Akal-akalan Trump Rehabilitasi Citra Israel: Masukkan Kazakhstan ke Kesepakatan Normalisasi dengan Tel Aviv
POROS PERLAWANAN – Mengutip dari pejabat yang memiliki informasi, Axios mengeklaim bahwa Presiden Kazakhstan diperkirakan akan mengumumkan bergabungnya negaranya ke dalam kesepakatan yang disebut “Abraham Accords”, yang bertujuan menormalisasi hubungan dengan rezim Israel selama pertemuannya dengan Donald Trump hari ini.
Diberitakan Fars, meskipun Kazakhstan, sebagai negara mayoritas Muslim di Asia Tengah, telah menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Israel selama lebih dari 30 tahun, langkah ini diambil dengan tujuan menghidupkan kembali Perjanjian Abraham.
Seorang pejabat senior AS menyatakan bahwa langkah ini dirancang untuk memperkuat kerangka kerja sama antara Israel dan negara-negara Arab serta Muslim.
Para pejabat AS mengatakan, pengumuman ini dianggap sebagai langkah pertama dalam memperbaiki posisi Israel di dunia Arab dan negara-negara Muslim setelah perang Gaza. Mereka percaya bahwa menambahkan lebih banyak negara mayoritas Muslim ke dalam Perjanjian Abraham dapat memperkuat”legitimasi internasional Israel.”
Bulan lalu, Trump mengatakan kepada Axios bahwa perang di Gaza telah “sangat mengisolasi Israel.” Ia berkata bahwa salah satu prioritasnya adalah mendapatkan dukungan internasional untuk Tel Aviv.
“Ini akan menunjukkan bahwa Perjanjian Abraham adalah sebuah klub yang banyak negara ingin menjadi bagiannya,” komentar seorang pejabat AS soal ini.
Axios menulis, pengumuman itu sendiri bukanlah perkembangan besar, karena tidak ada sejarah konflik antara Israel dan Kazakhstan, juga tidak ada pembatasan perjalanan atau perdagangan bagi warga Israel di Kazakhstan.
Bagi Pemerintahan Trump, tujuan utama adalah membawa pemain regional besar seperti Arab Saudi atau bahkan Suriah ke dalam perjanjian tersebut, yang tentu saja akan jauh lebih sensitif dan sulit secara diplomatik.
Diharapkan bahwa selama pertemuan antara Trump dan Presiden Kazakhstan, juga akan dilakukan panggilan telepon kepada PM Israel, Benjamin Netanyahu. Niat Kazakhstan untuk bergabung dengan perjanjian ini akan diumumkan.
Seorang pejabat lain menambahkan, Trump ingin mengadakan upacara penandatanganan resmi di Gedung Putih dengan kehadiran para pemimpin Israel dan Kazakhstan.
Pejabat AS telah menekankan bahwa Gedung Putih ingin mempercepat Perjanjian Abraham sebelum kunjungan Putra Mahkota Mohammad bin Salman ke Washington pada 18 November.
Dalam konferensi ekonomi di Miami pada Rabu lalu, Trump, merujuk pada Dubes Saudi untuk AS, Putri Reema binti Bandar, dan mengatakan ia ingin Arab Saudi bergabung dengan perjanjian tersebut.
Meski demikian, pejabat AS mengakui bahwa perjanjian damai antara Arab Saudi dan Israel masih jauh dari terwujud.
