Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Temui para Dubes Luar Negeri, Araghchi Beberkan Kronologi dan Perkembangan Kerusuhan di Iran

Temui para Dubes Luar Negeri, Araghchi Beberkan Kronologi dan Perkembangan Kerusuhan di Iran

POROS PERLAWANAN – Pada hari Senin 12 Januari, Menlu Iran Abbas Araghchi membahas perkembangan terbaru di Iran dan kebijakan Pemerintah dalam pertemuan dengan para Duta Besar dan perwakilan negara-negara asing di Tehran.

“Pertemuan ini berlangsung pada saat bentuk lain Perang 12 hari sedang terjadi dan hampir berakhir. Dalam beberapa minggu ke depan, kami akan merayakan peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, yang menunjukkan jalan berat yang telah dilalui Iran untuk mempertahankan martabatnya. Kami telah menghadapi berbagai konspirasi kekuatan-kekuatan asing,” kata Araghchi di awal pertemuan, Tasnim memberitakan.

“Sejak 28 Desember, kami menyaksikan beberapa protes, terutama di kalangan pedagang pasar dan pelaku ekonomi. Demonstrasi damai diadakan untuk menyuarakan keluhan mereka, yang merupakan hak alami setiap warga Iran, dan ini adalah fase pertama. Selama tiga hari, kami memiliki demonstrasi damai di pasar, dan Pemerintah segera memulai dialog.”

“Karena demonstrasi tersebut bertujuan damai, para pelaku ekonomi menyampaikan masalah mereka. Demonstrasi mulai mereda dan mengarah kepada dialog. Para pemimpin asosiasi perdagangan menyampaikan masalah mereka.”

“Namun, mulai 1 Januari, protes-protes tersebut mengambil bentuk baru. Fase pertama berlangsung damai. Pada fase kedua, orang-orang baru bergabung dalam demonstrasi dan mengubahnya menjadi kekerasan. Hal ini wajar, dan banyak negara di dunia telah mengalami aksi protes yang berubah menjadi aksi kekerasan. Pasukan keamanan juga bertindak dengan penuh pengendalian diri dan berusaha mencegah kekerasan.”

“Pasukan keamanan kami berusaha mengendalikan demonstrasi dengan pendekatan yang tenang. Tetapi mulai 8 Januari, kami dihadapkan pada fase yang benar-benar baru dan berbeda. Dari tanggal itu hingga 10 Januari, kami menyaksikan unsur-unsur teroris masuk ke dalam aksi. Kami melihat senjata dibawa ke dalam kerumunan demonstran, dan jelas bahwa ada rencana untuk mengubah demonstrasi menjadi kekerasan sosial, pembantaian, dan kerusuhan nasional.”

“Tujuannya adalah meningkatkan jumlah korban karena Trump telah mengatakan bahwa jika orang-orang tewas, kami akan campur tangan, dan ini adalah campur tangan yang jelas. Hal yang penting adalah, karena kata-kata Trump, agen-agen yang berusaha menciptakan kekacauan bergerak ke arah yang akan meningkatkan jumlah korban. Kami telah merekam suara dari luar negeri yang menginstruksikan agen-agen teroris untuk menyerang polisi, dan jika itu tidak mungkin, untuk menyerang orang biasa.”

“Mereka ingin lebih banyak darah tumpah. Para korban ditembak dari belakang oleh para pelaku itu sendiri. Anasir teroris, dengan cara yang mirip dengan ISIS, memenggal anggota pasukan keamanan dan membakar beberapa di antaranya hidup-hidup. Mereka membakar secara luas tempat-tempat umum, gedung pemerintah, dan kantor polisi. 80 ambulans menjadi sasaran. Mereka menyerang masjid, 53 di antaranya dibakar, dan mereka bahkan membunuh orang-orang yang terluka. Bukti telah diperoleh, dan mereka sendiri telah mengaku bahwa mereka diberi sejumlah besar uang. Mereka dibayar 80 juta untuk menyerang kantor polisi. Mereka menerima 20 juta untuk membakar tempat-tempat umum. Kami bahkan memiliki video mereka membagikan senjata.”

