Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Seperti Apa Pembalasan Iran atas Teror terhadap Ilmuwan Nuklirnya?

Seperti Apa Pembalasan Iran atas Teror terhadap Ilmuwan Nuklirnya?

POROS PERLAWANAN – Dilansir al-Alam, sebagian analis berkeyakinan, Israel berani mengaku bertanggung jawab atas teror Mohsen Fakhrizadeh, karena tahu “bahwa Iran tak akan membalasnya.” Sebab Rezim Zionis mengklaim bahwa Iran tak ingin masuk perangkapnya, sehingga kehilangan kesempatan kembalinya Joe Biden ke JCPOA!

Jelas bahwa analisis ini sangat keliru dan dibangun atas pemahaman para analis ini, bukan subtansi persoalan. Para analis semacam ini acap kali membangun analisis mereka pada asumsi bahwa nasib Bumi dan penghuninya di tangan AS. Mereka menganggap Israel sebagai “kekuatan tak terkalahkan” dan Iran, sama seperti negara Islam lain, hanya bisa mundur dari hadapan Washington dan Tel Aviv.

Kesalahan analisis mereka didasari pemahaman keliru terhadap pemimpin dan rakyat Iran. Iran adalah negara logis. Sebab itu, semua keputusan di negara ini didahului dengan melihat semua aspek militer, keamanan, politik, dan ekonomi, serta mendefinisikan taktik dan strategi yang dibutuhkan. Iran tidak pernah mengambil keputusan secara dangkal dan emosional.

Tiada keraguan bahwa keputusan untuk membalas teror Syahid Fakhrizadeh sudah diambil. Namun, tak seperti yang dibayangkan sebagian orang, balasan ini tidak berupa “serangan dibalas serangan atau pukulan dibalas pukulan”.

Balasan Iran adalah gabungan dari perangkat keras dan lunak yang akan dijalankan secara bertahap. Cara ini akan membuat AS dan Israel membayar sangat mahal, serta memaksa mereka untuk memikirkan konsekuensi sebelum melakukan tindakan bodoh.

Ketika dikatakan bahwa respons Iran rumit dan bertahap, maksudnya sudah jelas. Balasan Iran tak hanya terbatas pada Trump atau Netanyahu saja, tapi juga mencakup Biden.

Balasan Iran sudah dilakukan pada hari usai teror dilakukan, yaitu hari ketika Parlemen Iran menugaskan Badan Energi Atom Iran untuk meningkatkan pengayaan uranium di fasilitas nuklir Fordow hingga 20 persen serta mengembalikan aktivitas reaktor air berat Arak ke masa sebelum JCPOA.

Dengan demikian, bukan hanya Trump dan Netanyahu yang harus menerima konsekuensi, tapi juga Biden. Sebelum ini, Biden berencana untuk memperluas lingkup JCPOA, sehingga akan membatasi program nuklir Iran.

Pembalasan keras pun pasti akan dilakukan. Trump dan Netanyahu lebih tahu dari siapa pun bahwa Iran telah merontokkan Global Hawk dari ketinggian 20 ribu meter saat melanggar zona udaranya. Iran telah memaksa AS dan Inggris untuk membebaskan tanker-tankernya di Gibraltar.

Iran juga telah menggempur pangkalan militer terbesar AS di Irak sebagai respons atas teror terhadap Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis; sebuah tindakan yang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II.

Iran pun sukses mengirim minyak ke Venezuela tanpa diusik armada laut AS. Jadi sudah jelas bahwa Iran tak akan membiarkan Trump dan Netanyahu begitu saja tanpa pembalasan.

Tags: