Washington Post: Stok Rudal Pentagon Menipis, Opsi Serangan ke Iran Berisiko Tinggi
POROS PERLAWANAN — Pentagon menghadapi keterbatasan serius pasokan rudal dan sistem pertahanan saat wacana serangan terhadap Iran mengemuka. Laporan Washington Post menyebut persediaan amunisi penting menipis akibat dukungan militer untuk Israel dan Ukraina, serta operasi berkelanjutan di Timur Tengah.
Menurut leporan Kayhan pada Sabtu 28 Februari, dua sistem kunci pertahanan balistik, yakni Terminal High Altitude Area Defense dan Patriot Missile System, telah digunakan secara intensif. Keduanya menjadi tulang punggung perlindungan pasukan AS dari rudal balistik Iran. Di sisi lain, Angkatan Laut AS menghadapi keterbatasan rudal standar untuk melindungi ribuan personel yang dikerahkan.
Saat Donald Trump mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran, pejabat Militer tertinggi di Pentagon memperingatkan risiko besar akibat kekurangan amunisi dan minimnya dukungan sekutu. Jenderal Dan Keene dalam sejumlah pertemuan di Gedung Putih dan Pentagon menegaskan operasi skala besar akan menghadapi hambatan serius.
Menurut Washington Post, Keene menyoroti terkikisnya stok pertahanan akibat komitmen terhadap Israel dan Ukraina. Ia juga mengingatkan kompleksitas aksi serangan terhadap Iran serta potensi korban jiwa di pihak Amerika.
Pandangan Keene dinilai memiliki bobot signifikan di internal Pemerintahan karena rekam jejaknya dalam mengawasi operasi terhadap fasilitas nuklir Iran dan invasi ke Venezuela. Seorang mantan pejabat Departemen Pertahanan mengatakan penghancuran program rudal Iran memerlukan penargetan ratusan lokasi di negara yang luasnya lebih dari tiga kali Irak. Jika tujuan berubah menjadi pergantian rezim, target bisa mencapai ribuan. Aksi semacam itu diperkirakan berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dan membutuhkan volume amunisi jauh lebih besar, dengan risiko pembalasan berat.
Opsi Serangan Terbatas dan Resistensi Sekutu
Trump juga mempertimbangkan serangan terbatas untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Teheran. Namun, dukungan internal tidak solid. Sejumlah pejabat menilai langkah itu berpotensi memicu respons berantai yang sulit dikendalikan.
Sekutu regional pun berhati-hati. Beberapa negara Arab menyatakan tidak akan mengizinkan pangkalan mereka dipakai untuk operasi ofensif. Ancaman balasan Iran terhadap negara pendukung AS memunculkan pertanyaan serius terkait pengamanan wilayah udara dan jalur logistik.
Dari sisi produksi, kendala makin nyata. Amerika Serikat hanya memproduksi beberapa ratus unit sistem pertahanan seperti THAAD dan Patriot per tahun, jauh dari kebutuhan aksi serangan besar. Rudal Angkatan Laut seperti SM-2, SM-3, dan SM-6 telah digunakan cepat dalam operasi pengamanan pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi serta dukungan pertahanan Israel.
Mackenzie Eaglen dari American Enterprise Institute menyatakan kompleksitas teknis dan kapasitas industri membuat penggantian rudal memerlukan waktu dua tahun atau lebih. “Tidak ada solusi cepat,” ujarnya.
Peneliti senior di Cato Institute yang baru meninggalkan Pentagon, Catherine Thompson memperingatkan Amerika “tidak siap menyediakan sumber daya untuk konflik simultan”, dan konflik berkepanjangan dengan Iran akan menuntut pengorbanan signifikan terhadap kepentingan prioritas lain.
Situasi ini menempatkan Washington dalam dilema strategis. Serangan besar berisiko tinggi secara militer dan politik. Serangan terbatas pun membawa potensi eskalasi. Sementara itu, stok amunisi terus tergerus dan waktu produksi tidak bisa dipercepat hanya dengan retorika.
