Iran di PBB: Stabilitas Selat Hormuz Tak Akan Terwujud Selama Agresi Terhadap Teheran Berlanjut
POROS PERLAWANAN — Iran kembali melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan sekutunya tentang situasi keamanan di Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa stabilitas di jalur maritim vital tersebut tidak mungkin tercapai selama tekanan militer dan agresi terhadap kedaulatan Iran terus berlanjut.
Dalam pernyataan resmi di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Said Iravani menegaskan bahwa keamanan Kawasan hanya dapat dibangun melalui penghormatan terhadap hak-hak Iran dan penghentian segala bentuk tekanan sepihak.
Menurut laporan Al Mayadeen, Iravani menyampaikan bahwa stabilitas berkelanjutan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya mensyaratkan diakhirinya agresi terhadap Iran serta penghormatan penuh terhadap kepentingan nasional Republik Islam.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan setelah Amerika Serikat memperketat blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan dan jalur perdagangan Iran. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan langsung yang mengancam stabilitas regional sekaligus keamanan energi global.
Iran menolak tuduhan bahwa langkah-langkahnya di Kawasan mengganggu pelayaran internasional. Sebaliknya, Teheran menegaskan bahwa selama ini pihaknya berperan aktif menjaga keamanan maritim di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Iravani menekankan bahwa Iran secara konsisten membela kebebasan navigasi serta menjamin keamanan lalu lintas laut di Kawasan. Ia menegaskan bahwa kebijakan Iran diarahkan untuk memastikan kapal-kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Sikap tersebut sekaligus menempatkan Iran sebagai aktor sentral dalam menjaga salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Selat Hormuz diketahui menjadi titik vital bagi distribusi minyak global, sehingga setiap eskalasi di Kawasan dapat berdampak luas terhadap pasar internasional.
Dalam keterangannya, Iravani juga mengutuk blokade Angkatan Laut AS yang menurutnya merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan Iran. Ia menilai Washington harus bertanggung jawab atas tindakan yang bertentangan dengan hukum internasional dan atas potensi konsekuensi yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut.
Langkah yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump itu menargetkan kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran, sebagai bagian dari upaya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Namun, langkah represif tersebut justru dipandang memperbesar risiko bentrokan militer di kawasan Teluk.
Meski berada di bawah tekanan, Iran menegaskan bahwa aktivitas ekspor energinya tetap berjalan. Kapal-kapal tanker Iran masih berhasil menyalurkan minyak mentah melalui Laut Oman meskipun blokade diberlakukan oleh AS.
Bahkan, sekitar 11 juta barel minyak disebut berhasil dikirim menuju pasar tujuan setelah blokade berlangsung. Fakta ini menunjukkan bahwa Iran masih mampu mempertahankan jalur ekspornya sekaligus menepis upaya isolasi ekonomi yang dilakukan Washington.
Di sisi lain, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengeluarkan peringatan bahwa keamanan pelabuhan di Teluk dan Laut Oman merupakan persoalan bersama. Menurut pernyataan mereka, ancaman terhadap pelabuhan Iran akan berdampak pada seluruh keamanan maritim Kawasan.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa Teheran memandang tekanan terhadap infrastrukturnya sebagai ancaman regional yang bisa memicu gangguan lebih luas di jalur pelayaran utama.
Melalui pernyataan di PBB ini, Iran menegaskan bahwa stabilitas Selat Hormuz tidak dapat dibangun melalui tekanan militer, melainkan melalui penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara Kawasan. Selama agresi masih berlangsung, potensi eskalasi di perairan strategis itu akan tetap terbuka.
