IRGC Hantam Infrastruktur Oracle di UEA, Ketegangan Iran-AS Kian Terbuka
POROS PERLAWANAN – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis mengumumkan telah menyerang pusat data dan infrastruktur komputasi milik raksasa teknologi Amerika Serikat, Oracle, yang berlokasi di Uni Emirat Arab (UEA). Serangan itu disebut sebagai aksi balasan atas pembunuhan terbaru terhadap warga Iran.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat 3 April, bagian Humas IRGC menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons langsung terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai “operasi teroris” yang menargetkan warga Iran.
“Seperti yang telah kami peringatkan, sebagai tanggapan atas pembunuhan warga Iran, kami akan menargetkan perusahaan intelijen, teknologi informasi, dan kecerdasan buatan yang merupakan pilar operasi teroris musuh,” demikian bunyi pernyataan IRGC, seperti dilansir Press TV.
IRGC menyebut serangan terhadap Oracle merupakan bagian dari pola pembalasan yang telah mereka jalankan sebelumnya.
“Menyusul penghancuran infrastruktur komputasi awan perusahaan Amerika Amazon sebagai balasan atas pembunuhan Komandan Fathalizadeh, hari ini, pusat data dan infrastruktur komputasi perusahaan Amerika Oracle, yang berbasis di Uni Emirat Arab, diserang sebagai tanggapan atas pembunuhan Dr. Kamal Kharrazi dan istrinya”, tulis IRGC.
IRGC juga mengeluarkan peringatan keras kepada perusahaan-perusahaan lain yang dinilai terlibat dalam tindakan agresi terhadap warga negara Iran.
“Jika kejahatan tersebut terulang dan terjadi pembunuhan lain, kompi berikutnya harus siap menerima respons yang tegas,” bunyi pernyataan tersebut.
Di sisi lain, IRGC menyebut Dr. Kamal Kharrazi, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran, mengalami luka berat dalam serangan, sementara Istrinya dilaporkan gugur.
Kharrazi sendiri merupakan figur senior diplomasi Iran yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode Agustus 1997 hingga Agustus 2005.
Mengapa Oracle Disebut Terlibat?
Dalam narasi IRGC, Oracle diposisikan bukan hanya perusahaan teknologi komersial, melainkan bagian dari ekosistem strategis pertahanan dan intelijen Amerika Serikat.
Oracle selama ini dikenal memiliki keterkaitan kuat dengan kebutuhan komputasi, pengelolaan data, dan keamanan siber bagi lembaga-lembaga Pemerintah AS melalui program seperti Oracle National Security Group (ONSG) serta Oracle Cloud for Government and Defense.
Melalui unit tersebut, Oracle menyediakan layanan basis data, infrastruktur cloud, perangkat lunak perusahaan, dan solusi keamanan siber yang menopang kebutuhan operasional lembaga pertahanan, intelijen, dan instansi Federal sipil Amerika Serikat.
Teknologi basis data Oracle digunakan dalam berbagai sistem penting, mulai dari manajemen personel militer, logistik, inventaris persenjataan, hingga pemrosesan data intelijen sinyal (SIGINT) dan intelijen geospasial (GEOINT).
Perangkat lunak perusahaan itu juga disebut digunakan oleh sejumlah lembaga utama Amerika Serikat, termasuk Badan Keamanan Nasional (NSA), Badan Intelijen Pusat (CIA), Badan Intelijen Pertahanan (DIA), serta seluruh cabang Militer AS untuk mengelola kumpulan data besar yang krusial bagi analisis intelijen, penargetan, dan perencanaan operasi.
Selain itu, infrastruktur cloud Oracle telah memperoleh akreditasi untuk menangani beban kerja rahasia, memungkinkan perusahaan tersebut menyediakan lingkungan komputasi aman bagi Departemen Pertahanan AS dan komunitas intelijen.
Oracle juga tercatat sebagai salah satu peserta penting dalam program Joint Warfighting Cloud Capability (JWCC) Pentagon, sebuah proyek strategis yang melibatkan penyedia cloud besar untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat di berbagai kawasan.
Tak hanya di ranah komputasi awan dan perangkat lunak, Oracle juga memiliki kemitraan jangka panjang dengan Badan-badan Intelijen AS dalam pengembangan analitik data, kecerdasan buatan (AI), dan pembelajaran mesin (ML) untuk kepentingan pengumpulan data intelijen, deteksi ancaman, serta analisis prediktif.
Keterkaitan dengan Israel
IRGC juga menyoroti keberadaan dan aktivitas Oracle di Wilayah Palestina yang Diduduki, yang menurut mereka memperkuat keterlibatan perusahaan tersebut dalam kepentingan strategis blok Barat dan Israel.
Oracle diketahui mengoperasikan pusat riset dan pengembangan di sejumlah lokasi, termasuk Herzliya, Petah Tikva, dan Haifa. Teknologinya disebut digunakan dalam sistem komando dan kendali militer, platform analisis intelijen, manajemen logistik, serta infrastruktur komunikasi aman.
Dalam beberapa tahun terakhir, layanan cloud Oracle juga semakin luas diadopsi oleh entitas Militer Israel yang tengah memodernisasi infrastruktur teknologi informasinya.
Perusahaan tersebut dilaporkan terlibat dalam berbagai proyek bersama entitas Militer dan Intelijen Israel, termasuk pengembangan analitik data canggih, perangkat intelijen berbasis AI, serta platform perusahaan dengan tingkat keamanan tinggi.
Pernyataan IRGC ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur digital dan perusahaan teknologi global kini makin sering ditempatkan di garis depan konflik geopolitik. Jika sebelumnya konfrontasi Iran dengan lawan-lawannya lebih banyak berlangsung di ranah militer, diplomatik, atau operasi rahasia, kini pusat data, cloud, dan ekosistem komputasi ikut menjadi sasaran strategis.
