak lagi memiliki tempat di Teluk Persia. Seorang analis dalam laporan itu menilai tidak ada pihak yang mampu menantang kedaulatan Iran di kawasan tersebut, termasuk AS.
Media itu juga mencatat bahwa pesan yang disampaikan menunjukkan demonstrasi kekuatan Iran secara terbuka. Dalam pernyataannya pada 30 April, Ayatullah Mujtaba menegaskan bahwa Iran akan menjamin keamanan kawasan Teluk Persia melalui pengelolaan Selat Hormuz serta menghentikan potensi penyalahgunaan oleh pihak yang dianggap musuh.
Nada serupa muncul dalam laporan Channel 12 Israel. Media tersebut menyebut Iran memandang dirinya unggul dalam dinamika Selat Hormuz. Mereka juga mengakui bahwa peringatan keras tentang keberadaan Amerika di kawasan datang langsung dari Sayyid Mujtaba Khamenei.
Sejak awal konflik yang disebut sebagai “Perang Ramadan”, Iran secara terbuka menyatakan akan mengambil alih pengelolaan Selat Hormuz. Otoritas Iran juga menegaskan bahwa kondisi Kawasan tidak akan kembali seperti sebelum konflik. Dalam pesan awalnya kepada publik, Ayatullah Mujtaba bahkan menyinggung opsi penutupan Selat sebagai instrumen untuk mempertahankan kepentingan nasional, yang kemudian menjadi pedoman strategis bagi Militer Iran.
Channel 12 dalam laporannya menambahkan bahwa kepemimpinan Iran terlihat aktif di lapangan dan siap merespons setiap tindakan di Selat Hormuz. Media tersebut menyimpulkan bahwa Iran secara efektif mendeklarasikan dirinya sebagai kekuatan dominan di jalur laut tersebut.
Di sisi lain, langkah Trump mengganti nama Selat Hormuz kembali menuai kritik. Para analis menilai pendekatan simbolik semacam itu tidak mencerminkan realitas geopolitik, dan lebih ditujukan untuk memengaruhi opini publik serta stabilitas harga energi global.
Menariknya, pada hari yang sama ketika unggahan nama baru itu beredar, pesan Ayatullah Mujtaba justru mendominasi perhatian internasional. Hal ini mempertegas persepsi global mengenai siapa yang memegang kendali aktual di Selat Hormuz.
Analis dan aktivis media asal Inggris, Bushra Sheikh, yang baru mengunjungi Bandar Abbas, menggambarkan situasi di lapangan dengan lugas. Menurutnya, kekuatan Iran terasa nyata di kawasan tersebut, dan langkah Trump dalam isu ini dinilai sia-sia dan tidak efektif.
