Sikap Baru Trump terhadap Iran: Ancaman Lama dalam Balutan Janji Kesepakatan
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara terbaru dengan Time Magazine pada Jumat 25 April, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan retorika ambigu mengenai Iran. Di satu sisi, ia mengisyaratkan kemungkinan kesepakatan nuklir; di sisi lain, ia tetap mempertahankan nada ancaman yang telah menjadi ciri khasnya terhadap Republik Islam Iran.
Trump, menuding Pemerintahan Joe Biden sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan Hamas terhadap entitas Zionis pada 7 Oktober lalu. “Selama saya menjabat, Hamas, Hizbullah, dan Iran tidak memiliki uang,” klaimnya. Ia bahkan menyatakan bahwa “Iran bangkrut selama era Trump”.
Ironisnya, dalam wawancara yang sama, Trump mengeklaim bahwa dirinya justru mencabut sejumlah sanksi terhadap Iran dan memungkinkan Teheran mengakses dana sebesar 300 miliar Dolar AS selama masa jabatannya, pernyataan yang bertolak belakang dengan catatan kebijakan keras pemerintahannya yang dikenal dengan “Tekanan Maksimum”.
Saat ditanya apakah ia pernah mencegah Israel menyerang situs nuklir Iran, Trump menampik tuduhan tersebut. “Itu tidak benar,” jawabnya. Ia justru mengeklaim bahwa dirinya hanya mempersulit Israel untuk melancarkan serangan, karena, katanya, “Saya pikir kita bisa mencapai kesepakatan tanpa harus menyerang. Saya harap kita bisa. Tapi mungkin kita harus [menyerang], karena Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Trump menambahkan bahwa pada akhirnya, ia akan membiarkan keputusan itu berada di tangan Israel, meski secara pribadi ia “lebih memilih kesepakatan daripada menjatuhkan bom”.
Ketika ditanya apakah Israel mungkin menyeret Amerika ke dalam perang terbuka melawan Iran, Trump menjawab singkat: “Tidak.”
Narasi Trump yang berayun antara diplomasi semu dan ancaman militer menunjukkan bahwa bahkan janji kesepakatan dari Washington tak lebih dari senjata tekanan dalam balutan bahasa diplomatik. Dalam peta konflik yang semakin memanas, pernyataan ini menjadi penanda bahwa skenario perang masih mengintai, meski dibungkus dengan retorika damai.
