Sumber Hamas: Yahya Sinwar Tidak Makan Apapun Selama Tiga Hari Sebelum Syahid
POROS PERLAWANAN – Menukil laporan Harian Asharq Al-Awsat, pada Senin 4 November, berdasarkan keterangan yang mereka peroleh dari “sumber tepercaya di dalam Hamas”, detail terbaru mengenai pergerakan dan aktivitas syahid Yahya Sinwar di Gaza sebelum ia gugur telah terungkap.
Menurut laporan Asharq Al-Awsat berdasarkan informasi dari berbagai sumber yang dekat dengan Gerakan Hamas, mereka mengungkapkan bahwa pasukan militer rezim Pendudukan telah mendekati Yahya Sinwar setidaknya lima kali sebelum kesyahidannya. Sinwar syahid dalam operasi militer reguler oleh pasukan Israel di daerah Tel Sultan, Rafah, selatan Jalur Gaza, bulan lalu.
Sumber-sumber ini juga merinci pergerakan Kepala Biro Politik Hamas dan para pengawalnya selama masa perang. Mereka mengungkap bahwa Sinwar sempat mengirimkan pesan berisi informasi tentang syahidnya Ibrahim Muhammad Sinwar, keponakannya yang bersamanya pada saat itu, serta lokasi pemakamannya untuk keluarga.
Pesan itu, menurut sumber-sumber tepercaya yang dikutip oleh Asharq Al-Awsat, baru sampai ke keluarga saudaranya dua hari setelah Yahya Sinwar syahid. Proses pengiriman pesan ini memakan waktu hingga dua bulan karena pertimbangan keamanan ketat yang selalu dijalankan oleh syahid Sinwar.
Laporan ini juga mengungkap bahwa pasukan Israel menemukan rekaman dari kamera yang terpasang di dalam terowongan di Khan Yunis. Rekaman itu menunjukkan Sinwar sedang memindahkan sejumlah barang ke dalam terowongan beberapa jam sebelum serangan 7 Oktober 2023, (Operasi Badai Al-Aqsa), dan juga pada hari serangan itu. Ia dilaporkan berada di dalam terowongan bersama keluarganya.
Meski demikian, tentara Israel gagal menangkap Sinwar di terowongan Khan Yunis. Akibat pengejaran yang terus-menerus, Yahya Sinwar bahkan harus memindahkan istri dan anak-anaknya ke lokasi lain.
Sumber yang disebut Asharq Al-Awsat sebagai “sumber tepercaya” juga menyebutkan bahwa istri dan anak-anak Sinwar saat ini dalam kondisi sehat. Mereka bahkan sempat menerima pesan-pesan tertulis dari Yahya Sinwar setiap 45 hari sekali selama masa pelarian.
Operasi Khan Yunis
Pada Januari, pasukan Pendudukan Israel melancarkan serangan ke Khan Yunis dengan harapan bisa menemukan syahid Yahya Sinwar yang diduga bersembunyi di salah satu terowongan kota itu. Selama periode ini, Yahya Sinwar bersama saudara lelakinya, Muhammad Sinwar, juga beroperasi bersama Komandan Batalion Khan Yunis, Muhammad Deif dan Rafi Salama. Meski mereka berempat bekerja sama, ada saat-saat di mana mereka harus terpisah sementara selama perang, sesuai kondisi medan pertempuran. Mereka kadang berkumpul selama beberapa jam atau hari, lalu berpencar tergantung situasi lapangan.
Sebuah Insiden yang Tak Terduga
Sumber yang dirujuk oleh Asharq Al-Awsat mengungkapkan sebuah rahasia yang diketahui hanya oleh sedikit orang. Suatu hari, pasukan Israel berada hanya beberapa puluh meter dari rumah tempat Yahya Sinwar bersembunyi. Di rumah itu, Sinwar hanya ditemani oleh satu orang yang membantu dalam persembunyian dan juga berperan sebagai pengawal pribadinya.
Sinwar sudah bersenjata dan siap untuk bertempur jika pasukan Israel menyerbu rumah tersebut. Namun, secara mengejutkan, para pejuang Hamas tiba-tiba muncul dengan cara yang tidak terduga. Mereka, yang sedang bergerak melalui medan perang kota dengan membobol dinding-dinding rumah, secara kebetulan masuk ke rumah tempat Sinwar berada dengan menghancurkan salah satu dinding. Dalam pertemuan itu, mereka tidak sengaja bertemu dengan Sinwar, yang tengah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Syahid Yahya Sinwar Segera Dievakuasi ke Tempat Aman
Syahid Yahya Sinwar langsung meninggalkan rumah persembunyiannya setelah itu, dan para pejuang Hamas memindahkannya melalui lubang-lubang di dinding rumah-rumah sekitar yang telah mereka buat. Sinwar kemudian dievakuasi ke rumah aman yang berjarak sekitar satu kilometer. Dari sana, ia kembali dipindahkan ke lokasi lain, di mana ia bertemu kembali dengan saudaranya, Muhammad Sinwar, dan Rafi Salama. Ketika operasi militer Israel meluas dan hanya berjarak beberapa puluh meter dari Rumah Sakit Al-Nasser, mereka bertiga terpaksa berpisah.
Sumber yang mengetahui situasi tersebut menyatakan bahwa atas desakan saudaranya, Muhammad Sinwar, Rafi Salama, dan para pejuang Hamas, Yahya Sinwar terpaksa meninggalkan Khan Yunis pada Februari lalu dan bergerak ke Rafah. Saat itu, pasukan Pendudukan Israel telah hampir sepenuhnya menguasai Khan Yunis dan menerapkan pengepungan yang sangat ketat. Meski demikian, melalui pergerakan bawah tanah dan di atas tanah, ia berhasil dipindahkan dengan aman ke kota Rafah.
Keponakan yang Setia Hingga Akhir
Sumber-sumber yang terkait dengan Hamas mengungkapkan bahwa Ibrahim Muhammad Sinwar, putra Muhammad Sinwar (saudara Yahya Sinwar yang juga seorang pemimpin Brigade Qassam yang terkemuka), tidak pernah meninggalkan pamannya sepanjang perang. Baik Yahya maupun Muhammad menamai putra sulung mereka dengan nama Ibrahim.
Ibrahim Muhammad Sinwar syahid pada Agustus di Rafah. Ia tertembak ketika keluar dari mulut terowongan untuk mengamati pergerakan pasukan Pendudukan Israel. Yahya Sinwar kemudian mengirim pesan kepada keluarga saudaranya, menjelaskan bagaimana Ibrahim syahid serta lokasi pemakamannya di terowongan bawah tanah. Sinwar juga menyebut bahwa ia telah menyalatkan jenazah keponakannya. Pesan tersebut baru sampai ke keluarga dua hari setelah kesyahidan Sinwar, meskipun pengiriman pesan memakan waktu lebih dari dua bulan.
Pesan Terakhir untuk Keluarga, Pengorbanan Tanpa Cela
Sampainya pesan kepada keluarga Muhammad Sinwar mengenai kematian putra sulung mereka, dua hari setelah syahidnya Yahya Sinwar, memperlihatkan betapa rumit dan ketatnya situasi keamanan yang dihadapi Kepala Biro Politik Hamas itu. Dalam kondisi terus diburu oleh Israel, Yahya Sinwar mengadopsi langkah-langkah yang sangat hati-hati agar tidak memberikan celah yang dapat dimanfaatkan oleh militer Pendudukan.
Hal ini juga menjelaskan mengapa ia syahid secara “kebetulan” di tengah operasi militer. Sumber-sumber yang dikutip oleh Asharq Al-Awsat mengungkapkan bahwa Sinwar tinggal di Rafah selama beberapa bulan, berpindah-pindah di berbagai area, baik di bawah tanah maupun di atas permukaan. Mulai akhir Mei, ia bermukim di wilayah barat Rafah, tetap menjalankan operasi meski dalam kondisi yang sangat menantang.
Metode Komunikasi Unik dan Aman
Selama berpisah dari saudaranya, Muhammad Sinwar, Muhammad Deif, dan Rafi Salama, Sinwar tetap berkomunikasi secara berkala melalui pesan tertulis, menggunakan metode yang sangat aman dan unik. Ia juga menggunakan pendekatan yang sama untuk berhubungan dengan pemimpin Hamas di dalam maupun luar Palestina, terutama dalam komunikasi dengan para mediator terkait usulan gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Syahid dalam Keadaan Lapar
Menurut sumber yang dirujuk Asharq Al-Awsat, Yahya Sinwar dan para pengikutnya sangat sulit mendapatkan makanan. Selama tiga hari terakhir sebelum syahid, mereka bahkan tidak sempat makan sama sekali. Dari barang-barang yang ditemukan bersama jasadnya, beberapa permen menjadi bukti bahwa makanan terakhirnya hanyalah beberapa butir permen.
Selama 15 hari terakhir hidupnya, Mahmoud Hamdan, Komandan Batalion Tel Sultan, yang juga syahid sehari setelah Sinwar, berusaha mengevakuasi Sinwar ke tempat yang lebih aman. Namun, gencarnya operasi militer Israel di area tersebut membuat upaya ini tidak berhasil.
Sumber-sumber juga menyatakan bahwa Yahya Sinwar bersikeras untuk tetap ikut dalam berbagai operasi militer, meskipun ia berkali-kali harus berpindah lokasi akibat kondisi perang yang mendesak. Ia juga sempat terlibat langsung dalam beberapa pertempuran sengit dengan militer Pendudukan.
Meski demikian, hingga saat ini, Gerakan Perlawanan Hamas masih belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan ini.
