Trump dan Seni Menggambar Sasaran Palsu Setelah Gagal Menembak Sasaran Asli
POROS PERLAWANAN – Konon, ada seorang penembak jitu yang sangat bangga pada keahliannya. Untuk membuktikan reputasinya, dia diminta menembak sasaran. Dia pun melepaskan beberapa peluru. Hasilnya bukan hanya buruk, bahkan sangat buruk. Tak satu pun mengenai target.
Orang normal akan mengakui kegagalan. Orang waras akan berlatih lagi. Akan tetapi, orang yang terlalu congkak untuk kalah biasanya punya cara lain. Dia mendatangi dinding, melihat bekas peluru yang berserakan, lalu menggambar lingkaran di sekelilingnya. Setelah itu, dengan wajah serius, dia menyatakan, “Itulah sasaran sejak awal.” Dan dia, tentu saja, berhasil.
Jika kisah itu terdengar familiar, mungkin karena Donald Trump baru saja mempraktikkannya lagi dari atas podium.
Pidato Trump pada Rabu malam 1 April, pada dasarnya bukan penjelasan perang, bukan pembaruan situasi, dan jelas bukan demonstrasi kendali. Itu adalah seni klasik kekuasaan yang gagal, menggambar sasaran setelah tembakannya meleset jauh.
Sejak awal, perang terhadap Iran dijual dengan target yang besar, tegas, dan sangat khas Washington. Melumpuhkan pertahanan Iran, menghancurkan kemampuan nuklirnya, mematahkan Poros Perlawanannya, dan bila memungkinkan, mendorong perubahan rezim di Teheran. Dalam bahasa yang lebih jujur, semua itu berarti satu hal: Iran harus dibuat tunduk.
Masalahnya, Iran tidak tunduk.
Hingga di situlah Trump mulai memainkan peran si penembak jitu.
Ketika target besar itu gagal dipastikan tercapai, yang berubah bukan hasil perang, melainkan cerita tentang apa yang konon sejak awal ingin dicapai. Tiba-tiba, perubahan rezim bukan lagi tujuan perang. Tiba-tiba pula, perubahan itu disebut secara praktis sudah terjadi.
Logika seperti ini hanya mungkin lahir dari dua tempat. Ruang propaganda, atau ruang orang yang terlalu lama mendengar suaranya sendiri.
Sebab jika perubahan rezim memang bukan sasaran, mengapa perlu repot-repot diklaim telah tercapai? Dan jika memang sudah tercapai, mengapa struktur inti kekuasaan Iran masih berdiri utuh?
Jawabannya sederhana. Trump tidak sedang menjelaskan kemenangan. Dia sedang menggambar lingkaran di sekitar bekas pelurunya yang nyasar.
Bagian paling ironis dari pidato itu justru muncul saat dia berbicara tentang Selat Hormuz. Di sana, untuk sesaat, retorika kemenangan terdengar seperti pengakuan yang nyaris jujur. Trump berusaha mengambil jarak, seolah-olah pembukaan kembali jalur itu bukan lagi urusan utama Amerika.
Padahal justru di sanalah letak kekalahan strategis yang paling sulit ditutupi.
Jika Angkatan Laut Iran benar-benar telah dihancurkan, jika sistem pertahanannya benar-benar telah dipatahkan, lalu mengapa Hormuz masih menjadi persoalan? Mengapa salah satu jalur energi paling vital di dunia itu tetap mampu memicu kecemasan global? Siapa sebenarnya yang masih punya kemampuan mengganggu permainan? Tentu bukan pihak yang berdiri di podium sambil berkata semuanya terkendali.
Trump juga mengeklaim telah menghancurkan kemampuan rudal dan nuklir Iran. Klaim semacam ini sudah terlalu sering dipakai sampai terdengar seperti kaset rusak yang diputar ulang karena kehabisan materi baru. Setiap kali ketegangan memuncak, Washington selalu mengatakan Iran telah dilumpuhkan. Anehnya, tak lama kemudian Iran tetap membalas, tetap menekan, dan tetap memaksa lawan-lawannya berhitung ulang.
Di titik ini, masalah utama Amerika bukan hanya Iran. Masalah utamanya adalah mitos tentang dirinya sendiri.
Selama puluhan tahun, Washington hidup dari satu keyakinan besar, pada akhirnya, mereka selalu bisa memaksakan bentuk akhir permainan. Iran berulang kali merusak keyakinan itu. Bukan karena Iran tak bisa diserang, melainkan karena negara itu, setelah semua sabotase, embargo, pembunuhan, dan tekanan militer, tetap tidak bergerak ke arah yang diinginkan Amerika.
Sampai di titik ini, bagi sebuah imperium, tidak ada penghinaan yang lebih mahal daripada menyadari bahwa seluruh alat tekanannya ternyata gagal menghasilkan kepatuhan.
Itulah sebabnya pidato Trump terdengar begitu ironis. Dia tidak berbicara seperti pemenang. Dia berbicara seperti orang yang tahu tembakannya meleset, tetapi terlalu sombong untuk mengakuinya.
Maka dia melakukan apa yang selalu dilakukan kekuasaan saat realitas tidak lagi patuh. Mengecilkan target, membesar-besarkan serpihan hasil, lalu berharap dunia terlalu lelah untuk membedakan kemenangan dari akrobat bahasa.
Kalau diperas sampai tinggal intinya, pidato itu sebenarnya sangat sederhana. Amerika gagal mematahkan Iran. Israel gagal menutup permainan. Sedangkan Trump, seperti penembak jitu dalam kisah tadi, hanya sedang sibuk menggambar sasaran palsu di sekitar bekas kegagalan target aslinya.
