Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Ingin Ambil Minyak Iran, Pulau Kharg Jadi Target Operasi AS

POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan opsi untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, sebagai bagian dari strategi menguasai sektor energi Teheran di tengah eskalasi konflik.

Dalam wawancara dengan Financial Times yang dikutip sejumlah media internasional pada Minggu 29 Maret, Trump menyebut pengambilalihan minyak Iran sebagai pilihan yang diinginkan.

“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang di AS mempertanyakan itu,” kata Trump.

Trump juga membuka kemungkinan operasi militer terhadap Pulau Kharg.

“Mungkin kita akan merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan,” ujarnya.

Pulau Kharg merupakan terminal ekspor utama Iran yang menangani sebagian besar pengiriman minyak negara tersebut, menjadikannya target strategis dalam konflik yang berlangsung.

Seiring pernyataan itu, laporan menyebutkan peningkatan kehadiran Militer Amerika Serikat di Kawasan, termasuk penyiapan opsi operasi darat terbatas yang dapat menyasar wilayah pesisir Iran.

Pemerintah Iran merespons dengan memperkuat pertahanan Pulau Kharg, termasuk pengerahan unit militer, sistem pertahanan udara, ranjau, dan drone tempur.

Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi menegaskan kesiapan menghadapi kemungkinan invasi.

“Pasukan Angkatan Darat Iran berdiri teguh di garis depan pertahanan dan akan melumpuhkan musuh,” katanya.

Pihak Teheran juga menegaskan seluruh wilayah negara berada dalam pengawasan ketat militer, dengan kesiapan menghadapi berbagai skenario konflik.

Di sisi lain, sejumlah pejabat dan analis Amerika memperingatkan risiko operasi tersebut. Mantan pejabat kontraterorisme, Joe Kent menyebut rencana pendudukan Pulau Kharg berpotensi memicu dampak serius.

“Langkah ini bisa menjadi bencana dan membahayakan pasukan AS di Kawasan,” ujarnya dalam pernyataan kepada Washington Post.

Ketegangan meningkat sejak serangan Militer AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang diikuti rangkaian serangan balasan Iran ke target militer Amerika dan Israel di Kawasan.

Konflik tersebut turut mengguncang pasar energi global, dengan harga minyak melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Teluk Persia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *