Serangan Baru Zionis terhadap Quneitra: Tentara Israel Terus Menculik Warga di Suriah Selatan
POROS PERLAWANAN — Sebuah organisasi media di Suriah melaporkan bahwa serangan berkelanjutan oleh pasukan pendudukan Zionis terhadap warga sipil di Suriah selatan terus terjadi. Hingga saat ini, lembaga tersebut telah mendokumentasikan sedikitnya 39 kasus penculikan warga Suriah oleh tentara Israel.
Dikutip dari Kantor Berita Tasnimnews pada Kamis (6/11), rezim Zionis dilaporkan terus melakukan agresi dan memperluas pendudukan di wilayah selatan Suriah di tengah sikap pasif pemerintahan Abu Muhammad al-Jolani. Laporan-laporan terbaru menyebutkan, sejumlah warga sipil Suriah menjadi korban penganiayaan dan penyiksaan oleh pasukan Israel.
Menurut laporan terbaru Institut Media Golan, serangan militer Israel dan penculikan warga terus berlanjut. Serangan terbaru terjadi pada Rabu (5/11), di desa Ruwaiheena, pedesaan Quneitra, di mana pasukan agresor Israel mendirikan pos pemeriksaan sementara untuk menggeledah warga.
Pemimpin redaksi lembaga tersebut, Fadi Al-Asma’i, dalam wawancaranya dengan Al-Arabi Al-Jadeed, menyatakan bahwa institusinya telah mendokumentasikan nama lengkap 39 warga yang diculik oleh pasukan pendudukan Israel di wilayah selatan Suriah, khususnya di Quneitra dan sekitarnya.
Ia menambahkan, “Di antara korban penculikan terdapat anak-anak kecil. Komite Internasional Bulan Sabit Merah Suriah telah menghubungi pengacara kami dan memberikan nomor kontak khusus untuk menindaklanjuti kasus para korban penculikan oleh pasukan Israel.”
Fadi menegaskan bahwa lembaganya berupaya mencatat seluruh nama warga yang diculik untuk menekan organisasi internasional agar mengambil tindakan nyata terhadap agresi Israel di Suriah selatan, serta menuntut penyelidikan atas kasus penculikan tersebut guna mengungkap nasib para korban.
Menurut pernyataan Institut Media Golan, pengacara mereka, Ahmed Al-Moussi, telah memulai proses pendataan nama-nama warga yang ditahan dan melakukan koordinasi dengan lembaga internasional terkait sebagai bagian dari upaya advokasi hak asasi manusia. Tujuannya adalah memperjelas nasib para korban serta menjamin perlindungan hukum dan hak asasi mereka.
Organisasi tersebut juga menyerukan kepada keluarga para tahanan agar segera melapor ke lembaga resmi dan internasional, serta berkoordinasi dengan aktivis hak asasi manusia untuk mendokumentasikan kasus penangkapan dan menuntut pembebasan mereka melalui jalur hukum.
Sementara itu, sumber-sumber lokal melaporkan bahwa wilayah selatan Suriah kembali menjadi sasaran serangan baru Israel sejak Rabu pagi.
Aktivis media Youssef Al-Musleh mengatakan kepada Al-Arabi Al-Jadeed bahwa pasukan Israel, terdiri dari dua tank dan empat kendaraan militer memasuki kota Jabatha Al-Khashab di pedesaan utara Quneitra dan mendirikan pos pemeriksaan di pintu masuk tambang batu yang menghubungkan kota itu dengan desa Ain Al-Bayda.
Menurutnya, “Pasukan pendudukan sempat menahan dua pemuda, Abdullah Khalil Al-Jafari dan Muhammad Ibrahim Al-Jafari, dari desa Ma’ariyyah, selama sekitar sepuluh jam saat mereka sedang menggembalakan domba, sebelum akhirnya dibebaskan.”
Namun, tiga pemuda lainnya asal Daraa telah ditahan selama sekitar satu bulan tanpa informasi apa pun mengenai keberadaan mereka, memicu kekhawatiran serius atas nasib mereka.
Di sisi lain, surat kabar Lebanon Al-Akhbar melaporkan bahwa jumlah warga Suriah yang diculik oleh pasukan Zionis di selatan Suriah kini telah mencapai lebih dari 46 orang, termasuk remaja dan anak di bawah umur. Mereka dilaporkan ditahan dengan dalih palsu dan mengalami penyiksaan.
Sebagai contoh, pada 17 September lalu, pasukan Israel menculik dua pemuda Suriah, Muhammad dan Mahmoud Meryoud, keduanya berusia di bawah 18 tahun di desa Ofania, Quneitra. Hingga kini, keduanya belum dibebaskan.
Laporan lain menyebutkan bahwa rezim Israel mengklasifikasikan tahanan Suriah sebagai “pejuang ilegal” dan memperlakukan mereka sebagaimana warga sipil Palestina yang ditahan dari Jalur Gaza setelah perang.
Undang-Undang Pejuang Ilegal, yang disahkan Israel pada tahun 2002, memungkinkan penahanan tanpa batas waktu terhadap individu tanpa dakwaan atau pengadilan, serta membatasi akses organisasi internasional terhadap kasus-kasus tersebut.
Sumber-sumber lokal Suriah menegaskan bahwa pasukan Zionis secara rutin menargetkan warga sipil tak bersenjata, tindakan yang jelas melanggar kedaulatan Suriah. Hingga kini, pemerintah di wilayah Golan belum menunjukkan sikap resmi terhadap pelanggaran berulang tersebut, yang menimbulkan pertanyaan besar tentang stabilitas keamanan di Suriah selatan.
