Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Simpang Siur Kabar ‘Kemajuan Perundingan Pertukaran Tahanan’ di Doha

POROS PERLAWANAN – Sementara seorang jurnalis Israel mengeklaim bahwa kemajuan telah dicapai dalam perundingan di Doha, sejumlah media Arab justru melaporkan bahwa negosiasi tersebut menemui jalan buntu akibat penghalangan dari Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

Menurut laporan Kantor Berita Samanews pada Sabtu 17 Mei, seorang jurnalis yang memiliki koneksi dengan pusat-pusat pengambilan keputusan di rezim Israel, Barak Ravid mengutip pernyataan seorang pejabat Amerika yang menginformasikan bahwa ada kemajuan dalam perundingan Doha terkait kesepakatan pertukaran tahanan dan gencatan senjata di Gaza. Namun, implementasi kesepakatan tersebut masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi.

Ravid juga menyebutkan bahwa Perdana Menteri Qatar telah bertemu malam itu dengan Kepala Tim Negosiasi Hamas, Khalil al-Hayya, untuk membahas proposal perundingan guna menentukan apakah Hamas akhirnya akan menyetujui kesepakatan parsial yang tidak serta-merta mengakhiri permusuhan.

Ia menambahkan bahwa seorang pejabat Israel menyatakan kesediaan Hamas untuk melanjutkan negosiasi adalah hasil dari dua faktor:

1. Operasi militer Israel yang memperluas serangan darat di Jalur Gaza.
2. Tekanan Amerika terhadap Qatar, yang kemudian diteruskan kepada Hamas.

Di sisi lain, Saluran 12 Israel, mengutip seorang pejabat rezim melaporkan bahwa Netanyahu telah memberikan kewenangan penuh kepada tim negosiasi Israel.

Selain itu, reporter jaringan KAN Israel, Suleiman Maswadeh menyatakan bahwa setelah perkembangan terbaru ini, Netanyahu memutuskan agar tim negosiasi Israel tetap berada di Doha.

Namun, situasi ini bertolak belakang dengan laporan TV Al-Arabi, yang mengutip sejumlah sumber yang menyebut bahwa putaran baru perundingan tidak langsung telah terhenti akibat penolakan Netanyahu terhadap segala proposal atau formula yang mengarah pada penghentian perang.

Sumber tersebut juga menegaskan bahwa tim negosiasi Israel tiba di Doha tanpa membawa kewenangan nyata apa pun, memperkuat kesan bahwa Netanyahu sengaja menghambat proses perdamaian.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *