Suriah Hadapi Gelombang Penculikan Pria dan Wanita oleh Militer Israel
POROS PERLAWANAN – Di tengah kebungkaman Pemerintah Suriah, dokumen-dokumen baru menunjukkan bahwa Militer Israel telah menculik setidaknya 39 pria dan wanita Suriah, termasuk beberapa anak-anak, di Quneitra, Daraa, dan Rif Damaskus dalam beberapa bulan terakhir.
Diberitakan Fars, keluarga Muhammad Mohsen Ahmad, seorang pemuda yang diculik oleh tentara pendudukan Israel hampir sepuluh bulan yang lalu, sedang mengalami hari-hari yang sangat sulit.
Ibu pemuda tersebut, bersama istrinya dan anak-anaknya, tidak bisa kembali ke rumah tempat Muhammad diculik di sebuah desa di Provinsi Quneitra, Suriah barat daya. Muhammad adalah salah satu dari puluhan pemuda yang diculik dalam beberapa bulan terakhir selama serangkaian serangan oleh pasukan Pendudukan di berbagai wilayah Provinsi Rif Damaskus, Daraa, dan Quneitra.
Saat ini, keluarga Muhammad tinggal di kawasan ‘Jdeideh al-Fadel’ di provinsi Damaskus. Mereka tinggal di sana lantaran ketakutan untuk kembali ke rumah asli mereka di pedesaan Quneitra. Jamila Muhammad Dziban Saleh, ibu Mohammad, menjelaskan kepada al-Arabi al-Jadeed bahwa pasukan Pendudukan telah menculik putranya dua kali sejauh ini. Setiap kali, mereka membebaskannya di dekat rumah mereka di peternakan Um al-Lqas’, dekat kota al-Ma’alaqa.
Dia mengatakan, penculikan terbaru terjadi pada Februari 2025, ketika pasukan Israel mendobrak pintu rumah mereka pada pukul dua pagi. Mereka menakuti-nakuti keluarga dan membawa Muhammad, yang lahir pada tahun 1985, yang sedang tidur di sisi istrinya dan anak-anaknya, dan membawanya ke lokasi yang tidak diketahui.
Saleh, yang berusia 62 tahun, dengan mata berlinang bertutur tentang keadaan sulit keluarganya. Dia berkata bahwa Muhammad adalah ayah dari tiga anak dan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Saleh menjelaskan bahwa ia telah kehilangan tiga putranya: yang pertama meninggal di penjara Saydnaya pada 2014, yang kedua tewas dalam serangan rudal pada 2016, dan yang ketiga meninggal karena kesedihan atas kematian saudaranya, Muhammad.
Sebagai warga Palestina berkewarganegaraan Yordania, ia telah mengajukan permohonan kepada PBB dan Pemerintah Suriah untuk mencari tahu nasib Muhammad.
Direktur redaksi Institut Golan, Fadi al-Asmai mengatakan kepada al-Arabi al-Jadeed bahwa institut tersebut telah mencatat nama dan rincian lengkap 39 orang yang diculik oleh tentara Pendudukan.
Menurutnya, semua kasus penahanan telah didokumentasikan dengan tanggal dan rincian. Di antaranya bahkan ada anak-anak.
Institut tersebut juga mengumumkan bahwa pengacara pembela, Ahmad al-Mousa, telah memulai proses pengumpulan nama-nama warga Suriah yang diculik dan mengikuti perkembangan kasus mereka. Tindakan ini dilakukan bekerja sama dengan lembaga-lembaga internasional dan sebagai bagian dari upaya hukum untuk memastikan nasib individu-individu tersebut serta menjamin hak asasi manusia mereka.
Institut tersebut mendesak keluarga untuk menghubungi lembaga resmi dan internasional, serta aktivis hak asasi manusia, untuk mendaftarkan penculikan dan menindaklanjuti tindakan hukum.