“Pasukan keamanan memasuki fase ketiga dan bentrok dengan anasir teroris serta menangkap mereka. Ada banyak bukti keterlibatan asing, yang akan ditunjukkan kepada komunitas internasional.”

Menurut Tasnim, rekaman saat teroris menyerang warga Iran dan pasukan keamanan dirilis dalam pertemuan tersebut.

Araghchi lalu mengungkit pembunuhan seorang warga Iran oleh AS di negara tersebut. Dia mengatakan,“Petugas Iran ditembak dan dibunuh, namun klaim tentang Iran sungguh mengherankan. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS telah mengeluarkan pernyataan bahwa jika Anda mengusik petugas polisi AS, Anda akan dibunuh. Di sini, para perusuh menembak polisi, namun AS menganggap mereka sebagai demonstran.”

“Kami memiliki bukti keterlibatan AS dan Israel dalam aksi terorisme ini. Mike Pompeo, yang bukan orang sembarangan dan mantan Direktur CIA, dalam cuitannya menulis:’Saya mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada warga Iran di jalanan dan kepada agen Mossad.’ Ini adalah pengakuan jelas bahwa agen Mossad terlibat. Kami akan menindaklanjuti hal ini, dan kami akan menuntut tanggung jawab pihak yang pernyataannya telah menyebabkan kematian orang-orang tak bersalah.”

“Dalam hal ini, beberapa negara Barat bersikap aneh lantaran mengutuk polisi kami. Mereka adalah negara-negara yang mengabaikan genosida di Gaza dan tidak pernah mengutuknya. Mereka tidak mengutuk serangan Israel terhadap Iran, namun mereka meneteskan air mata buaya untuk para teroris.”

“Kami mengakui hak para demonstran, tetapi tidak ada negara yang mentolerir kerusuhan, pembakaran harta benda orang, dan terorisme. Saya harap beberapa negara yang telah mengambil posisi yang salah akan menanggapi peristiwa sebenarnya di lapangan. Lebih dari 70 persen rakyat Iran menganggap sumber situasi ini berasal dari luar negeri, dan 80 persen warga Iran menolak kerusuhan ini.”

“Melalui pengadilan dan badan internasional, kami pasti akan menuntut mereka yang bertanggung jawab atas kematian rakyat Iran. Kami akan membalas dendam terhadap mereka yang tewas dalam operasi teroris ini. Kami adalah penuntut balas, dan kami akan menindaklanjuti hal ini di forum internasional.”

“Pasukan keamanan telah sepenuhnya mengendalikan situasi, dan kami berharap tidak akan terjadi kesalahan perhitungan dari negara-negara tertentu. Selama Perang 12 Hari, telah terjadi kesalahan perhitungan. Itulah mengapa mereka mengubah kebijakan mereka dan mengacaukan situasi dari dalam, mungkin dalam upaya untuk membuka jalan bagi intervensi militer asing. Ini adalah kesalahan perhitungan lainnya. Rezim Zionis bertanggung jawab langsung atas situasi ini, dan AS juga terlibat. Situasi di kota-kota kini tenang, dan rakyat Iran mengadakan demonstrasi hari ini (Senin) untuk menentang kerusuhan ini.”

Menanggapi pertanyaan dari salah satu duta besar, Araghchi mengatakan,”Iran besar, selalu besar, dan selalu kuat. Demonstrasi damai tentu saja diizinkan secara hukum di Iran. Pemerintah segera berinteraksi dengan para demonstran dari berbagai profesi dan menerapkan reformasi ekonomi.”

“Masalah keamanan harus terus dijaga untuk memastikan tidak ada pelanggaran keamanan lebih lanjut. Kita harus membedakan antara demonstrasi dan operasi teroris. Oleh karena itu, dan untuk memastikan, beberapa operasi masih berlangsung.”

“Iran siap untuk perang, dan perang preventif tidak ada dalam agenda kami, tetapi kami siap untuk berperang. Cara terbaik untuk mencegah perang adalah dengan siap menghadapinya, sehingga musuh tidak melakukan perhitungan yang salah. Kami juga siap untuk negosiasi, tetapi negosiasi dari posisi yang setara dan adil; negosiasi yang serius, bukan tentang memberikan perintah dan mendikte syarat,” pungkas Araghchi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *