Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Syekh Naim Qasim: Kami Sudah Berkali-kali Mengingatkan, Kesabaran Ada Batasnya

POROS PERLAWANAN — Konflik di perbatasan Lebanon–Israel kembali memanas setelah berbulan-bulan ketegangan militer dan diplomatik di kawasan Timur Tengah. Di tengah situasi itu, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menyatakan keputusan Pemerintah Lebanon pada 5 dan 7 Agustus telah melemahkan posisi negara dan memberi legitimasi bagi agresi Israel.

Dalam pidatonya pada Rabu malam 4 Maret di Beirut yang disiarkan TV Al-Manar, Syekh Naim menegaskan bahwa perlawanan bersenjata merupakan hak sah untuk mempertahankan Lebanon dari agresi Israel dan Amerika Serikat.

Agresi terhadap Lebanon, menurut Sekjen Hizbullah, telah berlangsung lebih dari satu tahun tiga bulan. Ia merujuk pada perjanjian gencatan senjata 27 November 2024 sebagai fase baru yang semestinya membuka jalan bagi stabilitas. Hizbullah bersama negara Lebanon disebut mematuhi kesepakatan tersebut, sementara Israel dinilai tidak menjalankan satu pun klausulnya.

Selama lima belas bulan terakhir, Hizbullah memberi ruang bagi jalur diplomatik. Serangan Israel yang berulang tidak dibalas agar Kelompok Perlawanan itu tidak dituduh menghambat upaya diplomasi negara. Pendekatan tersebut, menurut Syekh Naim, juga dimaksudkan memberi kesempatan kepada Pemerintah Lebanon menjalankan tanggung jawabnya dalam melindungi kedaulatan nasional dan menguji secara nyata implementasi perjanjian.

Namun kesabaran, katanya, memiliki batas.

“Kesabaran kami telah berkali-kali disebut memiliki batas,” ujar Syekh Naim Qasim. Pelanggaran Israel, menurutnya, kini telah melampaui batas yang dapat diterima. Rakyat Lebanon, tambahnya, berhak melihat hasil nyata dari jalur diplomatik yang telah ditempuh selama berbulan-bulan.

Litani: Harapan yang Tak Menghentikan Serangan

Syei
Syekh Naim juga menyinggung penempatan tentara Lebanon di wilayah selatan Sungai Litani. Langkah itu sebelumnya disebut dapat membantu meredakan situasi dan membuka jalan bagi penghentian agresi Israel serta penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Hizbullah diminta bersabar hingga proses penempatan pasukan tersebut selesai. Harapannya, langkah itu dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan penghentian serangan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Serangan Israel terus berlangsung.

Dalam pidatonya, Syekh Naim turut menyoroti pernyataan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu mengenai proyek “Israel Raya”. Gagasan tersebut, katanya, disampaikan secara terbuka di hadapan dunia dan bahkan mendapat dukungan dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel yang menyebut Israel memiliki hak historis “dari Sungai Efrat hingga Sungai Nil”.

Bagi Syekh Naim, pernyataan semacam itu memperjelas satu hal: Israel merupakan ancaman eksistensial bagi Lebanon, rakyatnya, dan Kawasan secara keseluruhan.

Perdebatan Senjata Perlawanan

Di tengah eskalasi konflik, tekanan politik di Lebanon meningkat. Sejumlah pihak di dalam negeri, juga mitra internasional dan negara-negara Arab, mendorong pembatasan senjata Kelompok Perlawanan.

Syekh Naim justru mempertanyakan arah perdebatan tersebut.

Masalah Lebanon, menurutnya, bukan senjata Perlawanan. Bukan pula komponen internal negara. Persoalan utamanya adalah pendudukan dan pelanggaran kedaulatan yang terus berlangsung.

Dominasi Israel di wilayah udara Lebanon serta aktivitas pengawasan yang berkelanjutan disebut sebagai bukti bahwa kedaulatan negara terus dilanggar.

Keputusan 5 dan 7 Agustus Disebut Kesalahan Besar

Sekjen Hizbullah menyebut keputusan Pemerintah Lebanon pada 5 dan 7 Agustus sebagai kesalahan besar yang melemahkan posisi negara. Langkah tersebut dinilai memberi legitimasi bagi Israel untuk melanjutkan agresinya.

Di tengah serangan yang terus meningkat, berbagai konsesi politik justru diberikan. Situasi itu, menurut Syekh Naim, menciptakan tekanan yang mendorong Lebanon memasuki jalur diplomasi dalam posisi lemah.

Dalam kondisi seperti itu, negara berisiko kehilangan kekuatan tawar dan menghadapi kemungkinan perampasan kedaulatan nasional melalui tekanan politik dan militer.

Lima Belas Bulan Pelanggaran

Pertanyaan mengenai waktu peluncuran roket oleh Kelompok Perlawanan dijawab Shyekh Naim dengan pertanyaan lain: apakah kesabaran harus berlangsung tanpa batas?

Selama lima belas bulan terakhir, pelanggaran Israel terjadi hampir setiap hari.

Sekitar 500 orang tewas dalam periode tersebut, dengan rata-rata satu korban setiap hari. Selain itu, sekitar dua orang terluka setiap hari, disertai penghancuran rumah dan infrastruktur di wilayah perbatasan.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Militer Lebanon mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran Israel di darat, laut, dan udara.

Dalam perdebatan publik, sering kali hanya dua atau tiga pelanggaran yang dibicarakan. Padahal jumlah sebenarnya mencapai puluhan ribu.

“Tidak ada yang mau mendengar jeritan kami,” ujar Syekh Naim Qasim.

Ia juga menyebut penghancuran rumah dan lahan pertanian di desa-desa perbatasan serta penculikan warga Lebanon sebagai bagian dari pola agresi yang terus berlangsung.

Roket Bukan Awal Konflik

Syekh Naim menolak anggapan dan tudingan bahwa peluncuran roket Hizbullah menjadi pemicu perang.

Serangan tersebut, menurutnya, merupakan respons terhadap agresi yang telah berlangsung selama lima belas bulan.

Pelanggaran itu bahkan disebut mencakup penargetan terhadap tokoh-tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Dengan kata lain, roket bukan awal konflik. Roket adalah jawaban atas konflik yang telah berlangsung lama.

Agresi yang Telah Dipersiapkan

Menurut Syekh Naim, agresi Israel terhadap Lebanon bukan respons spontan. Berbagai laporan media Israel serta pernyataan pejabat Rezim itu menunjukkan bahwa operasi militer telah dipersiapkan sebelumnya.

Target-target serangan disebut telah ditentukan jauh sebelum eskalasi terbaru terjadi.

Israel juga disebut mengerahkan sekitar 100.000 pasukan cadangan untuk memperkuat wilayah utara.

Bagi Syekh Naim, fakta tersebut menunjukkan bahwa agresi terhadap Lebanon merupakan bagian dari proyek strategis yang telah lama dirancang.

Ia juga mengungkapkan bahwa Hizbullah menerima pesan melalui perantara sekitar satu bulan sebelum perang terhadap Iran. Pesan itu menanyakan kemungkinan keterlibatan Hizbullah jika konflik dengan Iran terjadi.

Informasi tersebut, menurutnya, memperlihatkan bahwa rencana agresi terhadap Lebanon telah dipertimbangkan terpisah dari konflik lain di Kawasan.

Perlawanan sebagai Hak

Dalam pidatonya, Syekh Naim menegaskan bahwa perlawanan bersenjata merupakan hak sah bagi rakyat Lebanon.

Hak tersebut, menurutnya, diakui secara kemanusiaan, hukum, dan internasional. Ia juga menyebut Perjanjian Taif serta pernyataan kebijakan Pemerintah Lebanon sebagai dasar legitimasi perlawanan.

Konfrontasi terhadap agresi, kata Syekh Naim, merupakan bentuk pembelaan diri untuk melindungi rakyat dan Tanah Air.

Perlawanan Hizbullah, ujarnya, lahir dari kebutuhan mempertahankan keberadaan Lebanon.

Seruan Persatuan Nasional

Di tengah eskalasi konflik, Sekjen Hizbullah menyerukan persatuan nasional Lebanon.

Serangan Israel, katanya, tidak menargetkan satu kelompok saja, melainkan seluruh wilayah Lebanon. Karena itu, semua kekuatan politik, agama, dan masyarakat sipil diminta mengerahkan kemampuan untuk menghadapi agresi tersebut.

Menghadapi Israel, menurut Syekh Naim, harus menjadi prioritas nasional sebelum membahas perbedaan politik lainnya.

Sekjen Hizbullah juga menyoroti meningkatnya jumlah pengungsi akibat serangan Israel. Membantu mereka disebut sebagai tanggung jawab nasional.

Pemerintah, lembaga resmi, dan kementerian diminta menyediakan layanan bagi warga yang mengungsi. Hizbullah, katanya, juga akan menjalankan tanggung jawabnya membantu masyarakat terdampak.

Organisasi masyarakat sipil, partai politik, lembaga sosial, dan otoritas keagamaan turut didorong berperan dalam upaya kemanusiaan tersebut.

Ramadan dan Keteguhan Lebanon

Menutup pidatonya, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa tujuan utama perlawanan adalah menghentikan agresi Israel-Amerika dan memaksa Israel menarik diri dari wilayah Lebanon.

Perjuangan itu disebut sebagai upaya mempertahankan masa depan rakyat Lebanon dan generasi mendatang.

Di tengah agresi dan pengungsian yang terjadi pada bulan suci Ramadan, Syekh Naim menyerukan keteguhan rakyat Lebanon.

Ia menutup pidatonya dengan doa agar Ramadan menjadi momentum keberkahan, kekuatan, dan kemenangan bagi Lebanon dalam menghadapi konflik yang masih berlangsung.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *