Taliban Tegaskan ‘Kebijakan Tanpa Kompromi’ terhadap Takfiri dan ISIS
POROS PERLAWANAN – Pemerintah Taliban menegaskan “kebijakan tanpa kompromi” terhadap kelompok Takfiri, khususnya ISIS, menyusul operasi militer yang digelar di Ibu Kota Afghanistan, Kabul. Dalam wawancara eksklusif dengan Kantor Berita Tasnim pada Selasa 10 Juni, Juru Bicara Emirat Islam Afghanistan, Zabihullah Mujahid menegaskan bahwa operasi tersebut bukan rekayasa, melainkan tindakan nyata dalam menjaga stabilitas nasional.
Operasi yang dilakukan oleh pasukan khusus Taliban pada malam sebelumnya menargetkan sebuah tempat persembunyian ISIS di wilayah Qasba, Distrik 15 Kota Kabul. Menurut Mujahid, dua anggota ISIS tewas dalam baku tembak setelah menolak menyerah. Sejumlah besar senjata dan amunisi disita dari lokasi.
“Dengan operasi ini, rencana musuh untuk menciptakan ketidakamanan berhasil digagalkan,” tegas Mujahid.
Tanggapan atas Tuduhan “Operasi Palsu”
Wawancara ini juga menanggapi tudingan mantan Agen CIA, Sarah Adams, yang menyebut operasi tersebut sebagai rekayasa. Mujahid membantah tudingan itu, menyebutnya tidak berdasar dan tidak relevan.
“Beberapa pihak di luar Afghanistan membuat tudingan seperti itu tanpa alasan atau logika. Namun yang jelas, tempat persembunyian ISIS telah dihancurkan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Taliban tidak membutuhkan pengakuan dari pihak luar untuk membenarkan operasi militer yang dijalankan secara independen oleh pasukan Emirat Islam.
Minim Rincian Resmi, Taliban Minta Kesabaran
Menanggapi kritik atas kurangnya informasi resmi terkait operasi tersebut, Mujahid menyatakan bahwa rincian lebih lanjut akan dipublikasikan setelah proses internal selesai.
“Rincian biasanya diumumkan setelah semua aspek ditinjau. Operasi ini berhasil dan kami memiliki capaian yang jelas,” jelasnya.
ISIS adalah Fenomena Musuh
Dalam wawancara tersebut, Mujahid juga menjawab pernyataan Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, yang sebelumnya menyebut adanya aktivitas ISIS di negara-negara tetangga. Meski tidak menyebutkan nama negara secara spesifik, Mujahid menegaskan bahwa fenomena ISIS adalah ancaman bagi semua pihak.
“Ini adalah fenomena musuh. Mereka memiliki teori yang tidak sesuai dengan Islam. Semua negara harus memahami bahayanya dan tidak memanfaatkannya untuk agenda politik mereka,” katanya.
Tanggapan atas Tuduhan Penguatan ISIS di Afghanistan
Mujahid juga membantah laporan dari beberapa negara, termasuk Pakistan, yang menyatakan bahwa kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan ISIS kian kuat di wilayah Afghanistan.
“ISIS sudah ada sejak masa pendudukan. Kami telah menekan mereka dengan tegas. Operasi semalam membuktikan bahwa kelompok semacam itu tidak punya tempat di sini,” tegasnya.
Taliban menegaskan bahwa tidak ada kelompok bersenjata asing yang diperbolehkan membangun kekuatan di dalam negeri. Pemerintah saat ini berkomitmen penuh untuk menumpas elemen-elemen yang dianggap mengancam keamanan nasional maupun regional.
