Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Syekh Naim Qasim Peringatkan Netanyahu yang Lontarkan Ancaman Pembunuhan

Syekh Naim Qasim: Latihan Perang Hizbullah adalah Pesan Kesiagaan

POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim mengeluarkan peringatan keras kepada Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu setelah ancaman pembunuhan terhadap dirinya.

Peringatan tersebut disampaikan dalam pidato peringatan International Quds Day pada Jumat 13 Maret. Syekh Naim menilai ancaman dari Israel tidak akan menggoyahkan tekad Perlawanan Lebanon.

“Ancaman Anda untuk membunuh saya tidak memiliki arti dan tidak bernilai. Andalah yang seharusnya takut terhadap diri Anda sendiri,” kata Syekh Naim dalam pidato tersebut.

Pemimpin Hizbullah itu menegaskan Perlawanan tidak mengenal konsep menyerah. Menurutnya, konflik yang dihadapi bukan hanya persoalan konfrontasi terbatas, melainkan pertarungan yang menyangkut keberadaan.

“Tidak ada yang namanya kekalahan atau penyerahan diri dalam kamus kami. Kami tetap kuat di medan pertempuran, apa pun pengorbanan yang harus diberikan. Kami tidak akan mundur. Pertempuran ini menyangkut keberadaan kami,” ujar Syekh Naim.

Musuh Diprediksi Terkejut di Medan Perang

Sekjen Hizbullah itu menyebut bahwa Hizbullah telah mempersiapkan diri menghadapi konfrontasi jangka panjang dengan Israel. Persiapan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di Kawasan.

“Kami telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi panjang. Mereka akan terkejut di medan perang. Musuh akan melihat kekuatan kami, dan ancaman mereka tidak menakutkan kami,” katanya.

Syekh Naim juga memperingatkan risiko besar bagi Lebanon tanpa perlawanan. Menurut Syekh Naim, perlawanan menjadi satu-satunya jalan menghadapi agresi Israel.

“Tidak ada solusi selain melalui perlawanan. Tanpa perlawanan, Lebanon menuju penghapusan,” tegasnya.

Syekh Naim juga menggambarkan situasi keamanan Lebanon berada dalam tekanan akibat agresi Israel yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami menghadapi tindakan barbar yang berlangsung selama 15 bulan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut merujuk pada pelanggaran berulang Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata 2024 antara Tel Aviv dan Hizbullah. Kesepakatan tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk menghentikan eskalasi militer terhadap Lebanon.

Syekh Naim juga menyebut keputusan menghadapi agresi Israel diambil setelah konsultasi internal Pimpinan Hizbullah melalui tiga pertemuan tingkat Kepemimpinan.

Soroti Makna Hari Quds

Dalam pidato yang sama, Syekh Naim juga menyinggung makna Hari Quds Internasional. Peringatan tersebut pertama kali ditetapkan oleh pendiri Republik Islam Iran, Ruhullah Khomeini, sebagai momentum global untuk mendukung perjuangan Palestina.

Syekh Naim mengutip pernyataan Imam Khomeini tentang makna Hari Quds.

“Hari ini bukan hanya untuk al-Quds, tetapi hari bagi kaum tertindas untuk menghadapi para penindas,” kata Syekh Naim mengutip pesan Imam Khomeini.

Menurutnya, Hari Quds menjadi simbol seruan pembebasan Palestina sekaligus solidaritas bagi masyarakat tertindas di berbagai belahan dunia.

Syekh Naim mengecam pendudukan Palestina oleh Israel yang berlangsung sejak 1948 dengan dukungan kekuatan Barat.

“Pendudukan ini merupakan ketidakadilan terbesar di dunia saat ini,” ujar Syekh Naim.

Syekh Naim juga menegaskan bahwa Amerika Serikat dan sejumlah negara besar berperan dalam melegitimasi pendudukan tersebut, dan menyebut pendudukan Israel sebagai “pertumbuhan kanker”.

Tegaskan Dukungan bagi Palestina

Menyinggung perang yang masih berlangsung di Jalur Gaza, disebutnya telah menewaskan atau melukai sekitar 260.000 orang sejauh ini. Namun demikian menurutnya, Hizbullah tetap berdiri bersama perjuangan Palestina.

“Kami sebagai Hizbullah dan Perlawanan Islam akan tetap bersama Palestina. Dukungan terus diberikan demi pembebasan penuh,” kata Syekh Naim.

Dengan tegas Sekjen Hizbullah itu menyerukan dukungan dari negara Arab, umat Islam, dan masyarakat internasional terhadap perjuangan Palestina.

“Seluruh bangsa Arab dan umat Islam bertanggung jawab berdiri bersama al-Quds dan Palestina. Semua orang merdeka di dunia memiliki tanggung jawab yang sama,” ujar Syekh Naim.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *