Syekh Naim Qasim: Amerika Ingin Akhiri Peran Perlawanan Lebanon Lewat Tangan Israel
POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa Amerika Serikat berupaya mengakhiri peran perlawanan Lebanon terhadap Israel dengan menggunakan Tel Aviv sebagai alat politik dan militer. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato memperingati Hari Syahadah Hizbullah pada Selasa malam 11 November, yang disiarkan oleh jaringan televisi Al-Manar.
Dalam peringatan yang digelar serentak di 11 lokasi di seluruh Lebanon selatan, termasuk Beirut, Baalbek, Hermel, Deir Qanun al-Nahr, dan Nabatieh, Syekh Naim menyampaikan pidatonya di bawah tema “Ketika kita mati syahid, kita akan menang”.
Hizbullah Tegaskan Komitmen terhadap Perlawanan
Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa Hizbullah didirikan berdasarkan prinsip jihad, kehormatan, dan kebanggaan nasional Lebanon, serta dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Ia menilai bahwa sejak 2000 hingga 2023, Hizbullah telah berada dalam posisi pencegahan militer terhadap agresi Israel di perbatasan selatan.
“Pertempuran pertama kami merupakan bentuk pencegahan terhadap agresi Israel yang berhenti di beberapa titik perbatasan selatan,” ujarnya. “Perjanjian Oktober yang menempatkan tentara Lebanon di selatan Sungai Litani adalah kemenangan bagi kami, karena mereka adalah anak-anak bangsa ini, bukan pasukan asing.”
Menurut Syekh Naim, kehadiran Militer Lebanon di wilayah selatan menunjukkan kemenangan politik dan strategis bagi negara itu, karena Pemerintah berkomitmen menjalankan perannya menjaga kedaulatan nasional. Ia menuduh Amerika gagal memenuhi komitmennya dan justru “menggunakan Israel untuk menekan Lebanon agar menyerah secara politik”.
Penyikapan terhadap Campur Tangan AS dan Israel
Dalam pidatonya, Syekh Naim menyatakan bahwa Amerika dan Israel ikut campur dalam urusan internal Lebanon, termasuk di bidang militer, ekonomi, dan politik. Ia mengatakan bahwa Washington “ingin mengakhiri peran Perlawanan Lebanon melalui Israel dan membuka jalan bagi agresi baru”.
“Mereka menekan Pemerintah untuk membuat konsesi tanpa imbalan atau jaminan, sambil memberikan kebebasan bertindak kepada Israel,” katanya. “Kami tidak akan menyerah, dan kami tidak akan meletakkan senjata kami.”
Syekh Naim juga mentebut Israel berupaya menguasai Lebanon dan menjadikannya bagian dari proyek “Israel Raya” dengan dalih keamanan. Ia menyebut bahwa Israel “selalu mencari dalih baru”, mulai dari isu pelucutan senjata Hizbullah hingga pendanaan Perlawanan, padahal masalah utama mereka adalah keberatan mereka atas keberadaan Hizbullah itu sendiri.
Latar Sejarah dan Kritik terhadap Pemerintah Lebanon
Mengulas sejarah invasi Israel ke Lebanon pada 1982, Shieikh Naim menyebut bahwa alasan yang digunakan untuk mengusir kelompok Palestina, hanyalah kedok untuk pendudukan. Ia mengingatkan bahwa pendudukan Israel baru berakhir pada 2000 setelah perjuangan panjang Kelompok Perlawanan.
“Israel menciptakan apa yang disebut ‘Tentara Lebanon Selatan’ untuk menyamarkan pendudukan mereka sebagai konflik internal Lebanon,” ungkapnya. “Namun, mereka akhirnya mundur di bawah tekanan Perlawanan dan pengorbanan para syuhada seperti Ahmed Qusayr.”
Syekh Naim juga menyesalkan sikap Pemerintah Lebanon yang, menurutnya, “lebih banyak mengikuti tekanan Amerika daripada membela kepentingan rakyatnya sendiri”. Ia menegaskan bahwa Pemerintah seharusnya menegakkan agenda kedaulatan nasional, bukan “mendengarkan dan melaksanakan perintah Washington”.
Kritik terhadap Perjanjian dan Ancaman Eskalasi
Syekh Naim menyebut bahwa perjanjian-perjanjian yang dibuat dengan Israel, termasuk yang berkaitan dengan penempatan tentara Lebanon di selatan Sungai Litani, “tidak boleh dimaknai sebagai kompromi”. Ia memperingatkan bahwa jika wilayah Lebanon selatan terjebak dalam pertumpahan darah, maka “konflik itu akan menyebar ke seluruh negeri”.
“Perjanjian Oktober hanya mencakup wilayah selatan Litani dan tidak menyentuh permukiman Zionis di utara,” jelasnya. “Namun, jika agresi berlanjut, kami akan membela diri dengan segala cara.”
Ia menegaskan bahwa Hizbullah akan terus mempertahankan senjatanya sebagai simbol perlindungan rakyat Lebanon. “Senjata kami adalah alat pertahanan, bukan ancaman. Kami diserang, dan kami akan membela diri. Harga apa pun lebih murah daripada harga menyerah,” tegasnya.
Solidaritas dengan Palestina dan Sekutu Regional
Dalam bagian akhir pidatonya, Syekh Naim Qasim menyampaikan penghormatan kepada rakyat Palestina, Republik Islam Iran, serta tokoh-tokoh Perlawanan di Kawasan, termasuk almarhum Jenderal Qasim Soleimani.
“Kami memberi hormat kepada rakyat Palestina dan perlawanan mereka yang heroik,” ujarnya. “Kami juga berterima kasih kepada Republik Islam Iran, Imam Khamenei, serta seluruh pendukung kami yang setia.”
Ia juga mengirimkan salam kepada rakyat Yaman dan Irak, yang disebutnya sebagai “garda terdepan kebebasan dan kedaulatan di Kawasan”.
Sekjen Hizbullah kemudian menutup pidatonya dengan pernyataan tegas: “Kami tidak akan meletakkan senjata kami. Kami akan terus bertahan, dan kami yakin bahwa kemenangan adalah milik mereka yang berpegang pada kebenaran.”
Analisis dan Konteks
Pernyataan Syekh Naim Qasim muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Hizbullah dan Israel di sepanjang perbatasan Lebanon selatan, menyusul konflik Gaza yang masih berlangsung. Sejumlah analis menilai pidato ini sebagai sinyal bahwa Hizbullah tetap bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi militer, meski terus menegaskan posisinya sebagai kekuatan pencegah, bukan pemicu perang.
Bagi Hizbullah, Hari Syahadah bukan semata peringatan religius, melainkan momentum untuk menegaskan narasi perlawanan nasional terhadap Israel dan pengaruh Amerika di Kawasan.
Penutup
Pidato Syekh Naim Qasim menegaskan kembali posisi Hizbullah sebagai aktor sentral dalam politik-keamanan Lebanon dan kawasan Timur Tengah. Dengan menolak tekanan internasional dan memperkuat citra sebagai pembela rakyat Lebanon dan Palestina, Hizbullah berupaya mempertahankan legitimasi sosial dan militernya di tengah tekanan yang semakin kompleks.
