Slovenia Hentikan Seluruh Perdagangan Senjata dengan Israel, Kritik Kelambanan Uni Eropa
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Slovenia menjadi negara Uni Eropa pertama yang secara resmi melarang semua bentuk perdagangan senjata dengan Israel sebagai tanggapan atas agresi yang terus berlangsung di Gaza. Keputusan ini diumumkan Pemerintah Slovenia pada Kamis 31 Juli, sebagai langkah sepihak menyusul ketidakmampuan Uni Eropa mengambil tindakan konkret terhadap krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah tersebut.
Larangan ini mencakup penghentian total ekspor, impor, dan transit senjata serta peralatan militer antara Slovenia dan Israel, termasuk yang melintasi wilayah Slovenia. Pemerintah menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena UE gagal memenuhi seruan Slovenia untuk bertindak dalam kurun waktu dua minggu yang telah ditentukan sebelumnya.
“Slovenia adalah negara Eropa pertama yang mengambil langkah tegas ini,” kata pernyataan resmi Pemerintah, sembari menggarisbawahi bahwa tindakan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral di tengah kegagalan kolektif Uni Eropa.
Slovenia menggambarkan situasi di Gaza sebagai bencana kemanusiaan yang disengaja. “Warga sipil sekarat di bawah reruntuhan, tanpa akses ke air, makanan, atau perawatan medis. Ini adalah penolakan total terhadap akses kemanusiaan,” tulis pernyataan tersebut.
Pemerintah juga mengecam negara-negara yang dianggap secara sistematis menghambat bantuan dan memperpanjang penderitaan warga Gaza.
Dalam KTT Uni Eropa pada 28 Juni di Brussels, Perdana Menteri Slovenia, Robert Golob menyampaikan kritik keras terhadap pendekatan Eropa yang dinilainya terpecah dan lebih mementingkan kepentingan politik dalam negeri masing-masing negara daripada perlindungan terhadap rakyat Palestina.
Langkah larangan ini mengikuti keputusan penting lainnya yang diambil Slovenia. Pada 6 Juni 2024, mayoritas anggota Parlemen Slovenia memilih untuk mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat, bergabung dengan Spanyol, Irlandia, dan Norwegia dalam pengakuan simbolis dan diplomatik terhadap kedaulatan Palestina.
Dengan kebijakan ini, Slovenia menegaskan posisinya sebagai pelopor moral di Eropa dalam menghadapi krisis Gaza, dan menyerukan negara-negara lain untuk tidak tinggal diam di tengah penderitaan manusia yang terus terjadi.
