The Guardian Kritik Keras Mentalitas Dominasi Washington di Era Trump
POROS PERLAWANAN — Kritik keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di era Donald Trump kembali mengarah pada persoalan yang lebih tua daripada pergantian presiden. Hal yang dipersoalkan bukan hanya gaya Trump, melainkan watak dasar kekuasaan Amerika itu sendiri.
Harian Inggris The Guardian, seperti dikutip Al Manar pada Minggu 5 April, menilai kepresidenan Trump tidak menciptakan kecenderungan baru, tetapi justru membuka kembali sesuatu yang telah lama berakar di Washington, yakni keyakinan bahwa Amerika berhak membentuk dunia menurut kehendaknya sendiri tanpa terlalu peduli pada kehendak pihak lain.
Dalam pembacaan itu, Trump bukan penyimpangan. Trump justru dipandang sebagai gejala yang paling telanjang. Di bawah kepemimpinannya, naluri dominasi Amerika tampil lebih terbuka, lebih keras, dan semakin sedikit menyisakan bahasa diplomatik untuk menutupinya.
Karena itu, kritik The Guardian tidak berhenti pada Trump sebagai individu. Kritik tersebut diarahkan pada keseluruhan cara pandang yang menopang agresivitas kebijakan luar negeri Amerika, terutama terhadap Iran. Dalam konteks ini, seruan untuk menghentikan eskalasi dibaca bukan sebagai imbauan moral, melainkan peringatan atas arah kebijakan yang dinilai semakin kehilangan kendali.
Media itu juga mendorong momentum Paskah menjadi titik evaluasi politik bagi Gedung Putih. Pesannya jelas, Washington perlu menghentikan dorongan konfrontatif terhadap Teheran sebelum logika dominasi berkembang menjadi kesalahan strategis yang lebih besar.
Sorotan lain diarahkan pada arus Nasionalis Evangelis garis keras di Amerika Serikat. Menurut The Guardian, kelompok ini bukan anomali, melainkan bagian dari arus ideologis yang sejak lama ikut menyuburkan keyakinan moralistik tentang hak Amerika untuk mengatur dunia.
Pada titik ini, persoalannya tidak lagi berhenti pada kebijakan terhadap Iran. Sebab, yang mengemuka adalah persoalan yang lebih luas, yaitu bagaimana agama, nasionalisme, dan superioritas geopolitik saling bertemu dalam satu kerangka kekuasaan.
Karena itu, kritik semacam ini penting bukan hanya sebagai komentar media, melainkan juga sebagai penanda bahwa bahkan dari dalam ruang Barat sendiri mulai muncul pembacaan yang lebih jujur terhadap proyek kekuasaan Amerika. Ketika yang terus terlihat bukan stabilitas, melainkan pola lama yang berulang, dominasi, eskalasi, lalu krisis, kritik semacam ini menjadi semakin relevan.
