IRGC Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Termasuk F-35 Kedua
POROS PERLAWANAN — Iran kembali melaporkan penembakan jatuh dua jet tempur Amerika Serikat pada Jumat 3 April, termasuk satu pesawat siluman F-35. Insiden ini langsung membantah klaim Presiden AS, Donald Trump yang sebelumnya menyatakan sistem pertahanan udara Iran telah hancur.
Menurut laporan Press TV, IRGC menyebut sistem pertahanan udara yang baru dikembangkan berhasil menjatuhkan sebuah F-35 di wilayah Iran tengah. Dalam pernyataan terpisah, IRGC juga mengumumkan satu jet tempur lain musuh dihantam di selatan Pulau Qeshm dan jatuh di antara Pulau Hengam dan Qeshm, di perairan Teluk Persia.
IRGC menyatakan pesawat yang jatuh di Iran tengah berasal dari skuadron Lakenheath. Pesawat itu hancur total saat menghantam daratan. Nasib pilot, menurut pernyataan tersebut, belum diketahui. Pentagon hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi atas dua insiden yang diumumkan Teheran.
Dalam pernyataannya, IRGC secara terbuka membantah klaim Gedung Putih yang menyebut sistem pertahanan Iran telah dihancurkan. Mereka menegaskan kemampuan pertahanan udara Iran masih aktif dan efektif menghadapi operasi udara Amerika.
“Menyusul klaim palsu dari Presiden AS yang pembohong mengenai kehancuran total pertahanan udara IRGC, beberapa saat yang lalu sebuah jet tempur canggih musuh dihantam di selatan Pulau Qeshm oleh sistem pertahanan udara canggih modern Angkatan Laut IRGC, di bawah kendali jaringan pertahanan udara terpadu negara itu”, tulis IRGC.
Kerugian ini tidak bisa dianggap kecil. F-35 selama ini dipromosikan sebagai simbol supremasi udara AS, bukan hanya pesawat tempur biasa. Kehilangan satu unit saja sudah menjadi kerugian strategis dan psikologis. Kehilangan dua unit dalam waktu berdekatan menjadi tamparan telak bagi citra militer Amerika di tengah konflik yang terus memanas.
IRGC mengaitkan insiden terbaru ini dengan peristiwa 11 Maret lalu. Saat itu mereka menembak jatuh sebuah F-35 AS di wilayah udara Iran tengah. Sejumlah laporan media Barat setelah peristiwa tersebut memang mengindikasikan adanya pesawat tempur AS yang mengalami kerusakan serius. Namun narasi resmi Washington cenderung bergerak hati-hati dan minim detail.
Teheran juga menyebut Pentagon terus menutupi skala kerugian udara yang dialami AS selama perang berjalan. Dalam banyak kesempatan, kehilangan pesawat tempur dan tanker udara oleh Militer AS kerap dibingkai sebagai kecelakaan atau insiden teknis, bukan akibat serangan pertahanan Iran. Satu hal kini sulit dibantah, perang ini tidak bergerak sesuai skenario Washington.
Kali ini yang dipertaruhkan bukan hanya langit Iran, melainkan juga reputasi tempur Amerika di hadapan dunia. Teheran membuktikan mampu menembus, melacak, lalu menjatuhkan pesawat generasi kelima AS. Hingga yang runtuh bukan cuma satu atau dua jet, namun yang ikut retak adalah mitos superioritas udara yang selama ini dijual Barat sebagai sesuatu yang nyaris tak tersentuh.
