Sikap Perlawanan Irak terhadap Takfiri di Suriah: Jika Mereka Kembali, Kami Juga Akan Kembali
POROS PERLAWANAN – Kelompok-kelompok Perlawanan Irak memandang meningkatnya ketegangan di Suriah, yang terjadi setelah gencatan senjata di Lebanon, sebagai bagian dari “rencana baru Zionis-Amerika” dengan melibatkan sekitar 15 organisasi teroris.
Sumber yang dekat dengan Kelompok Perlawanan Irak kepada situs Baghdad al-Youm, pada Sabtu 30 November mengatakan bahwa mereka terus memantau perkembangan di Suriah dengan koordinasi bersama. Menurutnya, saat ini terdapat 13 hingga 15 organisasi yang terlibat, yang secara ideologis terinspirasi oleh tokoh-tokoh seperti al-Zarqawi. “Hal ini menunjukkan munculnya generasi ketiga teroris dengan anggota dari 40 kebangsaan berbeda,” ujarnya.
Dampak Keamanan Regional
Sumber tersebut memperingatkan bahwa situasi di Suriah akan membawa dampak keamanan negatif yang meluas ke wilayah lain, termasuk Ibu Kota negara-negara Arab. Ia menegaskan bahwa kelompok ekstremis yang terlibat mendapat dukungan dari berbagai Badan Intelijen, termasuk dari Amerika Serikat dan Israel, selama bertahun-tahun.
Ia juga menyoroti waktu serangan di Suriah menunjukkan keterkaitan erat antara kelompok teroris ini dengan Zionisme dan Amerika Serikat. “Siapa pun yang menyalakan api ini harus sadar bahwa konsekuensinya pada akhirnya akan menimpa dirinya sendiri,” tambahnya.
Posisi Perlawanan Irak
Melihat kondisi ini, Kelompok Perlawanan Irak berencana mengeluarkan pernyataan resmi terkait sikap mereka terhadap perkembangan ini. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Suriah pada Kamis malam mengeluarkan pernyataan resmi bahwa pasukan Militer Suriah telah terlibat dalam pertempuran melawan kelompok-kelompok teroris yang menyerang Aleppo dan Idlib. Para teroris tersebut telah melanggar kesepakatan de-eskalasi.
Dimensi Zionis-Amerika dalam Konflik
Para analis politik menyebutkan bahwa pengaktifan kembali kelompok teroris di Suriah adalah bagian dari strategi Zionis-Amerika setelah kekalahan mereka di Lebanon dan Palestina.
Pernyataan-pernyataan dari Kelompok Perlawanan Irak, seperti Harakat al-Nujaba dan Kata’ib Sayyid al-Shuhada, menegaskan bahwa Israel berada di balik aksi teroris di Suriah. Kedua Kelompok Perlawanan ini juga berjanji untuk mengambil tindakan melawan para teroris tersebut.
Respons dari Pemimpin Perlawanan
Wakil militer Harakat al-Nujaba, Abdul Qader al-Karbala’i, melalui platform media sosial X menulis bahwa kembalinya kelompok teroris Wahhabi ke Suriah adalah ancaman terhadap rakyat sipil dan tempat-tempat suci. Ia menegaskan langkah ini terjadi atas perintah Zionis, terutama setelah kegagalan proyek Netanyahu di Lebanon. “Jika mereka kembali, maka kami juga akan kembali. Medan pertempuran akan menjadi bukti nyata”, tulisnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kata’ib Sayyid al-Shuhada, Abu Ala’ al-Walai menyebut bahwa aksi teroris di Suriah dan upaya menciptakan kekacauan di Yaman dilakukan di bawah arahan dan dukungan langsung Israel. Ia memperingatkan bahwa tujuan Israel adalah melemahkan negara-negara dalam Poros Perlawanan dari dalam. Al-Walai juga menyerukan kewaspadaan dan kesiapan untuk menghadapi upaya serupa di masa mendatang, serta mengakhiri sumber utama ketegangan tersebut.
Serangan yang dilancarkan kelompok-kelompok teroris di Suriah merupakan bagian dari strategi Zionis-Amerika untuk mengacaukan stabilitas kawasan. Namun, kelompok perlawanan seperti Hizbullah Lebanon, Hashd al-Shaabi Irak, Zaenabiyun Afghanistan, dan Fatimiyun Pakistan tidak akan tinggal diam. Mereka bertekad melindungi tempat-tempat suci dari ancaman Takfiri, melawan skenario destruktif ini, dan mengembalikan keseimbangan di medan pertempuran.
