Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Tiga Kali Mundur dalam 19 Hari, AS Telah Kehilangan Inisiatif Militer

POROS PERLAWANAN – Pengamat politik Iran Saadollah Zarei menilai serangan rudal Iran terhadap tiga pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania menandai perubahan signifikan dalam keseimbangan militer kawasan. Dalam artikel yang ditayangkan harian Kayhan, Minggu (26/7/2026), ia menyebut Washington telah tiga kali menarik posisi militernya hanya dalam kurun 19 hari, yang menurutnya mencerminkan melemahnya posisi operasional Amerika Serikat.

Zarei menulis bahwa serangan Iran ke pangkalan Muwaffaq al-Salti (Al-Azraq), Pangeran Hassan, dan Raja Hussein di Yordania menyebabkan kerusakan besar serta mendorong Amerika memindahkan berbagai peralatan militer strategis ke Eropa Selatan, terutama Bulgaria, Yunani, dan Siprus.

Menurutnya, pemindahan tersebut menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer yang belum sepenuhnya dikerahkan, sementara Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya menghadapi tekanan operasional yang semakin berat.

Ia mengklaim pangkalan Al-Azraq, yang sebelumnya dijadikan pusat dukungan operasi udara AS setelah sejumlah pangkalan di kawasan Teluk mengalami kerusakan, kini telah kehilangan sebagian besar peralatan militernya. Zarei juga menyoroti peringatan NATO yang menyatakan akan memberikan respons militer apabila Iran menyerang lokasi baru penyimpanan peralatan tersebut di Eropa.

Dalam analisanya, Zarei menyebut Amerika Serikat telah tiga kali mundur selama konflik berlangsung, yakni dari sejumlah pangkalan militernya di kawasan Teluk, dari wilayah Teluk Persia dan Laut Oman, serta dari tiga pangkalan utama di Yordania. Menurutnya, perkembangan itu menunjukkan bahwa inisiatif militer di lapangan mulai beralih ke pihak Iran.

Zarei juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran sebagai negara yang “sangat tangguh”. Menurutnya, pernyataan tersebut merupakan pengakuan tidak langsung bahwa operasi militer Amerika menghadapi perlawanan yang jauh lebih kuat dari perkiraan.

Ia mencatat bahwa dalam waktu kurang dari sepekan, Trump beberapa kali mengubah nada pernyataannya, mulai dari ancaman menggunakan kekuatan militer, ancaman menyerang sasaran strategis Iran, hingga peringatan mengenai penyitaan aset Iran sebagai bentuk tekanan.

Menurut Zarei, perubahan sikap tersebut mencerminkan semakin terbatasnya opsi militer Washington di tengah berlanjutnya serangan Iran dan meningkatnya aktivitas kelompok Ansarullah Yaman di Laut Merah.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa operasi yang disebut Iran sebagai “Nasr 2” tidak hanya menghantam sasaran militer Amerika di Yordania, tetapi juga mengubah kalkulasi strategis Washington. Ia mengklaim operasi tersebut mendorong kembali munculnya wacana perundingan di Amerika Serikat setelah sempat meredup selama sekitar dua bulan.

Zarei juga menyebut sejumlah negara kawasan kembali mengupayakan jalur diplomatik dengan mengirimkan mediator ke Teheran. Namun, menurutnya, Iran menolak menghentikan serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika selama wilayahnya masih menjadi sasaran serangan.

Menutup tulisannya, Zarei menyimpulkan bahwa perang yang menurutnya semula bertujuan melemahkan Republik Islam Iran justru berbalik menjadi tekanan bagi Amerika Serikat dan para sekutunya. Ia menilai perkembangan terbaru menunjukkan menguatnya posisi strategis Iran di kawasan, sekaligus menurunnya pengaruh Barat dan negara-negara Arab yang mendukung Washington dalam konflik tersebut.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *