Tiga Rintangan Sesumbar Provokatif Trump atas Iran
POROS PERLAWANAN – Statemen-statemen provokatif Donald Trump terhadap Iran akhir-akhir ini dikepung oleh sedikitnya 3 faktor penghalang di dalam AS sendiri.
Dilansir Fars, penentangan opini publik, warisan kegagalan-kegagalan AS di kawasan Asia Barat, dan upaya Trump untuk mencitrakan dirinya sebagai “tokoh cinta damai” adalah 3 faktor yang menghadapkan sesumbar-sesumbar Presiden AS dengan kesulitan.
Penentangan Publik
“Tak seorang pun yang mendukung perang melawan Iran.”
Kalimat ini ditulis kandidat Partai Libertarian, Chase Oliver dalam Pilpres 2024 di laman medsos X-nya. Dia meminta dari para pemilih Trump untuk menyuarakan penentangan mereka terhadap perang kepadanya.
Oliver memperingatkan kepada para pendukung Trump, jika mereka hanya diam saja, warisan AS berupa “ekspor kematian dengan uang para pemberi pajak AS dan tumpahnya darah orang-orang tak berdosa” bakal berlanjut.

Analis politik AS, Kim Iversen juga menyatakan pandangan serupa dengan Oliver. Dia mencuit,”Berbeda dengan perang antara Rusia dan Ukraina, perang melawan Iran akan berdampak langsung kepada kehidupan warga AS.”
Menurutnya, keputusan ini akan menjadikan Trump sebagai “Presiden yang paling banyak dibeli koruptor sepanjang hidup kita.”
Iversen juga mengingatkan, perang melawan Iran akan membuat Trump menjadi “Bush versi 3.”

Warisan Kegagalan
Yang menarik adalah, Trump mengumbar sesumbarnya di saat ia sendiri berulang kali mengakui bahwa “perang-perang AS tidak membuahkan hasil apa pun, terutama di Asia Barat.”
Sebagai contoh, dalam cuitannya pada 9 Oktober 2019, Trump menulis:”AS menghabiskan 8 triliun Dolar untuk perang dan mewujudkan keamanan di Timteng. Ribuan prajurit besar kita tewas atau terluka parah. Jutaan orang di pihak lain juga kehilangan nyawa mereka. Terjun ke Timteng adalah keputusan terburuk yang pernah diambil.”
Klaim Cinta Damai
Selain itu, para pakar di AS dalam beberapa bulan lalu menyoroti sebuah hal penting yang mengendalikan tindak tanduk Trump: persaingan dengan Barack Obama untuk mencatatkan diri sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian.
Selama berada di Gedung Putih dalam 2 bulan ini, Trump berulang kali mencoba mencitrakan dirinya sebagai orang cinta damai yang menentang perang. Tujuannya adalah menyamai saingan utamanya, yaitu Obama, yang pernah meraih Nobel Perdamaian.
Namun kini para analis di AS berpendapat, Trump dengan statemen-statemen provokatifnya terhadap Iran telah merusak sendiri citra yang berusaha dibangunnya selama ini.
