Ukraina, Contoh Negara Sengsara Lantaran ‘Keamanan Impor’ dari Rezim Adidaya
POROS PERLAWANAN – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky dalam cuitannya menulis,”Pertemuan kami di Gedung Putih tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sangat disesalkan bahwa itu terjadi. Sudah tiba waktunya untuk membenahi segala hal. Saya dan tim saya siap bekerja di bawah kepemimpinan kuat Presiden Trump.”
Sepertinya Zelensky telah mengambil sejumlah tindakan signifikan untuk mengambil hati Trump. Dia menyatakan kesiapan negaranya untuk meneken kesepakatan dengan AS. Kesepakatan ini akan memungkinkan Washington mengakses sumber daya alam dan tambang Ukraina “di setiap waktu dengan segala koordinasi yang relevan.” Tawaran ini dipandang sebagai bentuk penyerahan kepentingan nasional Ukraina demi kepentingan AS.
Zelensky berusaha menarik dukungan Trump dengan langkah ini. Namun tampaknya langkah-langkah itu masih belum memadai. Mengutip dari 4 sumber, Kantor Berita Reuters melaporkan bahwa Trump kini “sedang mengincar sebuah transaksi yang lebih besar dan baik dengan Ukraina. Mungkin saja parameter-parameter kesepakatan akan berubah.”
Meski sudah dihina di Gedung Putih di hadapan publik dunia, mengalahnya Zelensky dilatarbelakangi sejumlah alasan. Trump mengancam Zelensky melalui medsos Truth Social. Ia berkata bahwa AS tidak bisa bersabar lagi dengan Zelensky untuk waktu yang lebih lama. Setelah ancaman ini, Ketua DPR AS, Mike Johnson secara terbuka menyatakan,”Saya berharap Presiden AS membuat Zelensky sadar dan membuatnya kembali ke meja perundingan setelah minta maaf dan berterima kasih. Kalau tidak, maka Ukraina akan dipimpin orang lain.”
Menyusul ancaman terbuka AS, anggota Parlemen Ukraina, Oleksandr Dubinsky mengajukan permohonan resmi kepada Ketua Parlemen untuk memulai proses interpelasi Zelenksy. Dubinsky meminta pembentukan rapat luar biasa di Parlemen untuk mengkaji peluang membentuk Komite Khusus guna menyelidiki kinerja Zelensky.
Yang perlu dicamkan adalah, Pemerintah AS memperlakukan seorang Presiden negara lain seperti perlakuan seorang direktur kepada pegawainya. Menukil dari beberapa sumber anonim, CNN mengungkap bahwa para pejabat AS meminta dari pejabat Ukraina agar segera mengembalikan perundingan ke jalur utama sebelum pidato Trump di Kongres. Mereka mendesak Zelenksy meminta maaf dari Trump secara terbuka.
Saat ini, Ukraina di bawah Zelensky berada dalam kondisi mengenaskan. Negara ini terlibat dalam perang yang tujuannya adalah memperluas NATO hingga perbatasan Rusia; perang yang tampaknya tidak berkaitan dengan kepentingan rakyat Ukraina. Perang ini terjadi meski sudah ada sejumlah kesepakatan, seperti Perjanjian Minsk, yang secara jelas menjaga Ukraina tetap di luar koridor NATO.
Zelensky telah menggadaikan masa depan negara dan rakyatnya dengan janji-janji Barat yang dipimpin AS. Dengan tindakan ini, dia telah menyeret rakyatnya ke dalam perang melawan sebuah negara adidaya. Efek dari tindakan ini adalah Ukraina kehilangan 20 persen wilayahnya dan terjebak dalam sebuah krisis mendalam. (al-Alam)
