Takfiri Pemenggal Kepala Anak Palestina di Suriah Diangkat sebagai Penasihat Baru Al-Jolani
POROS PERLAWANAN – Sejumlah media melaporkan bahwa seorang individu yang beberapa tahun lalu terlibat dalam pemenggalan kepala seorang anak Palestina berusia 12 tahun di Suriah kini diangkat sebagai penasihat baru Abu Muhammad Al-Jolani.
Kelompok Haiat Tahrir al-Sham (HTS), yang saat ini mengendalikan sejumlah wilayah di Suriah dan telah membentuk pemerintahan sendiri, masih tercatat dalam daftar organisasi teroris internasional. Abu Muhammad Al-Jolani, yang juga dikenal dengan nama Ahmad al-Shara, sebelumnya merupakan anggota kelompok Takfiri seperti Al-Qaeda dan ISIS. Ia bahkan pernah bertindak sebagai perwakilan Pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, yang sempat menyatakan dirinya sebagai khalifah di Suriah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Al-Jolani berusaha mencitrakan dirinya sebagai seorang pemimpin yang berbicara mengenai “kontrak sosial” dan “keadilan sosial” dengan penampilan yang lebih formal. Namun, latar belakang keterlibatannya dalam berbagai aksi teror kejam masih menimbulkan keraguan banyak pihak terkait perubahan yang ia klaim.
Seiring dengan dinamika politik di Suriah, beberapa negara regional dan Barat, termasuk Amerika Serikat, dikabarkan mempertimbangkan untuk menjalin hubungan dengan Pemerintahan baru yang dipimpin oleh HTS. Bahkan, laporan menyebutkan bahwa AS telah mencabut hadiah sebesar 10 juta Dolar yang sebelumnya ditawarkan untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Al-Jolani.
Dalam perkembangan terbaru, pemimpin HTS disebut telah menyampaikan ucapan selamat kepada Donald Trump atas kemenangannya dalam Pilpres AS, dengan harapan memperkuat hubungan Suriah dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, Juru Bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) telah menyerukan pencabutan sanksi terhadap Suriah demi memperlancar distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Menurut laporan Young Journalists Club pada Rabu 22 Januari, seorang anggota Takfiri bernama Metin Abu Ahmad, yang pada 2016 silam terlibat dalam pemenggalan kepala seorang anak Palestina berusia 12 tahun dan menyebarkan gambar kejahatannya, kini diangkat sebagai Penasihat Al-Jolani. Pengangkatan ini pertama kali diungkap oleh pengguna media sosial dan analis internasional yang memantau perkembangan di Suriah.
Pada 2016, sempat muncul laporan yang menyatakan bahwa Abu Ahmad telah tewas, namun bukti yang beredar saat itu tidak cukup untuk mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut. Kini, dengan posisi pentingnya di dalam struktur Pemerintahan HTS, kekhawatiran mengenai keberlanjutan aksi teror di wilayah tersebut semakin meningkat.
Kelompok HTS terus menunjuk individu dengan rekam jejak kejahatan berat ke posisi strategis. Sebagai contoh, seorang anggota yang terlibat dalam eksekusi tawanan perempuan, belum lama ini diangkat sebagai Kepala Lembaga Peradilan di Pemerintahan mereka.
Situasi ini semakin memperkuat pandangan bahwa HTS dan kepemimpinannya belum menunjukkan perubahan yang nyata. Sebaliknya, mereka dinilai hanya berupaya mengubah citra untuk memperoleh legitimasi internasional.
Banyak pihak beranggapan bahwa langkah-langkah ini menegaskan bahwa HTS tidak mengalami perubahan fundamental, melainkan hanya berusaha membangun citra baru guna menarik dukungan melalui pendekatan komunikasi yang lebih halus.
