Tokoh Senior Hizbullah: Syekh Naim Qasim Sosok Pemberani dan Teguh, Pewaris Perjuangan dan Pembaru Masa Depan Perlawanan
POROS PERLAWANAN — Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Kantor Berita Mehr yang tayang pada Minggu 18 Mei 2025, Ali Jaber, anggota senior Dewan Pusat Hizbullah, mengungkap sisi-sisi yang kurang dikenal dari sosok Sheikh Naim Qassim. Menurutnya, Sheikh Qassim adalah pribadi yang kuat, teguh, dan berani, sosok yang pantas dipercaya untuk melanjutkan jalan perjuangan yang telah dirintis oleh para pemimpin besar Hizbullah, khususnya Sayyid Hassan Nasrallah.
Kini, dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassim menghadapi salah satu tanggung jawab paling berat dalam sejarah organisasi tersebut. Beban besar itu jatuh di pundaknya setelah syahidnya dua tokoh sentral: Sayyid Hassan Nasrallah dan Sayyid Hashim Safiudin. Di tengah situasi perang dan kondisi yang sangat menantang, Sheikh Qassim tetap setia pada sumpah perjuangannya, mengemban amanah ini dengan keberanian dan kebijaksanaan.
Ali Jaber menuturkan bahwa meski telah lama berperan aktif dalam jihad dan perjuangan, Sheikh Naim Qassim masih belum sepenuhnya dikenal luas oleh publik. “Ada banyak dimensi dari kepribadian beliau yang belum banyak diketahui,” ujarnya. “Padahal, ini adalah sisi-sisi penting yang patut digarisbawahi, mengingat perannya yang sangat strategis dalam kepemimpinan perlawanan di Lebanon.”
Dari Gerakan Kaum Miskin hingga Hizbullah
Sebelum terbentuknya Hizbullah, Sheikh Qassim merupakan salah satu pendiri Gerakan Aksi Islam di Lebanon, yang berakar dari Gerakan Kaum Miskin, sebuah gerakan yang didirikan oleh Imam Musa Sadr. Kala itu, ia memimpin Kantor Ideologi dan Kebudayaan serta duduk di jajaran pimpinan gerakan.
Setelah agresi rezim Zionis terhadap Lebanon pada 1982, Sheikh Qassim turut serta dalam pembentukan Hizbullah. Ia juga berperan besar dalam mendirikan berbagai lembaga kebudayaan dan keagamaan, khususnya untuk kalangan muda, termasuk Ikatan Pendidikan Agama yang berkembang menjadi jaringan sekolah dan lembaga pendidikan di seluruh Lebanon. Latar belakangnya sebagai guru kimia turut memperkuat kontribusinya dalam bidang pendidikan dan dakwah.
Perpaduan Ilmu Modern dan Keulamaan
Sheikh Naim Qassim dikenal sebagai pribadi yang memadukan pendidikan modern dengan studi keulamaan (Hauzah). Menurut Ali Jaber, kombinasi ini membentuk kepribadian intelektual dan religius yang unik. “Ia mampu menangani isu-isu sosial, politik, dan keagamaan dengan pendekatan ilmiah yang mendalam, terinspirasi dari dua tokoh besar: Syahid Sayyid Mohammad Baqir Sadr dan Imam Khomeini,” ujarnya.
Guru yang Mencetak Generasi Perlawanan
Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, Sheikh Qassim dikenal sebagai guru dan pembina generasi muda. Pelajaran dan lingkaran dakwahnya menarik banyak kalangan, terutama pemuda terpelajar. Ia meyakini bahwa penyebaran budaya keagamaan yang sadar dan pembinaan pemuda beriman merupakan fondasi utama perjuangan. Banyak kader Hizbullah dan tokoh perlawanan yang berasal dari lingkungan pendidikan yang ia bina.
Diplomat Ulung di Jalur Perlawanan
Sebelum menjabat sebagai Sekjen Hizbullah, Sheikh Qassim lama menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Ia mengelola urusan parlemen, hubungan antarpartai, serta komunikasi dengan kekuatan nasional dan Islam di dalam maupun luar negeri. “Beliau sangat diandalkan oleh syahid Sayyid Hassan Nasrallah dalam masa-masa kritis seperti pemilu dan pembentukan koalisi pemerintahan,” kata Ali Jaber.
Di tengah kompleksitas politik dan keberagaman sektarian di Lebanon, Sheikh Qassim memainkan peran sentral dalam menjaga keterbukaan komunikasi Hizbullah dengan berbagai pihak, memperkuat kohesi nasional sambil tetap menjaga prinsip perjuangan.
Pemimpin Dialog dan Penjaga Warisan
Ali Jaber juga menekankan bahwa Sheikh Naim Qassim adalah sosok yang menjunjung tinggi dialog dan keterbukaan terhadap berbagai pemikiran politik dan mazhab hukum. “Ia percaya pada kekuatan kata-kata yang tulus untuk menyelesaikan masalah, bukan pada intervensi asing,” tegasnya.
Kini, setelah gugurnya Sayyid Hassan Nasrallah, Sheikh Qassim dihadapkan pada tugas menjaga warisan perjuangan dan mengembangkannya ke masa depan. “Saya yakin beliau akan melanjutkan jalan ini dengan keteguhan yang sama, karena hubungan spiritual dan koordinasi beliau dengan syahid Sayyid Hassan telah terbina selama puluhan tahun,” ungkap Ali Jaber.
Masa Depan Perlawanan
Di tengah tantangan regional dan internasional, kepemimpinan Sheikh Naim Qassim menjadi penentu arah masa depan Hizbullah dan gerakan perlawanan Islam. “Beliau bukan hanya penerus, tapi juga pembaru,” pungkas Ali Jaber. “Dengan kepemimpinannya, saya percaya masa depan Lebanon dan perlawanan akan tetap kokoh dan menjanjikan.”
