Trump Ngemis ke Negara Teluk, Minta Setoran Triliunan Dolar untuk Biaya Perang Lawan Iran
POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump disebut mengemis dan menekan negara-negara Teluk Persia untuk menyetor dana dalam jumlah besar terkait eskalasi konflik dengan Iran. Informasi ini disampaikan analis Oman, Salem Al-Jahouri, dalam wawancara dengan BBC Arabic, pada Jumat 20 Maret.
Menurut Al-Jahouri, tekanan diberikan agar negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk mengambil peran lebih besar dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
“Itu sepenuhnya akurat. Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk berada di bawah tekanan signifikan, baik secara militer maupun ekonomi,” ujar Al-Jahouri.
Ia juga menyebut adanya laporan yang beredar mengenai permintaan dana dalam skala besar. “Presiden AS meminta negara-negara GCC menyerahkan sekitar 5 triliun Dolar jika ingin perang berlanjut. Jika ingin konflik dihentikan, mereka diminta membayar sekitar 2,5 triliun Dolar sebagai kompensasi,” katanya.
Tekanan tersebut muncul di tengah dorongan Washington agar negara-negara Teluk meningkatkan keterlibatan dalam konflik regional. Namun, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sebelumnya menyatakan penolakan terhadap perang dan membantah memberikan izin penggunaan wilayah mereka untuk operasi militer.
Di sisi lain, sejumlah laporan menyebut aktivitas Militer Amerika Serikat berlangsung dari wilayah negara-negara Teluk, termasuk penggunaan wilayah udara dalam operasi terhadap Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke target yang terkait Amerika Serikat di Kawasan, termasuk fasilitas energi. Ketegangan ini juga berdampak pada jalur strategis Selat Hormuz, yang memicu gangguan distribusi minyak.
Pembatasan transit di jalur tersebut berdampak pada produksi dan ekspor energi negara-negara Teluk. Sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain dilaporkan mengalami tekanan ekonomi akibat penurunan pendapatan dari sektor energi dan pariwisata.
Laporan Reuters sebelumnya juga menyebut beberapa negara Teluk mulai meninjau ulang investasi luar negeri, termasuk dana dalam jumlah besar yang sebelumnya direncanakan untuk ekonomi Amerika Serikat.
Perkembangan situasi masih dinamis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Kawasan.
