Trump Kembali Gunakan Taktik Biasa dalam Mendeskripsikan Negosiasi dengan Iran
POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali memainkan sandiwara diplomatik yang sudah akrab: menjual optimisme palsu sembari menggertak lawan negosiasi. Dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Norwegia pada Kamis 24 April, Trump menyampaikan gambaran manis tentang negosiasi tidak langsung dengan Iran, namun diiringi ancaman samar yang bernuansa agresi.
Dalam pernyataannya yang dilansir Farsnews Agency pada Jumat 25 April, Trump menyebut dua putaran negosiasi tidak langsung antara Washington dan Teheran; yang digelar di Oman dan Italia, berlangsung dengan “sangat baik”, dan menggambarkan sikap delegasi Iran sebagai “sangat serius”. Namun seperti biasa, setelah mengumbar harapan, ia menyisipkan ancaman: “hanya ada dua pilihan” dalam menghadapi Iran, dan “salah satunya sangat tidak baik”.
Retorika ini, yang mengandalkan dikotomi palsu antara “perdamaian di bawah dominasi AS” atau “konflik yang menghancurkan”, bukanlah hal baru. Selama berbulan-bulan, Trump konsisten menggunakan formula serupa: mengeklaim kemenangan diplomatik yang belum ada, memaksakan tujuan sepihak dengan ancaman militer atau ekonomi, lalu mundur perlahan saat kenyataan geopolitik dan tekanan dalam negeri menghantam ambisinya.
Janji-janji bombastis seperti “menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina dalam 24 jam”, “membebaskan semua sandera di Gaza”, “mengambil alih kembali Terusan Panama”, hingga “memulihkan ekonomi AS melalui perang tarif” telah menjadi semacam daftar keinginan yang lebih sering berubah menjadi beban kegagalan.
Kini, negosiasi dengan Iran tampaknya sedang berada di titik genting. Di satu sisi, Trump mencoba menjaga ilusi kontrol dan narasi penyelamat. Di sisi lain, realitas Kawasan—dari perlawanan rakyat Palestina hingga konsolidasi kekuatan poros anti-AS di Asia Barat—terus mengikis pengaruh retorika kosong Washington.
Dalam bagian lain pidatonya, Trump mengatakan bahwa “keputusan sangat baik mungkin akan segera diambil” terkait Iran, yang bisa “menyelamatkan banyak nyawa”. Pernyataan ini menandakan satu hal: bahkan saat menggembar-gemborkan niat damai, bahasa Trump tetap dibingkai oleh logika dominasi dan kalkulasi utilitarian belaka.
