Tekad Yaman akan Ubah Tel Aviv Sebagai Kota Tanpa Bandara
POROS PERLAWANAN – Dalam eskalasi terbaru konflik dengan Israel, Angkatan Bersenjata Yaman mengalihkan fokus serangan mereka ke Bandara Ben-Gurion di Tel Aviv, bukan lagi Pelabuhan Eilat. Langkah ini bertujuan untuk menerapkan embargo udara terhadap Israel. Yaman juga telah mengeluarkan peringatan kepada maskapai penerbangan internasional agar tidak mendarat atau terbang di wilayah udara Tel Aviv.
Menurut laporan Tasnim News Agency pada Kamis (27/3), peringatan serangan ini merupakan respons langsung terhadap agresi militer Israel di Gaza. Sejak dimulainya putaran baru pertempuran ini, serangan rudal Yaman terhadap infrastruktur udara Israel semakin intensif dan presisi, meskipun menghadapi intervensi dari pesawat tempur Amerika Serikat. Berbeda dengan strategi sebelumnya yang menargetkan Pelabuhan Eilat, kali ini Angkatan Bersenjata Yaman mengincar pusat transportasi udara utama Israel untuk melumpuhkan mobilitas udara rezim Zionis.
Serangan Rudal yang Terkoordinasi
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengumumkan bahwa operasi militer terbaru mereka menargetkan “kedalaman strategis Israel” melalui serangan rudal presisi ke Bandara Ben-Gurion. Dalam pernyataannya, Saree juga memperingatkan maskapai penerbangan asing agar menghindari penerbangan ke dan dari Tel Aviv, dengan menegaskan bahwa wilayah udara tersebut tidak lagi aman.
Dimensi Politik dan Diplomatik
Selain serangan militer, Perlawanan Yaman terhadap Israel juga berlangsung di ranah politik. Seiring dengan meningkatnya ketegangan di medan perang, ibu kota Yaman, Sanaa, menjadi tuan rumah konferensi internasional ketiga bertajuk “Palestina, Isu Utama Umat Islam,” dengan slogan “Anda Tidak Sendirian.” Acara ini diadakan sebagai bentuk solidaritas dengan rakyat Palestina dan menyoroti peran dunia Islam dalam mendukung perjuangan Palestina.
Wakil Perdana Menteri Yaman, Mohammed Miftah, dalam wawancara dengan Tasnim News Agency, menegaskan bahwa konferensi ini merupakan peristiwa politik dan intelektual besar yang memberikan dorongan moral bagi perjuangan Palestina. Ia juga menekankan bahwa acara tersebut diadakan bertepatan dengan operasi militer besar-besaran Yaman di Laut Merah, Laut Arab, dan Teluk Aden, yang bertujuan untuk menekan kepentingan strategis Israel di kawasan tersebut.
Konteks Sejarah dan Ideologis
Sekretaris konferensi, Abdul Rahim Al-Hamran, menjelaskan, acara ini bukan hanya sekadar pertemuan politik, melainkan juga bagian dari “revolusi budaya dan ilmiah” dalam dunia Islam. Ia mengaitkan konferensi ini dengan seruan Imam Khomeini untuk menetapkan Jumat terakhir bulan Ramadan sebagai Yaumul Quds Internasional—sebuah momentum kebangkitan global bagi umat Islam untuk menentang pendudukan Israel.
Menurut Al-Hamran, konferensi ini berlangsung selama empat hari dengan dua aspek utama: dimensi politik dan dimensi ilmiah. Diskusi yang dilakukan mencakup berbagai perkembangan terbaru terkait perjuangan Palestina dan strategi umat Islam dalam menghadapi agresi Zionis.
Dengan meningkatnya tekanan militer dan politik terhadap Israel, strategi Yaman dalam memboikot wilayah udara Tel Aviv dapat menjadi faktor signifikan dalam mengubah dinamika perang di kawasan Timur Tengah.
